Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Guru SD Dapat Tunjangan Daerah Terpencil 

Ani Nunung Aryani
WAKIL Wali Kota Cirebon Eti Herawati yang juga Bunda Literasi Kota Cirebon memberikan motivasi kepada siswa-siswi SDN Lebakngok, saat acara jelajah literasi yang digelar belum lama ini. Puluhan guru Sekolah Dasar (SD) di wilayah paling selatan dan paling atas Kota Cirebon, bakal mendapatkan tunjangan tambahan yang disamakan dengan wilayah daerah terpencil.*/ANI NUNUNG/PR
WAKIL Wali Kota Cirebon Eti Herawati yang juga Bunda Literasi Kota Cirebon memberikan motivasi kepada siswa-siswi SDN Lebakngok, saat acara jelajah literasi yang digelar belum lama ini. Puluhan guru Sekolah Dasar (SD) di wilayah paling selatan dan paling atas Kota Cirebon, bakal mendapatkan tunjangan tambahan yang disamakan dengan wilayah daerah terpencil.*/ANI NUNUNG/PR

CIREBON, (PR).- Puluhan guru Sekolah Dasar (SD) di lima wilayah paling selatan dan paling atas Kota Cirebon bakal mendapat tunjangan tambahan yang disamakan dengan wilayah daerah terpencil. Kelima SD tersebut masuk wilayah Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, antara lain SDN Cadasngampar, Sumurwuni, Lebakngok, Silih Asah 1 dan Silih Asah 2.

Tambahan tunjangan wilayah terpencil yang nilainya sebesar Rp 300 ribu per bulan, bakal mulai diterima bulan April mendatang. Tambahan tunjangan tersebut diberikan dengan pertimbangan beban guru yang berat. Hampir setiap hari guru-guru di lima sekolah tersebut harus dari pintu ke pintu, menjemput siswanya agar mau sekolah. Padahal wilayah paling selatan Kota Cirebon tersebut topografinya naik turun, karena wilayah perbukitan.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Arief Kurniawan, tambahan tunjangan guru daerah terpencil untuk 39 guru berstatus PNS, di lima SD berdasarkan pertimbangan beban tambahan yang harus ditanggung guru di lima sekolah tersebut.

Dikatakan Arief, meski masuk wilayah perkotaan, namun kesadaran bersekolah di wilayah tersebut masih rendah. Sebenarnya, untuk wilayah Kecamatan Harjamukti masih banyak kekurangan SD, terutama di wilayah Kelurahan Argasunya. “Namun saat ini saja, kondisi di lima SD wilayah atas, kesadaran bersekolah masih rendah,” katanya.

Sedangkan untuk SMP masih kekurangan paling tidak lima SMP dan SMA paling tidak membutuhkan tiga SMA lagi. “Untuk kebutuhan SMA, kami sudah mengajukan ke Pemprov Jabar,” katanya.

Diakui Arief, faktor penyebab utamanya memang karena keterbatasan ekonomi, sehingga membuat anak lebih memilih membantu mencari nafkah ketimbang sekolah. “Guru-guru di sana hampir setiap hari harus menjemput dulu siswanya satu per satu agar masuk sekolah. Tidak jarang kalau di rumahnya si anak sudah tidak ada, guru harus menjemput sampai ke lokasi anak membantu orang tuanya,” katanya.

Akibatnya, kata Arief, jam belajar di lima SD tersebut baru dimulai sekitar pukul 9.00, karena aktivitas tambahan menjemput siswa-siswanya. Dikatakan, payung hukum SK Wali Kota dan Perwakilan untuk mencairkan tunjangan tambahan guru daerah terpencil itu tengah disiapkan.***
 

Bagikan: