Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya berawan, 29.6 ° C

Bermula dari Bencana Alam, Perajin Sapu Ijuk Berkumpul dan Mengembangkan Usaha

Agus Ibnudin
DUA orang pekerja tengah menyisir dan merapikan serat ijuk di Desa Cihaur Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka, Selasa 12 Maret 2019.*/AGUS IBNUDIN/PR
DUA orang pekerja tengah menyisir dan merapikan serat ijuk di Desa Cihaur Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka, Selasa 12 Maret 2019.*/AGUS IBNUDIN/PR

SEKITAR lima kilometer selepas pusat Kota Maja menuju Banjaran di Kabupaten Majalengka akan bertemu sebuah kawasan sejuk dan tertata. Perkampungan yang kerap digadang-gadang sebagai salah satu sentra kerajinan sapu ijuk itu adalah Blok Garatengah, Desa Cihaur, Kecamatan Maja.

Sejumlah perajin terlihat tengah mengerjakan aktivitasnya, mulai dari menyisir ijuk dan merapikannya. Sebagian perajin lain tengah merangkai ijuk menjadi sapu.

“Dalam satu hari, mampunya paling banyak membuat 80 buah sapu,” ujar seorang perajin Ny. Tasih (46) saat ditemui di area kerjanya, Selasa 12 Maret 2019.

Di tempat itu terdapat sejumlah alat pendukung untuk membuat sapu ijuk, seperti sisir besi untuk merapikan serat, tambang plastik untuk mengikat ijuk, dan lakop atau penjepit ijuk yang terbuat dari plastik.

Tasih menuturkan, kegiatan yang ditekuninya tergantung ketersediaan bahan baku. “Bisa setiap hari. Tetapi, biasanya paling ramai Jumat malam, karena pesanan diangkut pada Sabtu,” jelasnya seraya menuturkan, selama ini pesanan terbesar berasal dari Rajagaluh.

Jumlah yang dikirim ke Rajagaluh pada setiap Sabtu konon mencapai lebih kurang 800 buah. Itu berasal dari sejumlah perajin di sana.

Di jalan raya Garatengah sendiri tampak berjejer tumpukan atau gulungan ijuk. Selain untuk bahan baku pembuatan sapu, juga ada yang dijual per gulungan.

Menurut perempuan yang pernah berkiprah di Kota Kembang Bandung ini, maraknya kegiatan kerajinan sapu ijuk di Garatengah tidak lepas dari peran warga Dusun Cigintung di Desa Cimuncang Kecamatan Malausma. Waktu itu, pada 2013, di sana terjadi bencana alam.

Beberapa warga yang di Cimuncang dikenal sebagai perajin ijuk dan masih memiliki hubungan kerabat itu ada yang pindah ke Garatengah. Dan, di tempat baru itu mereka mengembangkan kerajinan sapu ijuk.

Enam pengelola

Saat ini, sedikitnya ada enam pengelola yang berkecimpung dalam usaha seputar ijuk, seperti H. Daud, H. Dodo, Aud, H. Yayah, Iwan, dan Uum.

Meskipun soal ijuk, tetapi tidak semua mengerjakan kerajinan sapu ijuk. Ada di antar mereka yang hanya menyediakan bahan bakunya. “Serat ijuk ini ‘kan’ banyak manfaatnya, mulai dari dibuat sapu, sikat, untuk ‘septic tank’, bahan atap, hingga tali. Bahkan, dapat juga untuk membantu dalam pembenihan ikan di kolam,” jelasnya.

Sementara itu, untuk suplai lakop, sejauh ini masih didatangkan dari Cimuncang. Dan, di Cimuncang sendiri mendapat kiriman dari luar Majalengka. “Di Cimuncang, skala-nya sudah besar. Bahkan, kabarnya seorang perajin bisa memproduksi hingga 200 sapu ijuk per hari,” katanya.

Tasih menjelaskan, kerajinan membuat sapu ijuk ini selain merupakan pekerjaan untuk mengisi waktu luang, juga menjadi mata pencaharian tambahan.

Secara terpisah, seorang pekerja lainnya Apam mengungkapkan, produksi dari Garatengah Cihaur ini banyak diambil pemesan dari Rajagaluh.

“Ini berbeda dengan yang di Cimuncang Malausma. Mereka, selain ke Rajagaluh, juga dikirim ke wilayah timur, seperti Kuningan dan Jawa Tengah,” katanya.

Pekerja di bagian penyisiran ijuk Dian menyebutkan, untuk kebutuhan bahan baku serat ijuk, selain memanfaatkan potensi lokal pohon-pohon aren yang berada di wilayah Maja, juga mendapat kiriman dari luar daerah, seperti Kuningan, Ciamis, dan bahkan Bandung.

Berdasarkan catatan, bahan baku ijuk sendiri terdapat pada pangkal daun pohon enau atau aren (Arenga pinnata). Untuk dibuat sapu, serat-serat itu dijalin menjadi satu melalui proses produksi sederhana. Karakteristik ijuk antara lain memiliki lembaran tebal, tetapi tetap lentur.

Patut disadari, sapu ijuk merupakan alat pembersih lantai tradisional atau bersifat “jadul” yang hingga kini ternyata masih banyak digunakan, seperti di rumah, sekolah, dan perkantoran. Selain mudah digunakan, familiar, tentunya sapu ijuk ini ramah lingkungan.

Tidak berlebihan, jika sapu, khususnya sapu ijuk ini tetap menjadi favorit ibu-ibu, meskipun kemajuan teknologi telah banyak menghadirkan beragam jenis “vacuum cleaner”. Sapu ijuk tidak akan lekang oleh zaman.***

Bagikan: