Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Badai petir, 28 ° C

Musim Hujan, Petani Mempercepat Panen

Tati Purnawati
ILUSTRASI Panen padi.*/DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI Panen padi.*/DOK. PIKIRAN RAKYAT

MAJALENGKA, (PR).-  Hujan deras dan terus menerus mengakibatkan sejumlah petani di Desa Panyingkiran dan Biyawak, Kecamatan Jatitujih, Kabupaten Majalengka terpaksa mempercepat panen. Hal ini dilakukan  untuk mencegah kerusakan padi karena  diterjang angin dan  banjir.

Rohim, Opik, dan Aef,  petani di Desa Panyingkiran mengaku terpaksa melakukan panen dini karena hampir sebagian besar tanaman padi rebah terkena angin dan banjir. Akibatnya padi terendam banjir dan lumpur. 

“Kami sudah berupaya mengikat setiap rumpun padi agar tidak rebah karena waktu panen masih beberapa minggu lagi,” kata Rohim kepada Tati Purnawati, wartawan Kabar Cirebon.

Aef menambahkan, sekarang bulir padi hitam karena terendam lumpur. Akibatnya harga anjlok.

Hujan yang terus menerus pun mengakibatkan petani sulit menjemur gabah. Padi yang biasanya bisa kering dalam waktu empat hari kini masih basah.

Harga gabah anjlok

Akibat cuaca buruk dan kondisi gabah yang kurang baik karena terendam lumpur, serta memasuki musim panen, kini harga gabah mulai merosot tajam hingga di kisaran Rp 470.000 per kwintal. Padahal dua minggu sebelumnya harga gabah masih di kisaran Rp 600.000 hingga Rp 610.000  per kwintal.

Karena harga mersosot tajam, banyak petani yang terpaksa menjual gabahnya ketika masih basah begitu panen usai. Sebagian menjual seharga Rp 440.000 malah yang kondisi gabahnya hitam dijual Rp 430.000 per kwintal.

“Para petani pada saat panen rendeng memang punya kebiasaan langsung menjual gabah karena sulit menjemur. Selain itu pada tahun ini kondisi gabah juga kurang baik,  rebah,” kata Rohim.

Petani  hanya bisa menyisakan padi untuk makan. Selebihnya  langsung dijual untuk biaya menggarap pada musim tanam kedua serta menghindari semakin merosotnya harga gabah di tingkat petani. ***

Bagikan: