Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 17.3 ° C

Buruh Migran Banyak yang Hilang Kontak

Tati Purnawati

ILUSTRASI buruh migran asal Indonesia.*/KABAR BANTEN/PR
ILUSTRASI buruh migran asal Indonesia.*/KABAR BANTEN/PR

MAJALENGKA,(PR).- Gabungan Aliansi Rakyat Daerah untuk Buruh Migran Indonesia (KKBMI) Kabupaten Majalengka mencatat ada 10 kasus atau pengaduan dari keluarga buruh migran asal Kabupaten Majalengka di tahun 2019, dengan beragam persoalan yang salah satunya hilang kontak selama 22 tahun.

Menurut keterangan Raida dari Garda BMI, jumlah tersebut kasus yang diterima pihak Garda BMI di tahun 2019, sedangkan di tahun 2018 mencatat sebanyak 15 kasus. Kini para buruh migran ini butuh bantuan hukum bagi yang mengalami persoalan hukum di tempat kerjanya, pemulangan serta pencarian terhadap mereka karena kehilangan kontak. TKI yang menghadapi masalah tersebut kebanyakan bekerja di Arab Saudi, Malaysia dan Abudhabi.

Kebanyakan di antara mereka yang mengalami persoalan di tempat kerja adalah buruh yang berangkat ke luar negeri tanpa melalui prosedur yang benar, selain itu mereka berpindah-pindah majikan sehingga menyulitkan  pengurusan.

Kasus terakhir yang dicacat oleh Garda BMI adalah meninggalnya seorang buruh migran Acih bin Asro (63) waga Desa Cidulang, Kecamatan Cikijing dinyatakan meninggal di RS Al Nor Makkan setelah 17 tahun bekerja di Makkan. Dia meninggal akibat terjatuh di kamar mandi.

“Sangat banyak persoalan yang dihadapi buruh migran, kami terus berupaya melakukan komunikasi dengan BNP2TKI ataupun Kementrian Luar Nageri dan BNP2TKI untuk penanganannya,” kata Raida.

Menurut keterangan Sekretaris Desa Cidulang, Kecamatan Cikijing, Ardi Dian Pebrian, Senin 4 Maret 2019 informasi meninggalnya Acih, diterima keluarga dan pihak desa pada awal  Februari lalu dari Kementrian Luar Negeri.

“Ketika itu petugas dari Kementrian Luar Negeri menyebutkan  bahwa Acih jatuh di kamar mandi dan menjalani perawatan di Rumah Sakit setempat, namun kemudian dia meninggal akibat pendarahan di kepala,” ungkap Ardi.

Kebetulan menurutnya, adik korban Eti juga bekerja di Mekah serta salah satu anaknya juga tengah bekerja di Riyadh, sehingga mereka yang mengurus kematiannya, serta memutuskan untuk dimakamkan di Mekah.

Acih sendiri sudah belasan tahun bekerja di Arab Saudi dan terakhir pulang ke Cidulang pada tahun 2.000 lalu. “Dia terbiasa pulang pergi bekerja di Arab Saudi dan tinggal di majikan yang sama,” ungkap Sekretaris Desa.

Di desanya kini ada sekitar 300 orang dari jumlah penduduk sebanyak 7.000 orang yang bekerja di Arab Saudi. Mereka biasa pulang pergi ke Arab untuk mencari nafkah buat keluarganya.

“Di desa kami sangat banyak yang bekerja di Arab Saudi ini, 300 orang itu yang saat ini bekerja,“ tambah Ardi.

Sementara itu Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka menerima tiga menyangkut TKI selama kurang lebih sebulan terakhir, satu diantaranya meninggal dunia. Karena menglami depresi yang bersamngkutan menceburkan diri ke dan jenazahnya tidak ditemukan. Dia adalah Engkon warga Girimulya, Kecamatan Banjaran berangkat melalui PT Bahari.

Selain itu TKI Juju Juniah yang bekerja di Arab Saudi, namun belum diketahui asal tempat tinggal yang bersangkutan di Majalengka.***

Bagikan: