Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

Curah Hujan Tinggi di Jawa Barat, Waspadai Pergerakan Tanah

Dewiyatini
Ilustrasi/DOK PR
Ilustrasi/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Potensi terjadinya gerakan tanah meningkat di wilayah Jawa Barat dan Banten. Hal itu dikarenakan curah hujan yang kembali meningkat setelah turun di Januari dan Februari. 

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Agus Budianto menyebut gerakan tanah itu dipengaruhi faktor curah hujan, geologi, dan infrastruktur yang dibangun di atasnya. Sehingga, ketika curah hujan tinggi, maka potensi gerakan tanah juga cukup tinggi.  

"Sebenarnya bulan Maret ini potensi gerakan tanah masih tetap sama dibanding bulan Februari, hanya terjadi peningkatan potensinya di Jabar dan Banten," ujarnya pada Minggu 3 Maret 2019.

Dikatakan Agus, hampir di semua wilayah Jawa Barat mengalami peningkatan potensi pergerakan tanah, terutama wilayah tengah hingga selatan. Apalagi di wilayah yang menjadi langganan hujan seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta tengah sampai selatan, Bandung Barat, Kota Bandung, Garut , Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, Ciamis, dan Pangandaran.

Agus menyebutkan, puncak musim hujan diperkirakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu dari Desember hingga Februari. Akan tetapi berdasarkan prakiraan dari Badan Geologi, kata Agus, di Jawa Barat yang sempat menurun curah hujannya di Januari 2019, kembali akan meningkat di Maret.

"Data kami menunjukkan memasuki bulan April hingga Agustus curah hujan akan menurun secara umum. Mungkin ini juga dampak dari musim kemarau 2018 yang cukup panjang," ucapnya.

Antisipasi

Menurut Agus, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi pergerakan tanah. Pertama, hindari membangun rumah di jalur air. Jika jalur air semakin terjal, maka potensi pergerakan tanah semakin tinggi. Kedua, lihat kemunculan mata air baru. Biasanya, mata air baru ini ada karena ada rekahan baru. 

Ketiga, lihat kejernihan air di mata air lama. Bila air mulai berubah menjadi keruh, berarti ada erosi di balik permukaan. Indikator lainnya, kata Agus, memperhatikan kemiringan pohon dan tiang listrik yang menandakan adanya pergerakan tanah.

Akan tetapi, bila sudah telanjur tinggal di daerah jalur air, Agus menyarankan harus mampu mengenal pergerakan jalur air. Ia mengimbau kembali warga untuk menggiatkan piket Siskamling guna memantau pergerakan jalur air. Piket itu, selain memantau pergerakan air, juga mengecek pemukiman di daerah belokan sungai. 

Berikutnya, mencarikan jalur air ke wilayah yang lebih landai. Caranya dengan membuat dinding penahan air di jalurnya. Dinding itu dibuat seperti lereng sehingga air tidak terakumulasi ke satu tempat. Jalur juga dibuat secara terasering sehingga mampu mengurangi kekuatan air. 

"Yang terpenting, kita mengenali jalur dan sejarah wilayah. Wilayah-wilayah dengan sejarah tanah lunak, karang, timbunan, dan bekas danau, itu berpotensi tinggi. Maka kita dapat menentukan langkah antisipasi mengendalikan jalur air," ujarnya.***

Bagikan: