Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 19.4 ° C

NU Kejar Ketertinggalan dalam Pendidikan

Sarnapi
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma'ruf Amin (kiri) Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kiri) berdoa bersama pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma'ruf Amin (kiri) Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kiri) berdoa bersama pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.*/ANTARA

BANJAR, (PR).- Nahdlatul Ulama (NU) berupaya mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan dibandingkan dengan ormas Islam Muhammadiyah. Sampai saat ini NU memiliki 256 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, namun kelemahannya berstatus perguruan tinggi kecil dengan 75 persennya program keagamaan.

"Kalau membandingkan dengan Muhammadiyah, maka kondisi pendidikan NU saat ini ibarat Muhammadiyah awal tahun 2000-an," kata Ketua Pengurus Besar NU bidang pendidikan, Hanif Saha Ghafur, pada Munas Alim Ulama NU dan Konferensi Besar NU di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jumat, 1 Maret 2019.

Menurut Hanif, PBNU menargetkan semua provinsi memiliki universitas atau institut. Sedangkan kabupaten/kota dengan memiliki sekolah tinggi atau akademi komunitas.

"Dari 34 provinsi di Indonesia hanya Kalimantan Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam yang belum memiliki universitas. Perguruan tinggi di NU kami arahkan ke program Iptek sehingga tak sebatas keagamaan," katanya.

SUASANA sidang komisi program dan rekomendasi Munas alim ulama NU di Pesantren Miftahul Huda Citangkolo, Banjar, Kamis, 28 Februari 2019.*/SARNAPI/PR

Hanif mengakui, dari 256 perguruan tinggi di NU sebanyak 75 persennya merupakan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kemenag. "Ukuran perguruan tinggi NU juga kecil-kecil dengan jumlah mahasiswa di bawah 1.000 orang. Lembaga kecil-kecil ini karena dibangun yayasan maupun pesantren sehingga kemampuannya juga terbatas," katanya.

Hanya, Hanif memaklumi kondisi ini karena universitas Muhammadiyah juga awalnya lembaga kecil bahkan kuliahnya menumpang di SD, SMP, atau SMA Muhammadiyah. "Seperti Universitas Muhammadiyah Malang pada awal berdiri perkuliahannya masih menumpang, tapi saat ini memiliki kampus megah. Saya optimistis kalau perguruan tinggi NU dikelola dengan baik akan bisa mengejar Muhammadiyah," ujarnya.

Apalagi PBNU memiliki komitmen kuat termasuk pendanaan untuk mendukung pengembangan perguruan tinggi. "Seperti di Uninus, Kota Bandung, sudah kami beli dan rencananya akan dikembangkan menjadi perguruan tinggi kebanggaan di Jawa Barat," katanya.***

Bagikan: