Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Umumnya berawan, 17.5 ° C

Citangkolo, Sawo, dan Diponegoro

Sarnapi
PESERTA Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Ulama Nahdlatul Ulama memilih cendera mata yang ditawarkan pedagang di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Kamis, 28 Februari 2019. Nama Citangkolo tiba-tiba terkenal se-Indonesia dengan adanya hajat nasional ini.*/SARNAPI/PR
PESERTA Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Ulama Nahdlatul Ulama memilih cendera mata yang ditawarkan pedagang di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Kamis, 28 Februari 2019. Nama Citangkolo tiba-tiba terkenal se-Indonesia dengan adanya hajat nasional ini.*/SARNAPI/PR

NAMA Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kota Banjar, dalam beberapa hari ini, memenuhi berbagai lini pemberitaan ataupun media sosial. Padahal, sebelum adanya Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Ulama Nahdlatul Ulama, banyak pihak yang belum tahu nama Citangkolo.

Apalagi, setelah Presiden Joko Widodo bersedia hadir di Pesantren Miftahul Huda Citangkolo, ribuan orang tertarik untuk datang.

Untuk mencapai Pesantren Miftahul Huda sebenarnya tidaklah terlalu sulit, apalagi jalanan di Kota Banjar sudah mulus. Hanya, akses kendaraan umum masih terbatas, apalagi jarak pesantren ke Kota Banjar sekitar 10 kilometer.

Di mata Ketua Panitia Munas Alim Ulama NU Wilayah Jabar Kiagus Zaenal Mubarok, terpilihnya Pesantren Citangkolo sebagai tuan rumahnya hajat nasional sebagai berkah bagi Kota Banjar dan Jawa Barat. "Pesantren punya aspirasi dan kami dari PWNU Jabar juga mendukungnya,” kata pria yang akrab dipanggil Kang Deden di Posko PWNU Jabar, Jalan Raya Citangkolo, Kamis, 28 Februari 2019.

Berkah itu, kata dia, bukan hanya dinikmati oleh pesantren, melainkan juga warga, bahkan para pedagang dari berbagai daerah.

”Kami membuka bazar, baik di sekitar pesantren maupun di Alun-alun Banjar, yang diikuti ratusan pedagang. Berbagai barang dan jasa ditawarkan kepada para peserta ataupun pengunjung munas,” tuturnya.

Nama Pesantren Citangkolo juga makin dikenal di Indonesia sehingga tak kalah dengan pesantren NU yang sudah lama dikenal warga, seperti Pesantren Cipasung dan Pesantren Manonjaya di Tasikmalaya. ”Sebenarnya Pesantren Citangkolo lahir sejak era penjajahan Belanda, tapi mungkin masih banyak nahdliyin yang baru pertama kali ke pesantren ini,” ujarnya.

PRESIDEN Joko Widodo menghadiri Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Rabu 27 Februari 2019.*/ANTARA

Perjuangan Pangeran Diponegoro

Cendekiawan muda NU, Iip D Yahya mengatakan, Pesantren Citangkolo yang kini dipimpin oleh KH Munawir Abdurrahim (mustasyar PCNU Kota Banjar) dan sang adik, KH Amin Abdurrohim (Rais PCNU Kota Banjar), tak bisa dilepaskan dari perjuangan Pangeran Diponegoro.

"Dua buah pohon sawo di depan masjid Pesantren Citangkolo menjadi penanda jejaring Diponegoro. Pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) berpencar ke seluruh Jawa, mendirikan pesantren. Kode di antara para mantan prajurit itu adalah dua pohon sawo di depan pesantren,” kata Iip.

Pesantren Citangkolo dirintis oleh Kiai Marzuki (1875-1968) yang hijrah dari Kebumen pada 1911. Ia putra dari Kiai Mad Salam, prajurit Diponegoro yang tinggal di Bulus Pesantren, Kebumen.

"Kiai Mad Salam adalah put­ra Mbah Karyajaya, pengawal Syekh Marwan Ali Menawi, ulama Kebumen yang merupakan keturunan dari Syekh Abdul Kahfi Awal, ulama yang mengislamkan Kerajaan Panjer (Kebumen), semasa dengan Sunan Ampel,” ucapnya.

Sebermula, Citangkolo merupakan daerah rawa yang lokasinya masih bersambung dengan Rawa Lakbok yang terkenal angker serta banyak binatang buas dan siluman. 

”Wilayah inilah yang oleh Bupati Tasikmalaya R Wiratanuningrat dibuka untuk memperluas persawahan. Dibantu oleh Abah Sepuh (KH Abdullah Mubarok) dari Suryalaya, Rawa Lakbok kemudian menjadi lumbung padi,” kata Iip. 

Kehadiran Marzuki muda yang membuka pengajian di Citangkolo direstui dan didukung oleh Bupati Tasikmalaya. Soalnya, pada masa itu, wilayah Banjar dan sekitarnya berada dalam wilayah Kabupaten Tasikmalaya. 

”Musala kecil yang didirikan oleh Kiai Marzuki kemudian dikembangkan menjadi masjid jami pada 1926. Sebelum Marzuki hijrah ke Citangkolo, terlebih dahulu datang Kiai Utsman (1800-1962), prajurit Diponegoro yang berjuang bersama Kiai Mad Salam,” katanya.

Warga Citangkolo merupakan keturunan anggota pasukan Diponegoro yang melarikan diri. Tak heran jika semuanya bersambung silsilah kepada Mbah Utsman.

"Kiai Marzuki menikah dengan Nyai Aisyah binti Utsman. Dari pasangan inilah, lahir Badrun lalu berganti nama Abdurrohim (1911-1997) yang berhasil mengembangkan Pesantren Citangkolo. Pada masa perjuangan, Pesantren Citangkolo menjadi basis pasukan Hizbullah dalam perjuangan melawan Belanda. Dari pasukan Hizbullah inilah asal mula tentara Siliwangi untuk wilayah Banjar dan se­kitarnya,” kata Iip.***

Bagikan: