Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 18.5 ° C

NU Jangan Terlena sebagai Ormas Terbesar di Dunia

Sarnapi
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma'ruf Amin (kiri) Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kiri) berdoa bersama pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma'ruf Amin (kiri) Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kiri) berdoa bersama pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.*/ANTARA

BANJAR, (PR).- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan mantan Mendikbud, Muhammad Nuh menyatakan, NU jangan terlena dengan predikat sebagai ormas Islam terbesar. NU harus bisa beradaptasi dengan perubahan besar di dunia agar tak tenggelam di pusaran perubahan.

"NU harus belajar kepada produk-produk teknologi yang kini menghilang begitu saja. Contohnya dulu Nokia mendominasi pasar telefon seluler, namun kini kemana? Demikian pula dengan kamera dan film Kodak yang kini tergerus zaman," kata Nuh dalam sidang komisi program kerja dan rekomendasi Munas Alim Ulama NU di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Kamis, 28 Februari 2019.

Dia menambahkan, bukan orang yang paling pintar atau paling kuat yang mampu bertahan di era perubahan dahsyat ini. "Mereka yang bertahan adalah yang mampu beradaptasi pada perubahan," kata M. Nuh.

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, kata Nuh, jangan sebatas klaim. "Kalau urusan kebangsaan tak usah dipikir sebab NU sudah menyatakan NKRI sebagai bentuk final Indonesia. NU juga mendukung sepenuhnya bentuk negara kesejahteraan," katanya.

Hal yang masih membutuhkan perhatian serius, kata Nuh, adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umatnya. "NU kini menjelang 100 tahun usianya sehingga harus melihat jauh ke depan pada dekade 100 tahun berikutnya. NU jangan merasa sudah di puncak sebab pasti akan stagnan bahkan turun," katanya.

Sementara Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj mengatakan, Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 mengusung tema "Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah untuk Kedaulatan Rakyat" akan membahas berbagai hal terkait keagamaan dan kebangsaan.

"Meliputi Bahtsul Masail Waqiiyyah (Aktual), Maudluiyyah (Tematik) dan Qonuniyyah (Perundang-Undangan)," kata Saod Aqil.

Masail waqiiyah mencakup bahaya sampah plastik, niaga perkapalan, bisnis money game, dan sel punca. "Sedangkan asail Maudluiyah akan membahas masalah kewarganegaraan dan hukum negara, konsep Islam Nusantara, dan politisasi agama, dan Masail Dîniyah Qanuniyah berupa RUU Anti-Monopoli dan Persaingan Usaha dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual," ujarnya.

Sedangkan di bagian rekomendasi, NU tengah mengkaji agar pemerintah mempertimbangkan kembali pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi defisit pasokan energi dalam jangka panjang. "Pembahasan mulai Selasa sampai Jumat ini dan rencananya Jumat sore akan ditutup Wakil Presiden," katanya.***

Bagikan: