Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

[Laporan Khusus] Biarkan Burung Menjelajah Alam, Hentikan Perburuan dan Hindari Kepunahan

Tim Pikiran Rakyat
BERBAGAI jenis burung dijual di Pasar Sukahaji, Kota Bandung. Berdasarkan pengamat­an Lembaga Swadaya Masyarakat Wildlife Conservation Society (WCS), hampir 80% burung yang dijual di pasar burung adalah burung dari alam. Beberapa burung dengan tingkat keterancaman tinggi masih diperjual­belikan di pasar burung Jabar.*/ADE MAMAD/PR
BERBAGAI jenis burung dijual di Pasar Sukahaji, Kota Bandung. Berdasarkan pengamat­an Lembaga Swadaya Masyarakat Wildlife Conservation Society (WCS), hampir 80% burung yang dijual di pasar burung adalah burung dari alam. Beberapa burung dengan tingkat keterancaman tinggi masih diperjual­belikan di pasar burung Jabar.*/ADE MAMAD/PR

SUARA kicauan burung kerap identik dengan ­nuansa ­alami. Keberadaannya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan orang gemar memelihara ­burung. Di tengah banyaknya pemelihara burung, ­terdapat 168 jenis burung di ­Indonesia yang kini ­terancam punah di alam. Ironisnya, hasil riset ­menyatakan bahwa 80% burung yang diperjualbelikan ­berasal dari alam.

Keindah­an dan merdunya suara burung memancing banyaknya penggemar yang menekuni hobi memelihara dan merawat burung.

Untuk kegemaran yang satu ini, ­aspek yang terlibat bisa jadi sangat beragam, mulai dari sekadar ­aktivitas dalam mengisi waktu luang, faktor ekonomi, ke­ingin­an berkompetisi, hingga ranah konservasi.

”Dulu awalnya iseng coba-coba memelihara burung karena waktu itu memang lagi ada waktu luang. Tapi, ternyata jadi suka,” ujar Sayuti (33), salah ­seorang pegawai swasta yang juga penggemar ­burung, Jumat 15 Februari 2019.

Dia menuturkan, selama ini, dia menge­tahui bahwa di sejumlah daerah, bermunculan kelompok penggemar burung. Ada yang dilatarbelakangi faktor turun-temurun dari orangtua, tapi juga yang melihat ada nilai ekonomi besar pada hobi ini.

KAWANAN burung cangak abu (Ardea cinerea) mencari makan di kawasan bakau Pantai Tiris, Kabupaten Indramayu, Selasa 19 Februari 1019. Habitat ­burung cangak abu di hutan manggrove pesisir Indramayu itu terancam rusak akibat penebangan dan alih fungsi lahan sehingga dikhawatirkan populasi burung tersebut semakin berkurang.*/ANTARA

Kondisi ini memunculkan konsekuensi lanjutan. Burung pada dasarnya merupakan ­satwa yang hidup di alam bebas. Beberapa di ­antaranya tergolong sebagai satwa yang dilindungi.

Dengan banyaknya penggemar burung sekaligus aspek permintaan pasar, di­tengarai perburuan burung di alam bebas pun meningkat. Potensi gangguan ekosistem pun menjadi terbuka.

Setidaknya hal itu ditandai dengan temuan sejumlah ­kasus per­dagangan satwa liar yang dilindungi. Pada Maret 2018 silam, misalnya, tim gabungan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat mengungkap praktik perdagangan satwa yang dilindungi.

Seorang pria ber­inisial RA ditangkap di Ka­bupaten Bandung ­dengan ba­rang bukti, di antaranya lima ekor elang dari berbagai jenis.

Dia mengaku mendapatkan pasokan burung dari Sumatra untuk kemudian diperjual­belikan di Bandung dan sekitarnya. Media sosial menjadi pintu untuk transaksi satwa yang dilindungi tersebut.

”Untuk perdagangan, kami seka­rang juga memantau media sosial karena penjualan ada yang lewat media sosial,” ujar Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan BBKSDA Jawa Barat Rifki Muhammad Sirojan.

Ia menuturkan, upaya untuk mencari dan mendapatkan ­satwa saat ini tidak hanya di­tempuh melalui cara konvensional, mulai dari berburu di alam bebas hingga diperjualbelikan di pasar. Sejalan de­ngan perkembangan tek­nologi, pasar yang dimaksud sudah ber­geser ke ranah digital. Banyaknya pengakses dunia maya, tidak terkecuali pehobi burung, menjadikan media sosial sebagai pintu awal transaksi.

Dari sisi hulu, upaya dilaku­kan dengan pengawasan atau patroli di kawasan konservasi. Hal ini untuk mencegah intervensi dari kalangan pemburu. Pemantauan juga dilaku­kan di sejumlah pintu masuk lalu lintas barang dan orang di Jawa Barat.

Elang jawa jadi perhatian

Berkaitan dengan konservasi, dia mengatakan, salah satu satwa endemik yang menjadi perhatian adalah elang jawa (Nisaetus bartelsi).

Burung jenis ini berada di tiga kawasan konservasi, yaitu Te­laga Warna di Kabupaten Bogor, Kamojang Kabupaten Ga­rut, serta Tangkubanparahu, Kabupaten Bandung Barat. 

Meski tidak menyebut kisaran angka, ia menyatakan bahwa elang jawa ditengarai me­miliki nilai jual tinggi di pasaran.

”Elang jawa ini termasuk yang paling diburu karena sangat langka. Harga­nya juga lebih mahal diban­ding­kan dengan yang lainnya,” kata Rifki.

Oleh karena itu, keberadaannya dipantau dari waktu ke waktu untuk memastikan po­pulasi satwa endemik ini tidak punah karena perburuan ataupun faktor lain, seperti kerusakan ekosistem.

Berdasarkan pemantauan selama empat tahun terakhir, dia mengatakan, populasi elang jawa secara umum cenderung meningkat.

Di Telaga Warna, misalnya, populasi berkembang dari 9 ekor (2014), 11 ekor (2015), 13 ekor (2016), serta 11 ekor (2017). Di Kamojang, popula­sinya 2 ekor (2014), 8 ekor (2015), 8 ekor (2016), dan 9 ekor (2017). Di Tangkubanparahu, populasi elang jawa berkembang dari 3 ekor (2014), 5 ekor (2015), 5 ekor (2016), hingga 6 ekor (2017).

Angka tersebut menunjuk­kan perkembangan positif po­pulasi satwa endemik. Ken­dati demikian, dia mengata­kan, ­upaya terus ­dilakukan untuk memastikan kelestarian dari berbagai potensi gangguan. ”Ancaman terbesarnya per­buruan,” kata Rifki.

Burung yang terancam punah

Organisasi nirlaba Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indo­nesia (Burung Indonesia) merilis data terbaru terkait dengan status burung Indonesia pada awal Februari 2019. 

Berdasarkan hasil kajian ­Bu­­rung Indonesia yang dilaku­kan hingga akhir 2018, ter­dapat enam jenis burung baru yang terdata di Indonesia. Di sisi lain, 168 jenis burung di Indonesia juga dinyatakan terancam punah.

Menurut Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, Ferry Hasudungan, penambahan jumlah jenis ­burung disebabkan adanya ­perubahan taksonomi dan catatan baru untuk Indonesia.

WARGA memburu burung liar menggunakan senapan angin di kawasan rawa Kabupaten Bandung, Sabtu 17 November 2018. Makin masifnya perburuan dan perdagangan burung liar akan mempertinggi tingkat keterancaman hewan tersebut di Jawa Barat.*/ADE MAMAD/PR

Enam jenis yang merupakan catatan baru di Indonesia di antara­nya burung perancah eurasian oystercatcher (Haematopus ostralegus), poksai kepala-botak (Garrulax calvus), jenis burung sikatan zappey’s flycatcher (Cyanoptila cumatilis), sikatan-burik sulawesi (Muscicapa sodhii), cikrak rote (Phylloscopus rotiensis), dan kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea). Menurut Ferry, jenis burung baru hasil kajian Burung Indo­nesia beberapa di antaranya adalah jenis burung migran.

”Pada 2019 ini, ada 1.777 jenis burung di Indonesia, mencakup jenis penetap maupun migran yang berkunjung ke wi­layah Indonesia setiap ta­hun­nya,” ujar Ferry di Kantor Burung In­donesia, di Bogor, pekan lalu.

Meskipun ada penambahan jenis burung, Ferry juga me­nyebut, ada keterancaman po­pulasi burung di Indonesia.

Dari semua jenis burung yang ada di Indonesia, 168 burung dinyatakan terancam punah. Dari 168 jenis tersebut, 30 jenis dinyatakan berstatus kritis oleh Badan Konservasi Dunia, IUCN, 40 jenis dinyatakan berstatus genting, dan 94 jenis burung rentan terhadap ke­punahan di alam.

Ferry juga menjabarkan, terdapat 14 jenis burung yang status keterancamannya me­ning­kat pada 2018.

Sayangnya, terdapat empat jenis burung yang belum mendapatkan status perlindungan dari peme­rintah.

Empat burung tersebut adalah perenjak jawa (Prinia famili­aris), poksai mantel (Garrulax palliatus), dan cucakrawa (Pycno­notus zeylanicus). Sementara, jenis baru, bernama cikrak rote (Phy­lloscopus rotiensis), status keterancamannya belum dievaluasi.

Menurut Ferry, dari ribuan jenis burung yang tercatat di Indonesia, baru 557 jenis burung yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/2018. Dari jenis burung yang dilindungi, terdapat tiga jenis burung yang belum dimasukkan ke dalam daftar terbaru karena daerah sebarannya yang tidak tercatat di Indonesia.

Burung tersebut adalah nasar himalaya (Gyps hima­la­yensis), poksai jambul (Garrulax leucolophus), dan gosong forsten (Megapodius forstenii).

”Kenapa status itu kita ­update terus? Kami ingin melihat status konservasi di Indo­nesia. Kami berharap, burung-burung yang belum masuk dalam kategori perlin­dung­an bisa dimasukkan agar tidak masuk ke dalam kategori kepunahan,” kata Ferry.

Langka dan diburu

Peneliti burung dari Lem­baga Ilmu Pengetahuan Indo­nesia, Dewi M Prawiradilaga, mengatakan, dibandingkan dengan temuan Burung Indo­nesia, temuan burung jenis baru LIPI terbilang masih sedikit.

Selama dua tahun terakhir, peneliti burung LIPI baru menemukan dua jenis burung baru, yakni Myzomela irianawidodoae (suku Meliphagidae, 2017) dan Phy­lloscopus rotiensis Ng (suku Phylloscopidae, 2018). Kedua burung tersebut sama-sama ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

”Phylloscopus rotiensis itu jenis burung pemakan serangga dan Myzomela irianawi­dodoae burung pengisap madu. Untuk temuan jenis ­burung baru, memang tidak bisa ditarget, prosesnya lama, kita harus teliti, dan cari refe­rensi di perpustakaan, kemudian ditelusuri tidak hanya bentuk luarnya, tetapi juga DNA-nya,” ­kata Dewi.

PARA pemotret burung liar yang tergabung dalam komunitas Bandung Birding berupaya memotret burung hutan di daerah pegunungan di kawasan Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*/DOK. PR

Burung temuan anyar tersebut, kata Dewi, juga berpotensi diburu karena memiliki kicau yang merdu. Oleh karena itu, Dewi berharap, burung-burung jenis baru bisa mendapat perhatian untuk dimasuk­kan dalam kategori perlin­dungan.

Dewi juga turut menyesal­kan dikeluarkannya sejumlah jenis burung dari daftar burung yang dilindungi, menurut Peraturan Kementeri­an Ling­kungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/2018.

Burung yang dicoret dalam daftar hewan yang dilindungi adalah cucakrawa (Pycnonotus zeylanicus), anis bentet kecil (Colluricincla mega­rhyncha), dan anis bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis).

Cucakrawa masuk dalam ­kategori terancam punah dan diperkirakan hanya berjumlah 1.600-1.700 di Indonesia.

Sementara anis bentet kecil memiliki ­beberapa anak jenis dengan sebaran terbatas dan endemis di ­pulau-pulau kecil di Papua dan Papua Barat. Sementara, anis bentet sangihe merupakan jenis endemis yang hanya bisa ditemukan di Pegunungan Sahendaruman di ­Pulau Sangihe dengan po­pulasi 92-255 individu sehingga ­dinyatakan berstatus kritis di alam bebas.

”Hewan-hewan ini seharusnya menjadi fokus perlin­dungan pada 2019, tetapi saat ini hanya 557 hewan yang tercantum dalam P.106 yang jadi fokus perlindungan,” kata Dewi. (Joko Pambudi, Windiyati Retno Sumardiyani)***

Bagikan: