Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Ridwan Kamil Meradang Ditanya Urgensi Bangun Sudut Dilan

Bambang Arifianto
GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil menghadiri Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa dan Tasyakur Hari Jadi ke-92 Pesantren Sukamanah di Pondok Pesantren Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 25 Februari 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil menghadiri Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa dan Tasyakur Hari Jadi ke-92 Pesantren Sukamanah di Pondok Pesantren Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 25 Februari 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersikukuh bahwa pembangunan Sudut Dilan di Kota Bandung bermanfaat dan menunjukkan keberpihakannya kepada pengembangan kebudayaan Jawa Barat.

Dengan nada meninggi, ‎ia meminta media massa tak membentur-benturkan persoalan mana yang penting antara  kebudayaan kontemporer dan tradisi.

"Pertanyaanya memberi manfaat atau tidak, itu saja. Kalau memberi manfaat, kenapa tidak," kata Ridwan Kamil seusai menghadiri Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa dan Tasyakur Hari Jadi ke-92 Pesantren Sukamanah di Pondok Pesantren Sukamanah di Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 25 Februari 2019.

Menurut Ridwan Kamil, Sudut Dilan hanya mengambil ruang sudut kecil dari sebuah taman besar yang bermanfaat guna memunculkan budaya literasi.

"Itu kan dari novel menjadi film dan sukses kan, enggak semua sukses. Jadi, kenapa diapresiasi, karena ada simbolis kesuksesan," ujarnya.

Dia menampik lebih mengutamakan budaya kontemporer ketimbang tradisi atau kebudayaan lama. "Kita bikin pusat budaya di Garut, kita bikin pusat budaya di Sumedang, di Ciamis, jadi budaya kontemporer juga dihargai, budaya tradisi juga dihargai," ucapnya.

DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

Nada Ridwan Kamil agak meninggi dan mulai mengarahkan tubuhnya kepada pewarta Pikiran Rakyat yang menanyakan alasannya memilih Dilan dari pada tokoh-tokoh Sunda atau Jawa Barat lain yang berjasa dalam pengembangan budaya.

Pikiran Rakyat sempat memberikan contoh tokoh budaya Sunda seperti pedalangan Asep Sunandar Sunarya yang malah minim apresiasi dari pemerintah asalnya.

"Kan saya bilang hidup itu kan gimana momentum, Anda engga mendengar apa yang saya perbincangan. Saya membangun pusat budaya di semua daerah menandakan keberpihakan gubernur pada budaya itu begitu rupanya," ucap Ridwan Kamil.

Ia pun menggembor-gemborkan rencana pembangunan 27 pusat budaya.

"Di dalamnya nanti ada buat (tokoh) pedalangan Asep Sunandar Sunarya, Anda sebutkan semuanya, kalau diabsen satu-satu engga akan pernah selesai," ujarnya.

DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

Ridwan Kamil kembali mengulang lagi pernyataan sebelumnya. "Tradisi juga kami bela, terbukti kami membangun pusat budaya tahun ini, budaya kontemporer juga dihargai karena itu bagian dari sejarah kita. Jadi, media juga jangan membentur-benturkan seolah ini penting, tidak penting," ucapnya.

Dia menyatakan, budaya kontemporer dan tradisi semuanya penting.

Pikiran Rakyat kembali melempar pertanyaan mengenai sikap Ridwan Kamil yang memberikan keutamaan terhadap film dengan memberikan penanda khusus berupa Sudut Dilan.

Jika berkaca, film-film yang kental dengan budaya Sunda dan Jawa Barat juga ada seperti Preman Pensiun. Namun, Ridwan Kamil memberikan perhatian kepada film yang diangkat dari novel Pidi Baiq tersebut.

Lagi, Ridwan Kamil menjawab dengan nada tinggi dengan sorot mata terhunus tajam.

"Anda teh engga pernah menyimak ya, Anda dengerin, film Bandung mana yang paling sukses," ujar Ridwan Kamil balik bertanya.

Ia lalu bergegas menuju mobilnya. Pikiran Rakyat sempat melempar pertanyaan saat Ridwan Kamil bergegas pergi mengenai hubungan pembuatan Sudut Dilan yang direstui Pemprov dengan kepentingan bisnis film.

Dengan bahasa tubuhnya dan tanpa suara, Ridwan Kamil membantah sembari mengayunkan langkah.

Upaya mengikat konteks

Pengamat sosial dan akademisi Universitas Pasundan Wim Tohari Daniealdi tak habis pikir dengan kebijakan Ridwan Kamil menjadikan Dilan sebagai nama khusus sebuah sudut taman di area GOR Saparua Kota Bandung.

"Ini fenomena yang aneh, kalau sudah dibikin corner (Sudut Dilan), dari (tokoh) fiksi menjadi realitas, itu aneh, ini lebih parah lagi dimonumenkan," ucap Aldi saat dihubungivia telefon.

Menurut dia, monumen atau pelabelan suatu tempat dengan tokoh atau peristiwa tertentu merupakan upaya mengikat konteks agar generasi selanjutnya bisa mengingat atau mengambil hikmahnya.

"Kalau Dilan ini apa, konteks apa, ilmu apa, hikmah apa," ucap Aldi. Jika alasan untuk literasi, kenapa Dilan yang dipilih dan apa yang membuat sosok itu bisa memicu diskusi dan menambah pengetahuan masyarakat.***

Bagikan: