Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 26.8 ° C

Penghancuran Bukit-bukit Kota Tasikmalaya Diikuti Menjamurnya Perumahan di Bekas Lahan Tambang

Bambang Arifianto
SEBUAH perumahan berdiri di bukit area penambangan pasir di kawasan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Selasa (19/2/2019). Penghancuran bukit-bukit oleh penambangan diikuti menjamurnya pembangunan perumahan di bekas area tambangnya./BAMBANG ARIFIANTO/PR
SEBUAH perumahan berdiri di bukit area penambangan pasir di kawasan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Selasa (19/2/2019). Penghancuran bukit-bukit oleh penambangan diikuti menjamurnya pembangunan perumahan di bekas area tambangnya./BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Sejumlah perumahan berdiri di area bekas perbukitan yang habis dikeruk aktivitas penambangan pasir di Kota Tasikmalaya. Kemunculan perumahan tersebut diduga upaya pengusaha tambang menghindari tanggung jawab melakukan reklamasi dan rehabilitasi lahan dengan menghilangkan jejak aktivitas penambangannya.

Tak hanya itu, pengusaha tambang mendapat keuntungan lebih dengan menjual lahan atau mendirikan perumahan setelah sumber daya alam yang dikeruknya habis. "PR" menelusuri beberapa bukit di Kota Tasikmalaya yang telah lenyap dan berganti kawasan perumahan, Selasa 19 Februari 2019.

Kehancuran perbukitan terlihat kasat mata di wilayah Kecamatan Bungursari. Di sejumlah lokasi, bukit-bukit yang dalam bahasa warga lokal disebut gunung tersebut telah rata. Di atas lahan itu, menyembul deretan perumahan seperti di Kampung Bantar, Kelurahan Bantasari, Kecamatan Bungursari. Di sana, sisa bekas bukit hanya berupa tonjolan tanah yang berbatu dengan  posisi lebih tinggi dari deretan perumahan bernama Bahtera Madya Residence.

Beberapa bangunan di perumahan itu tampak telah dihuni. Sementara bangunan yang lain masih dalam pengerjaan. Toyo (57), warga Bantar mengungkapkan, perumahan tersebut berdiri di bekas bukit Gunung Canukur. "Tingginya sekitar 200 meter," ucap Toyo saat ditemui di Kampung Bantar, Selasa siang. Ia masih ingat Canukur dulu dipenuhi pohon kelapa dan jenis pepohonan lain. Ia dan teman-temanya di Bantar kerap naik ke Canukur untuk ngaliwet. Warga pun menanami Canukur dengan tanaman palawija.

Hingga sekitar 1982, bukit itu masih utuh. Bahkan warga menjadi Canukur sebagai lokasi untuk menyaksikan letusan Gunung Galunggung tahun tersebut. Pada 1985, kegiatan penambangan mulai menggerogoti Canukur. Awalnya, aktivitas tersebut dilakukan secara manual atau mengandalkan tenaga manusia.

Lama kelamaan, alat berat berupa backhoe turut masuk dan turut menghabisi bukit itu. Lahan perbukitan tersebut memang dikuasai oleh sejumlah warga. Warga, tutur Toyo, menyewakan lahan kepada pengusaha tambang yang kemudian mereka berbagi hasil. Ia memperkirakan Canukur rata dengan tanah karena terus menerus ditambang pada sekitar 2010. ‎Setelah bukit habis, pemilik lahan menjualnya kepada pengusaha lain yang menyulapnya menjadi perumahan. "Sudah ada sekitar tiga tahun," ucap Toyo terkait munculnya perumahan di lahan bekas Canukur. Kini, dampak hilangnya bukit dirasakan oleh Toyo. "Dulu sejuk sekarang panas," tuturnya.

Pelajar berjalan menuju sebuah perumahan di Kampung Bantar, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Selasa (19/2/2019). Penghancuran bukit-bukit oleh penambangan diikuti menjamurnya pembangunan perumahan di bekas area tambangnya./BAMBANG ARIFIANTO/PR

Tak jauh dari Kampung Bantar, perumahan-perumahan juga bermunculan di bekas bukit. Salah satunya di kawasan Kelurahan Bantarsari dan  Sukajaya, Kecamatan Bungursari. Di sana, terdapat perumahan Wijaya Agape yang terletak persis di tepi jalan. Elon (65), seorang warga menuturkan,  perumahan itu berdiri di lahan pesawahan dan bekas bukit yang telah dikeruk penambangan. "Dulunya itu sawah yang diapit dua bukit," ujarnya. Dia menyebut dua bukit itu bernama Gunung Citaman dan Muncang. Sedangkan pesawahannya bernama Serang Peusar. 

Ketinggian kedua bukit juga diperkirakkan mencapai 200 meter. "Perumahan Agape dibangun masih baru baru ada lima tahun ke belakang," ujar Elon di kediamannya di‎ Kampung Citaman, Kelurahan Sukajaya. Perumahan tersebut berdiri di atas lahan pesawahan yang telah diuruk serta bekas bukit yang telah habis, yakni Gunung Muncang. Sedangan Gunung Citaman tinggal tersisa separuhnya alias bopeng karena terus menerus ditambang. Kehadiran perumahan yang tak memperhatikan persoalan drainase serta hilangnya kawasan bukit resapan air, tutur Elon, berdampak pada genangan air yang mengalir ke jalan. Bila hujan, genangan air pun menjadi banjir yang masuk ke jalan.

Modus pengusaha?

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jabar Dedi Kurniawan menduga pembangunan perumahan merupakan modus pengusaha tambang nakal menghindari kewajiban rehabilitasi dan reklamasi lahan sebagai konsekuensi keluarnya izin penambangan.

"Pembangunan perumahan bukan salah satu proses reklamasi dan rehabilitasi, dan itu jelas pemegang izin tidak mengikuti aturan yang ada," ucap Dedi. Namun, ia tak menampik para penambang ilegal juga berperilaku serupa. Dedi menilai, para pengusaha tambang juga mendapat keuntungan setelah lahannya tambangnya menjadi perumahan. "Mereka jelas diuntungkan tidak mengeluarkan anggaran (untuk reklamasi dan rehabilitasi)," ucapnya. 

Untuk itu, Dedi meminta pemerintah tak mengeluarkan izin pembangunan perumahan di lahan bekas penambangan. Pasalnya, lokasi perumahan itu rawan atau berpotensi bencana. "Baik akibat alih fungsi resapan menjadi bangunan maupun dampak lain terhadap kawasan sekitar atau ketahanan dan keamanan bangunan," ujarnya. Dalam catatan "PR" sejumlah bukit lain yang telah lenyap berganti menjadi perumahan adalah Gunung Pari di kawasan‎  Kampung Pasir Angin Boboko Gunung Tengah, Kelurahan Sukajaya dan Gunung Tani di Kampung Leuwihieum, Kelurahan Sukarindik. Ketiganya berada di Kecamatan Bungursari.***

Bagikan: