Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 30 ° C

Terisolasi, Warga Parentas Kabupaten Tasikmalaya Sulit Berkomunikasi

Bambang Arifianto
Warga mencari sinyal telefon genggam di area gapura kawasan Bukit Pasir Nini, Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (11/2/2019). Tak hanya akses jalan yang buruk, warga Parentas kesulitan berkomunikasi menggunakan telefon genggam karena susah mendapatkan sinyal./BAMBANG ARIFIANTO/PR
Warga mencari sinyal telefon genggam di area gapura kawasan Bukit Pasir Nini, Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (11/2/2019). Tak hanya akses jalan yang buruk, warga Parentas kesulitan berkomunikasi menggunakan telefon genggam karena susah mendapatkan sinyal./BAMBANG ARIFIANTO/PR

REMAJA itu asyik memainkan jemari di permukaan telefon genggamnya sembari duduk di atas jok sepeda motor. Suara sengau Chris Martin, vokalis Coldplay mengalun dari telefon genggamnya tersebut.

Lagu Paradise baru usai berganti Hymn For The Weekend memecah keheningan lokasi itu. Ya, kebiasaan remaja bernama ‎ Fahmi Muhamad Fajari (15) itu tak kalah dari anak-anak muda dari kota.

Ia menggemari lagu-lagu yang tengah ngetren dan juga aktif di media sosial. Namun, aktivitas yang dilakukannya cukup unik lantaran berlangsung di area puncak bukit Pasir Nini, Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.

Lokasi tersebut spesial karena menjadi salah satu titik warga mendapatkan sinyal telefon genggam. Warga Parentas memang kesulitan mendapatkan sinyal di kawasan pemukimannya. Untuk menelfon, mengirim pesan singkat dan berselancar di internet, warga mesti mendaki terlebih dahulu ke Pasir Nini.

Seperti dilakukan Fahmi yang nongkrong di tempat itu setelah tiba menggunakan sepeda motor, Senin 11 Februari 2019. Lokasi favorit warga menelpon dan mengakses internet di Pasir Nini  berada di area gapura Desa Parentas. Selain berada di kawasan perbukitan, gapura itu dikelilingi hamparan ladang warga. Bukit-bukit lain bertonjolan dengan hutan yang yang menaunginya. 

Siang itu, Fahmi membuka aplikasi Facebook sembari mendengarkan lagu-lagu hasil mengunggah di tempat tersebut.

Menurutnya, tempat itu kerap ramai dikunjungi warga saat menjelang sore. Mereka menelpon atau sekadar mengecek pesan singkat yang mampir ke telefon genggamnya. Sementara Fahmi lebih senang mengunggah lagu-lagus kesukaannya dan melihat aplikasi media sosialnya. Kecepatan mengunggah sangat tergantung pada kondisi sinyal.

"Kadang (sinyal) kencang, kadang enggak," ujar Fahmi. ‎Meski harus melalui medan menanjak, ia cukup terbantu dengan masih adanya sinyal yang tertangkap di Pasir Nini. Jika ada tugas sekolah, lanjut pelajar SMPN Satup Atap 2 Cigalontang tersebut mengumpulkan bahan dari internet dengan bermodal nongkrong di Pasir Nini. Demikian pula yang dilakukan teman-temannya yang tak mungkin mengandalkan akses dalam jaringan (Daring) di rumahnya.

Sementara itu, Rika Wulandari (33), Guru SDN Parentas juga asik memainkan telefon genggamnya di tempat yang sama. Rika memeriksa pesan-pesan singkat yang masuk melalui aplikasi WhatsApp. Sebagai guru, Rika kerap mendapatkan pesan-pesan terkait urusan kegiatan mengajar melalui aplikasi tersebut.

Masalahnya, pesan-pesan seringkali diterima Rika terlambat. Ia baru tahu isi pesan yang berasal dari grup gugus atau UPT Pendidikan Cigalontang ketika mengeceknya di Pasir Nini. Seperti siang itu, pesan grup pengajar terkait permasalahan administrasi yang mesti dilengkapi  telah disebar sejak Minggu malam. Rika baru mengetahui Senin siang setelah menyambangi gapura

Parentas. "Yang lain sudah mengerjakan (kelengkapan administrasi), saya baru tahu informasinya sekarang," ucap Rika tergelak. Namun, pihak UPT dann gugus sekolah maklum dengan kondisi tersebut. Letak Parentas yang terpencil dengan akses transportasi yang buruk membuat komunikasi tersendat.

Informasi penting bisa terlambat

Rika memiliki kebiasaan memeriksa isi telefon genggamnya pada siang hari. "Takut ada informasi yang penting," ucapnya. Terkadang, informasi mengenai rapat di Kantor UPT Pendidikan Cigalontang  turut diterimanya terlambat. Jika mengandalkan pemberitahuan melalui surat, hal itu pun sulit dilakukan karena buruknya akses jalan dari Singaparna menuju Parentas.

Waktu tempuh bisa mencapai dua jam dengann jarak 30 kilometer. Sedangkan kantor dinas pendidikan berada di Mangunreja dekat kawasan Kantor Bupati Tasikmalaya di Singaparna. Ia berharap pemerintah memperhatikan persoalan itu. Tanpa adanya akses internet dan sinyal telefon gennggam, kegiatan komunikasinya sebagai tenaga pengajar di sekolah dasar yang terpencil terhambat.

Sementara itu, lokasi favorit lain yang dipakai warga Parentas menelpon, berkirim pesan singkat berada di jalan cagak menuju Kampung Kandang dan Sumur. Lokasi itu tepat berada di atas Kampung Cigentur. "PR" mendapati  Aceng (41) warga Cigentur tengah berjongkok di tepian jalan itu. Tangannya menempelkan telefon genggamnya ke telinga. "Cabe kumaha ayeuna hargana (harga cabe bagaimana sekarang)," tanya Aceng dalam sambungan telefonnnya. Rupanya, ia tengah mengecek harga pasaran cabe di sebuah pasar.

Kepada "PR" kebiasaan menelfon dilakukannya sore di tempat itu karena sulitnya memperoleh sinyak di perkampungan. Sebagai petani, ia mesti memastikan harga hasil buminya di sejumlah pasar seperti Cibitung dan Kramat Jati di Jakarta. Kebiasaan nongkrong dan menelfon di tempat dan tujuan yang sama dilakukan pula petani Parentas lainnya. Tak hanya akses jalan, distribusi sinyal di desa tersebut ikut tak merata. Parentas seakan bukan beranda depan Kabupaten Tasikmalaya yang mesti dipoles dan dipelihara, tetapi pekarangan belakang rumah yang kerap terlupakan.***

Bagikan: