Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Ketersediaan Air di Jawa Barat Terbatas, Pembangunan Segitiga Rebana Harus Hati-hati

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI industri.*/ANTARA
ILUSTRASI industri.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementrian Perindustrian mendukung pembangunan pusat industri baru di Cirebon, Majalengka, dan Subang yang disebut Segitiga Rebana. Pasalnya, kawasan itu memiliki potensi dari segi sarana logistik dan juga lahan yang luas . Meskipun demikian, ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan tersebut yaitu ketersediaan air dan kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

Direktur Perwilayahan Industri di Kementrian Perindustrian, Ignatius Warsito mengatakan terdapat dua wilayah pusat pertumbuhan industri yang masuk dalam Rencana Induk Pertumbuhan Industri Nasional lima tahun ke depan, yaitu kawasan Kertajati, Indramayu, dan Subang-Cirebon. Menurut dia, rencana itu merupakan dampak dari ‎pertumbuhan kawasan-kawasan industri yang berbasis di Bekasi dan Karawang.

"Kalau melihat ke arah Cirebon, Kertajati, Patimban, ini kan babak baru karena adanya akses Cipali dan juga tol Bandung-Kertajati,"ujar dia kepada Pikiran Rakyat, Jumat 15 Februari 2019.

Warsito mengatakan, ‎akses tol tersebut memungkinkan dibangunnya infrastruktur pertumbuhan industri dalam kurun waktu kurang dari lima tahun. Hal itu ditambah dengan sarana logistik lainnya seperti pelabuhan, bandara, dan juga pembukaan jalur kereta api. Pembukaan pusat industri di kawasan tersebut, berpotensi menarik industri yang sudah ada di sekitarnya, mulai dari kawasan Bekasi, Karawang, hingga Purwokerto.

"Artinya, sudah tentu nantinya‎ penyebaran industri tidak hanya di bagian utara, namun juga tengah dan selatan. Ini yang pernah kami kaji, rekomendasinya kawasan Jabar timur memang memiliki potensi karena ada lahan dan upah tenaga kerja yang relatif rendah,"ujarnya.

Meskipun demikian, Warsito mengatakan, rencana pembangunan kawasan Rebana tersebut belum dikaji secara mendalam di Kementrian Perindustrian. Termasuk di antaranya rencana Pemprov Jabar membangun empat kawasan ekonomi khusus baru yaitu Kertajati, Patimban, Walini, dan Pulau Pesisir. "Itu kan usulan dari ‎Pemprov Jabar, belum masuk ke Kementrian Perindustrian. Kami ingin melihat adanya nilai tambah dari kabupaten-kabupaten tersebut,"ujar dia.

Ketersediaan air

Warsito menegaskan, Kementrian Perindustrian pada dasarnya ‎mendukung rencana tersebut. Namun ada kendala yang harus dipersiapkan oleh Pemprov Jabar terlebih dahulu yaitu ketersediaan air dan tata ruang.

Menurut Warsito, saat ini ketersediaan air di Jabar cukup terbatas. Sementara kawasan industri membutuhkan sumber daya air untuk bisa beroperasi dengan baik. "Nanti tinggal bagaimana Pemprov Jabar menyediakan pengelolaan air untuk kawasan industri tersebut,"ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan, kawasan industri tersebut juga harus berdiri di atas lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Dalam mendirikan kawasan industri, Kementrian Perindustrian serta Kementrian Agraria dan Tata Ruang, akan mengecek dulu apakah pembangunan tersebut sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah atau tidak."Jangan sampai menabrak tata ruang, nanti ada konflik lahan,"ujarnya.

Selain itu, sarana lainnya yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan energi dan logistik. "Untuk jalan tol, ada rencana pembangunan dari Cipali menuju ke Patimban. Namun Pemprov Jabar juga bisa berkolaborasi untuk membangun jalan provinsi," kata dia.

Sementara itu Ekonom CORE, Akhmad Akbar Susamto, mengatakan pembangunan kawasan industri di Jabar timur memang diperlukan karena wilayah Bekasi dan Karawang sudah sangat padat. Begitu juga dengan pelabuhan Tanjung Priuk yang penggunaanya sudah berada di atas kapasitasnya.

Pembangunan kawasan industri tersebut juga dapat menciptakan pemerataan ekonomi bagi wilayah di Jawa Barat. "Upah minimum Karawang dan Bekasi sudah terlalu tinggi, kawasan industri di daerah yang upahnya lebih murah tentu memiliki potensi,"ujar dia.***

Bagikan: