Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 27.5 ° C

Serangan Keong Mas di Banjar Kembali Mengganas

Nurhandoko
SAHIDIN, petani di wilayah Siluman Baru, kecamatan Purwaharja, Kota Banjar menunjukkan keong emas yang baru diambil dari sawah, Kamis ( 14/2/2019). Serangan keong emas kembali mengganas di areal persawahan yang lokasinya tidak jauh dari Rawa Onom.*/NURHANDOKO/PR
SAHIDIN, petani di wilayah Siluman Baru, kecamatan Purwaharja, Kota Banjar menunjukkan keong emas yang baru diambil dari sawah, Kamis ( 14/2/2019). Serangan keong emas kembali mengganas di areal persawahan yang lokasinya tidak jauh dari Rawa Onom.*/NURHANDOKO/PR

BANJAR, (PR).- Serangan keong emas mulai mengganas di areal persawahan tidak jauh dari Rawa Onom, wilayah Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Umumnya, persawahan yang diserang oleh hewan bercangkang ini tanaman padinya berumur kurang dari sebulan.

Pantauan di wilayah Siluman Baru, Kecamatan Purwaharja, Kamis 14 Februari 2019, persawahan yang diserang keong berwarna kuning tersebut dapat dilihat dari kondisi tanaman yang sebagain sudah habis. Tanaman yang sudah dimakan keong emas, bakal mati karena yang dimakan bakal daun yang masih muda.

Agar petani tetap dapat panen, tanaman padi yang rusak dimakan keong, diganti dengan tanaman baru. Selain itu, beberapa petani juga mencoba mengurangi keganasan serangan keong dengan dengan mengurangi volume di sawah.

“Sekarang ini serangan keong emas semakin mengganas. Persawahan yang letaknya dekat dengan Rawa Onom mengalami serangan lebih parah. Kadang sawah juga gagal tanam, karena terendam banjir akibat naiknya permukaan air rawa,” kata Tarman (48) petani warga Lingkungan Siluman Baru.

Didampingi petani lainnya, Sahidin (72), dia mengatakan umumnya yang diserang keong emas, persawahan yang baru ditanami padi. Namun demikian tanaman yang sudah besar atau berumur lebih dari sebulan juga ditemukan sekong emas, akan tetapi tidak memakan daun tanaman.  

“Memang banyak ditemukan diantara tanaman padi yang sudah besar, akan tetapi hama tersebut tidak menyukai umbut atau batang padi muda pada tanaman yang sudah besar. Sampai saat ini juga tidak ada obat membasmi keong emas, jadi mengatasinya keong harus dipungut satu per satu,” ujarnya.

Tarman menambahkan saat tanaman masih muda, petani tidak hanya sibuk menyiangi rumput dan gulma, akan tetapi juga mengganti tanaman padi yang rusak dimakan keong emas dengan tanaman baru. Dia juga mengungkapkan keong emas lebih banyak beraktivitas pada pagi dan sore, sedangkan siang hari lebih banyak membenamkan diri di lumpur.

“Pagi sudah diambil, sore keong sudah banyak lagi. Dari 60 bata, tiga hari sekali saya dapat mengumpulkan sampai 5 kilogram keong. Coba bayangkan jika tidak diambil, seluruh tanaman bakal habis dimakan keong,” ujar Tarman.

Sementara itu Sahidin menambahkan salah satu upaya mengurangi serangan keong emas, dengan cara mengurangi air sehingga sawah menjadi agak kering. Selain itu membuat parit kecil di sisi pematang, untuk memancing keong berkumpul di tempat tersebut.  

“Ketika bagian tengah sawah kering atau tidak ada air menggenang, keong berkumpul di parit, sehingga mudah diambil. Keong juga tahan kering, tiga bulan sawah kering, begitu diguyur hujan dan ada air, langsung bermunculan lagi,” tutur Sahidin.***

Bagikan: