Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

Seorang Ayah di Garut Gantung Diri Setelah Diduga Membunuh Anak Tirinya

Tim Pikiran Rakyat
POLISI melakukan pemeriksaan terhadap jasad Pandi yang gantung diri. * AEP HENDY S/KP
POLISI melakukan pemeriksaan terhadap jasad Pandi yang gantung diri. * AEP HENDY S/KP

CILAWU, (PR).- Penemuan sesosok mayat laki-laki yang kemudian diketahui bernama Pandi bin Sata (55) mengejutkan warga Kampung Sidangan Sari, Desa Sukamukti, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut. Sebelumnya, Pandi sempat menghilang dan dicari oleh warga.

Kapolsek Cilawu, Kompol Asep Suherli menyebutkan, jasad Pandi ditemukan tergantung dalam kondisi sudah tak bernyawa oleh warga pada Selasa 12 Februari 2019 sekitar pukul 11.30 WIB. Jasad Pandi ditemukan tergantung di sebuah pohon yang ada di sekitar perkampungan.

Menurut Asep, diduga Pandi sengaja bunuh diri dengan cara menggantung diri menggunakan tali tambang di dahan sebuah pohon. Hal ini diduga dia dilakukan karena merasa ketakutan menyusul kematian anak tirinya bernama Pujawati (16) yang masih berstatus pelajar di sebuah MTS di Cilawu.

"Korban yang ditemukan tewas gantung diri ini memang terindikasi telah membunuh anak tirinya. Sebelum ditemukan tewas tergantung, korban sempat menghilang selama dua hari dan sedang dicari warga," ujar Asep.

Diungkapkan Asep, anak tiri Pandi diketahui meninggal pada Jumat 1 Februari 2019 lalu. Melihat kondisinya yang dianggap tak wajar, warga pun mencurigai jika Pujawati meninggal karena dibunuh. 

Dengan diwakil ketua RT, RW, dan kepala desa, tutur Kapolsek, warga pun memberikan laporan ke Polsek Cilawu terkait dugaan pembunuhan yang menimpa Pujawati. Hasil penyelidikan yang dilakukan polisi, ditemukan adanya indikasi pembunuhan terhadap Pujawati yang pada akhirnya pelakunya mengarah kepada ayah tiri korban, yakni Pandi.

Mendengar informasi bahwa kepolisian tengah melakukan penyelidikan terkait kasus tewasnya Pujawati, diduga Pandi merasa cemas. Ia pun kemudian sempat pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali lagi sejak Senin 11 Februari 2019, hingga akhirnya ditemukan tewas tergantung pada Selasa.

"Mungkin karena merasa tak nyaman dan takut setelah mengetahui keluarga dan warga melaporkan dugaan pembunuhan terhadap Pujawati, Pandi pun pergi dari rumah secara diam-diam. Warga yang melakukan pencarian akhirnya menemukannya dalam kondisi tewas tergantung di dahan sebuah pohon," katanya.

Menurut Asep, dugaan jika Pujawati tewas karena dibunuh muncul setelah kakak korban, melihat ada tanda-tanda bekas penganiayaan pada jasad adiknya. Hal ini diperkuat dengan keterangan sejumlah anggota keluarga lainnya dan warga yang ikut memadikan dan mengurus jasad korban.

Dari keterangan saksi yang memandikan jenazah korban, tambah Asep, ada kecurigaan anak itu dibunuh karena ada bekas-bekas penganiayaan. Kejanggalan yang disampaikan oleh saksi yang memandikan jenazah korban di antaranya rambut korban dalam kondisi acak-acakan, banyak debu di wajahnya, ada bekas cekikan di leher, serta di bagian dagu, pelipis kanan dan tangan kanan ada luka memar. Selain itu, mata korban juga terlihat melotot dan kaki kanannya tegang. 

"Namun belum sempat kami melakukan pemeriksaan terhadap Pandi, ia sudah ditemukan dalam kondisi tewas tergantung di sebuah pohon. Pihak keluarga sudah membuat pernyataan bahwa kematian Pandi ini merupakan musibah dan takdir sehingga pihak keluarga tak akan menuntut proses hukum. Selain pihak keluarga, surat pernyataan juga ditanda tangani oleh ketua RT, RW dan kepala desa setempat," ucap Asep Suherli. (Aep Hendy S/KP)***

Bagikan: