Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 21.4 ° C

Tertera di Prasasti, Raden Toemenggoeng Dendanegara Bupati Pertama Majalengka?

Tati Purnawati
NANA Rohmana atau Baro memperhatikan tulisn arab pegon dengan bahasa jawa kuno di papan jati yang ditempel di atas pintuk masuk makam Bupati Majalengka pertama  Raden Toemenggoeng Dendanegara (Kiai Soera Adhi Ningrat) di Makam Gunungwangi  Kabupaten Majalengka, Senin 11 Februari 2019./TATI PURNAWATI
NANA Rohmana atau Baro memperhatikan tulisn arab pegon dengan bahasa jawa kuno di papan jati yang ditempel di atas pintuk masuk makam Bupati Majalengka pertama Raden Toemenggoeng Dendanegara (Kiai Soera Adhi Ningrat) di Makam Gunungwangi Kabupaten Majalengka, Senin 11 Februari 2019./TATI PURNAWATI

MAJALENGKA, (PR).- Komunitas budayawan serta seniman mendorong Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk mengakui bupati pertama Majalengka adalah Raden Toemenggoeng Dendanegara. Sosok yang makamnya berada di Desa Gunung Wangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.

Grup Majalengka Baheula juga mendorong Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk menziarahi makam tersebut di saat memperingati Ulang Tahun Majalengka. Serta mengubah peringatan hari Ulang Tahun Majalengka yang biasa dilakukan setiap tanggal 7 Juni menjadi 11 Februari. Sesuai dengan berdirinya Kabupaten Majalengka pada 11 Februari Tahun 1840 seperti yang tertuang pada prasasti.

Hal itu mengemuka pada acara Mengenalkan Raden Toemenggoeng Dendanegara atau Kiai Soera Adhi Ningrat di Gunung Wangi Senin 11 Februai 2019 yang dihadiri sejumlah komunitas, budayawan, seniman, dan pecinta Majalengka serta warga Gunungwangi. Hadir pula keturunan keenam  dari Raden Toemenggoeng Dendanegara, Fery Suyuti.

Keyakinan Raden Toemenggoeng Dendanegara (Kiai Soera Adhi Ningrat) sebagai Bupati Majalengka pertama tersebut menurut Ketua Grup Majalengka Baheula, drg Andi Imam Wandi, didasari oleh adanya prasai yang tertera pada nisan serta tulisan di atas pintu masuk makam dengan hurup arab pegon dan menggunakan bahasa jawa kuno.

“Awal penelusuran ini setelah ditemukannya sebuah naskah yang disebutkan oleh Bupati Majalengka ke 8 di tahun 1957 yang menyebutkan Bupati Dendanegara, yang makamnya di Gunungwangi,” kata Andi.

Dari situ grup Grumala yang digagas pula oleh Naro berupaya menelusurinya hingga di pemakaman Gunungwangi. Karena tidak sanggup dan tidak paham akan tulisan arab pegon dengan bahasa jawa kuno akhirnya mencari orang yang mampu membacanya hingga ditemukan ahli hurup arab pegon dan bahasa jawa kuno, Tarka asal Indramayu.

Nana Rohmana yang berupaya menelusuri naskah serta keberadaan makam bupati tersebut mengungkapkan, tulisan yang ada di batu nisan serta di kayu jati yang terpampang di atas pintu masuk ke makam baru bisa dibaca pada 5 Januari 2019 kemarin. Setelah dirinya bersama seseoranga asal Belanda mengajak Tarka yang dikenalnya melalui media sosial.

Fakta pendukung bupati pertama Majalengka

Pada tulisan di kayu jati yang diyakini masih utuh tersebut berbunyi  “(1) Pémut punika cungkub pasaréyan Kanjeng Kiyahi Arya Suraadiningrat Adipati Carbon kang ayasa Radén Tumenggung (2) Arya Sriningrat Kanjeng Majalengka waktu dalu punika nuju tanggal 23 dinten Jumuah Sasi Siyam Tahun Dal 1327 Hijriyah (3) atawa Walandi tanggal 18 Oktober ari Jumah 1909 kang ngapalani Haji Muhamad Rafingi Holifah wa syahadu‘ala dzalika K.H. Abduliman Wanadireja.(Bila diterjemahkan , (1) Pengingat: ini adalah Cungkup Makam Kangjeng Kyai Arya Suradiningrat Adipati Cirebon yang berjasa, Raden Tumenggung (2) Arya Sriningrat Kangjeng Majalengka. Malam itu pada hari Jum’at Tanggal 23 Bulan Syiam (Ramadhan) Tahun Dal 1327 Hijriyyah atau menurut penanggalan Belanda; hari Jum’at tanggal 18 Oktober 1909. Yang mengepalai/mengetuai Haji Muhamad Rofingi Khalifah dan yang menyaksikan hal tersebut adalah K.H.Abduliman Wanadireja.)”

Pada batu nisan juga tertera tulisan yang ditulis dalam bahasa dan huruf yang sama, diantaranya adalah “Hijra Kangjeng Nabi Muhamadh 1268 (Hijrah Kanjeng Nabi Muhammad 1268), Tahun 1268 Hijriah [1440 –1268 = 172 TAHUN] Punika Pa-hingettaning ta-hun waladhi 1852 (Inilah catatan tahun  Belanda1852 ) [2018 – 1852 = 166 tahun] Punika pa-hingettan ning babadh 1781 (Inilah catatan babad tahun 1781) [2018 – 1781 = 237 tahun]”

Di sana juga ada tulisan “ Hadza Kiyahi Mas Sutadiwirya Rama nipun Kiyahi Mas Demang Wedana

Maja (Inilah Kyai Mas Sutadiwirya Ayahanda dari Kyai Mas Demang Wedana Maja) Wafatipun ing tanggal 9 Robi’ul Awwal  tahun za 1286 Hijrah Nabi saw Jawi 1798 1916 M  (Wafatnya pada tanggal 9 Robi’ul Awwal tahun za 1286 Hijriyah Nabi SAW Jawa 1798 1969 M)”

Ada juga di prasasti yang juga di tulis di batu dengan bunyi “Halamadh hingkang nama Kyahi Harya Hadhipati Sur-yahadhiningrat (Alamat [inilah] yang bernama Kiyai Arya Adipati Suryahadiningrat)

Di sana, kata “babad” bisa diartikan permulaan atau awal. Kata “babad” di dalam naskah kuno biasanya mengandung pengertian membuka hutan atau suatu tempat untuk dibuat menjadi pedukuhan, desa, pesantren dan lain-lain.

“Cukup lama kami menelusuri ini, hingga akhirnya diperoleh keyakinan dari tulisan-tulisan tersebut,” kata Naro.

Hasil penelitian Unpad, HUT Majalengka 11 Februari

Budayawan Majalengka Rachmat Iskandar mengungkapkan, Setelah lebih dari  30 tahun upaya untuk menemukan makam regent pertama regentschappen Majalengka RT Dendanegara, akhirnya  berkat ketekunan para anggota

Tim Grumala yang dipimpin drg. Andi Iman wandi dan Nana Rohmana dari Grup Majalengka Baheula  (Grumala) ahirnya ditemukan setelah prasasti yang tertera dalam maesan makam  dengan hurup arab pegon dan aksara cacarakan jawa, bisa dibaca tim filologi dari Indramayu.

Ditemukannya makam regent (bupati) pertama Majalengka ini menguak sejarah Majalengka yang selama ini  tertutup dari  kebenaran sejarahnya. Karena RT Dendanegara lah yang menrima  staatblaad 1840 yang kemudian menunjuknya sebagai regent pertama di Majalengka.. Peristiwa itu terjadi tanggal 11 pebruari 1840 seseuai dengan bunyi dalam staatblaad  1840 tersebut.

“dengan demikian, walaupun hari jadi Majalengka masih ingin dipertahankan dari legenda Nyi Rambutkasih yaitu 7 juni, namun paling tidak, Pemkab Majalengka bisa mengambil langkah yang lebih bijaksana, dengan merubah ziarah dari Margatapa yang menjadi makam kuncen keraton Kanoman Muhamad Hafidz yang diduga sebagai makam POangeran Muhammad, diubah menjadi ke komplek pemakaman Gunung Inten di desa Gunungwangi, Argapura yaitu ke makam regent pertama RT Dendadiningrat atau  RT Denda Negara”

Pada dasarnya penelitian Sejarah Majalengka telah dilakukan  pada tahun 2011 oleh Tim Prof.DR Nina Herlina dari Unpad. Penelitian tersebut telah menunjuk ke arah yang jelas yaitu 11 Februari 1840.

Nyi Rambutkasih tidak dianggap  bukti sejarah karena hanya berasal dari legenda masyarakat sekitar desa Majalengka. Bahkan tanggal 7 Juni 1490 itupun berasal dari hitungan kelender 500 tahun dengan momentum karena pada tanggal tersebut konon saat naiknya Nabi Isa ke langit. Jadi sama sekali tidak berhubungan dengan disiplin ilmu sejarah.***

Bagikan: