Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.1 ° C

Batu Ngampar Pasir Goong di Ciamis Peninggalan Kerajaan Abad ke-17?

Nurhandoko
JAJARAN Batu Ngampar di wilayah Pasir Goong, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. /NURHANDOKO WIYOSO/PR
JAJARAN Batu Ngampar di wilayah Pasir Goong, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. /NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS, (PR).- Salah satu sisa peninggalan sejarah tatar galuh Ciamis yang hingga saat ini masih menyimpan misteri yakni Batu Ngampar di wilayah  Pasir Goong, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis.

Diperkirakan keberadaan batu yang disusun dengan formasi khusus, erat kaitannya dengan Kerajaan Kawasen, sekitar awal abad ke-17.

Keberadaan batu yang terampar di kebun yang berada di belakang Balai Pertanian Banjarsari tersebut  belakangan ini semakin banyak didatangi warga. Lokasi tersebut ditemukan warga yang saat itu tengah menggali tanah untuk fondasi rumah, pada tahun 2016.

Batu pipih yang diamparkan di atas tanah terlihat sengaja dibuat oleh tangan manusia tersebut, memiliki ketebalan sekitar 15 - 20 sentimeter. Pada saat ditemukan amparan batu berada pada kedalaman sekitar 50 – 100 senitmeter.  

Kepala Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari Olis Nurholis mengungkapkan ketika awal ditemukan warga menganggap sebagai batu biasa. Akan tetapi setelah diperhatikan lebih lanjut, mereeka baru menyadari ada keanehan dengan batu tersbeut, sebab letak batu tersebut memiliki formasi tertentu. Sejak saat itu warga dilarang untuk mengubah atau memindah struktur batu yang diyakini memiliki nilai sejarah.

“Jika melihat bentuk dan formasi, batu tersebut tidak mungkin dibuat pada masa kini. Ini peninggalan sejarah. Kami perkirakan pada awalnya susuanan batu berada dipermukaan, akan tetapi sieirng dengan perjlananan waktu ratusan tahun, hingga tertimbun tanah,” tutur Olis, Senin 11 Februari 2019.

JAJARAN Batu Ngampar di wilayah Pasir Goong, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. /NURHANDOKO WIYOSO/PR

Sebatas cerita mulut ke mulut

Beberapa orangtua yang ada di wilayah Pasir Goong, lanjutnya tidak banyak memberi penjelasan soal Batu  Ngampar. Mereka, lanjutnya hanya sebatas bercerita dari mulut ke mulut bahwa batu keberadaan batu tersebut berhubungan dengan Kadalemen Kawasen.

Kerajaan tersebut kekuasannya meliputi wilayah Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran (saat ini) hingga Bojong Malang, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

“Harus ada penelitian lebih lanjut oleh ahli benda purbakala, arkeolog. Setidaknya hasil penelitian ilmiah tersebut dapat mengungkap sejarah keberadaan Batu Ngampar. Ini juga potensi wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut,”  ujarnya.

Pada bagian lain Olis juga mengatakan keberadaan Batu Nagampar ngampar juga berkenaan dengan penamaan Pasir Goong. Alasannya berdasar cerita yang berkembang,  pasir yang dimaksud yakni bukit kecil dan goong merupakan salah satu alat musik tradisional gong atau goong.

“Pada saat itu tempat tersebut dipercaya untuk menyimpan gamlean. Sebagai tempat penyimpanan, maka tidak heran apabila formasi batu ditata mirip lantai. Namun demikian ini hanya sebatas cerita yang berkembang saja,” ucap Olis.

Berkenaan dengan Pasir Goong, lanjutnya , di kalangan sebagian warga setempat masih percaya adanya mitos terdengarnya bunyi gamelan pada malam tertentu. Bunyi tersebut dianggap sebagai pertanda bakal ada kejadian besar.

“Hanya orang dengan kemampuan khusus yang dapat menedegar bunyi yang berasal dari pasir goong. Tidak hanya gamelan saja akan tetapi juga suara sinden mengiringi suara gamelan.  Soal percaya atau tidak kembali pada masing-masing orang,” ujarnya.***

Bagikan: