Pikiran Rakyat
USD Jual 14.331,00 Beli 14.031,00 | Umumnya berawan, 23 ° C

[Laporan Khusus] Sejak Dahulu, Pulau Jawa Menjadi Pasar Empuk

Kodar Solihat
PENGANGKUTAN padi menggunakan kereta api dari Stasiun Wadas, Karawang, pada Juli 1949. Pihak Belanda melakukan Agresi Militer I "Operasi Produk", pada 21 Juli-5 Agustus 1947, yang hakikatnya juga adalah rebutan pangan.*/DOK NATIONAAL ARCHIEF BELANDA
PENGANGKUTAN padi menggunakan kereta api dari Stasiun Wadas, Karawang, pada Juli 1949. Pihak Belanda melakukan Agresi Militer I "Operasi Produk", pada 21 Juli-5 Agustus 1947, yang hakikatnya juga adalah rebutan pangan.*/DOK NATIONAAL ARCHIEF BELANDA

KERIUHAN persoalan pasokan pangan hampir selalu terjadi di Indonesia, terutama pemenuhan untuk masyarakat di Pulau Jawa. Persoalan pasokan beras, daging, jagung, dan sebagainya selalu mendominasi polemik kabar terkait dengan kebutuhan pangan utama di negara ini.

Jika dicermati dari sejumlah arsip surat kabar lama yang dikumpulkan ”PR” dari National Library of Australia Trove dan Koninklikje Bibliotheek Delpher Belanda, ternyata urusan pasokan pangan di Pulau Jawa  sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda.

Kondisinya menjadi ironi karena Pulau Jawa dikenal sebagai pulau tersubur sedunia, lahan pertaniannya masih luas dan dikenal dunia. Namun, ternyata masyarakatnya sering kekurangan pangan, sejak zaman dahulu hingga kini.  

Kejadian kelaparan besar di Pulau Jawa sudah muncul ke publik sejak awal abad ke-20 melalui pemberitaan De grondwet terbitan 8 April 1902. Mereka memberitakan di Pulau Jawa adalah sesuatu yang lumrah, terutama di Jawa Tengah orang-orangnya sudah terbiasa dalam kondisi kelaparan dan hidup sengsara selama bertahun-tahun. 

Dalam berita itu disebutkan, kelaparan yang mendera penduduk Jawa Tengah tersebut umumnya disebabkan ketergantungan terhadap konsumsi beras. Kondisi ini terjadi  jika sawahnya mengalami kegagalan panen, baik karena banjir maupun kemarau, letusan gunung berapi, atau lainnya.

Karena kondisi itu, diberitakan, masyarakat di Jawa Tengah menjadi kelaparan dan mengalami kesengsaraan. Apalagi mereka tidak memiliki uang untuk membeli beras dari orang lain. Untuk menyambung hidupnya, orang-orang kelaparan itu kemudian mengonsumsi dedaunan dan akar pohon (tampaknya yang dimaksud termasuk umbi-umbian), bahkan memakan sesuatu yang sebenarnya sumber penyakit.

”Anda mungkin tak akan percaya bahwa di negeri yang kaya dan subur ini, seperti Pulau Jawa seharusnya tidak terjadi kelaparan. Nyatanya, para penduduk asli sering kekurangan pasokan beras!” tulis editor surat kabar De Grondwet itu.

Mulai dikenalnya beras impor, khususnya asal Saigon, Vietnam, tergambar dari pemberitaan surat kabar Algemeen Handelsblad terbitan 27 Januari 1915 dengan mengabarkan pada 26 Januari 1915, Kapal Uap SS Tjimahi (ejaan kini SS Cimahi) tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, dengan membawa 6.000 ton beras saigon (beras yang dikirimkan melalui Pelabuhan Kota Saigon). Kiriman beras tersebut didatangkan Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan beras di Pulau Jawa pada Januari 1915. 

De Telegraaf pada 8 Maret 1915 memberitakan, impor beras yang terjadi tersebut sebenarnya suatu hal ironis. Soalnya, produksi padi di Pulau Jawa mencukupi, tetapi impor beras selalu dilakukan setiap tahunnya, baik dari Saigon (Vietnam) dan Rangoon (Burma/Myanmar).

Sunday Mail terbitan Brisbane, Queensland, pada 29 Agustus 1937, memberitakan jutaan orang di Pulau Jawa kembali mengalami kelaparan sehingga menyebabkan migrasi penduduk secara besar. Salah satu penyebabnya, Pulau Jawa mengalami jumlah pertumbuhan penduduk yang serius dan sudah dinilai padat pada masa itu. 

Disebutkan, Dr Hart selaku Direktur Urusan Ekonomi Hindia Belanda memberikan informasi bahwa Pulau Jawa sulit membendung terjadinya kondisi serius kelebihan populasi penduduknya. Saat itu sudah terpikirkan melakukan transmigrasi orang-orang dari Pulau Jawa ke sejumlah pulau terpencil.

Diberitakan pula, pada masa itu penduduk di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa  sudah mencapai 42 juta dan di luar pulau 19 juta. Perbandingan de­ngan luasan yang agak sama. Pulau Jawa populasinya total sudah 316 jiwa/km2 dibandingkan dengan Jepang yang 168 jiwa/km2. Sejumlah kawasan besar di Pulai Jawa saat itu juga kondisinya sudah menjadi yang terpadat penduduknya di dunia dengan perbandingan kawasan sekitar delta Sungai Nil Mesir.

Karena kondisinya sudah padat penduduk, Pulau Jawa membutuhkan banyak pangan. Peluang itu rupanya ditangkap oleh kalangan pebisnis pangan di Australia. Mereka melihat Pulau Jawa adalah sasaran pasar potensial bagi produk-produk negara itu.

The Telegraph terbitan Brisbane, Queensland, 20 Agustus 1926 yang mengabarkan Pulau Jawa  layak ditangkap para pebisnis sebagai prospek perdagangan pangan yang bagus. Gambaran itu muncul melalui informasi direktur perusahaan bisnis pangan asal Australia, Fuller, yang baru saja kembali dari perjalanan dari kawasan Asia Timur, untuk mencari pasar bagi tiga industri besar di Australia yang berbisnis pangan. 

"Ada 35 juta penduduk Pulau Jawa. Mereka lapar untuk daging, tepung, dan buah-buahan Australia. Jika mereka makan satu apel, mereka akan menjadi heboh,  dan suatu hari, itu akan menjadi booming,” ujar Fuller. 

Disebutkan, Fuller mengatakan suatu saat penduduk Pulau Jawa akan mengalami ketergantungan terhadap pasokan sejumlah jenis pangan dari Australia. ”Karena itu, janganlah menjadi takut kalau orang-orang di Pulau Jawa akan berani menyerang Australia,” katanya. 

Dalam perhitungan Fuller, seberapa besar produksi pangan asal Australia yang daat dijual ke Pulau Jawa adalah menghitung dari urusan efisiensi dan produk­tivitas tenaga kerja. Seorang tenaga kerja di Australia mampu melakukan lebih banyak pekerjaan dibandingkan dengan sepuluh orang Jawa.

Berita itu juga menyebutkan, untuk memuluskan bisnis pangan tersebut, salah satu taktik utama yang dilakukan Fuller, adalah sejumlah unsur politik di Australia harus mau mendekati kalangan politisi di Pulau Jawa. Salah satu caranya adalah menyuap dan memberi komisi kepada sejumlah politisi di Pulau Jawa agar mau memuluskan perdagangan produk-produk pangan asal Australia.

Untuk mengamankan bisnis pangan mereka, khususnya ke Pulau Jawa, sejumlah kalangan bisnis di Australia melobi pemerintahnya agar dapat mendirikan pangkalan angkatan laut di Singapura. Namun, rencana itu kemudian batal dilakukan Australia karena melihat potensi konflik dengan Thailand yang juga dikenal sebagai kawasan penghasil pangan.  

EKSKAVATOR beroperasi di salah satu kompleks perumahan yang sedang dibangun di area persawahan di Kampung Linggarjati, Desa Jelegong, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu, 30 Januari 2019. Sejak 1991, alih fungsi lahan pertanian subur di Pulau Jawa mulai marak. Banyak lahan pertanian berubah menjadi perumahan, industri, perkantoran, jalan, dan sarana lainnya. Padahal, potensi pengembangan sawah beririgasi relatif terbatas.*­/ADE MAMAD/PR

Meniru barat

The Daily Telegraph terbitan Sydney, 9 Oktober 1933 memberitakan, pada enam pulau berpenghuni, yaitu Sumatra, Jawa, Bali, Timor, Sulawesi, dan Kalimantan, total ada 62 juta penduduk, terdiri atas 250.000 orang Eropa  dan 60.000.000 orang pribumi, serta 1,4 juta orang Timur (Tionghoa, Jepang, Korea, dsb). Jumlah penduduk pada keenam pulau itu rata-rata naik 20 persen setiap sepuluh tahun.

Disebutkan, besarnya peluang pasar pangan dari Australia pada keenam pulau itu selain karena  jumlah penduduknya setiap tahun makin banyak, juga pola seleranya yang suka meniru serba kebarat-baratan, mulai kebiasaan, makanan, pakaian, dll.

Ini disebabkan banyak orang pada keenam pulau itu ada kontak dan metode publik barat sehingga kehidupannya menjadi serba meniru.

Dalam kondisi itu, menurut berita tersebut, pihak-pihak berkepentingan bisnis dari Australia secara sistematis menciptakan situasi agar penduduk di Sumatra, Jawa, Bali, Timor, Sulawesi, dan Kalimantan lebih banyak mengonsumsi tepung, biskuit, mentega, buah-buahan segar, dan sayuran asal Australia.

Sampai masa itu dengan membandingkan tahun 1925 dan 1933, Australia satu-satunya negara asing yang mengalami peningkatan dan mempertahankan ekspornya ke Hindia Belanda, tak termasuk Jepang, dengan meningkatkan perdagangannya sebesar 100 persen. 

Awal mengenal traktor

Pada era Republik Indonesia, Daily Mercury terbitan 25 Agustus 1953 memberitakan, Pulau Jawa yang merupakan pulau utama di Indonesia sudah berpenduduk 60 juta jiwa. Kondisi ini menjadikan Pulau Jawa paling banyak tempat ramai dan ramai di dunia. 

Disebutkan, Pulau Jawa yang dikenal tanahnya subur dan indah ini, jumlah penduduknya tumbuh sangat cepat. Diperhitungkan, selama beberapa tahun berikut berdampak terjadinya kelaparan di sejumlah wilayah yang mengakibatkan banyak orang meninggal.

Salah satu solusinya, berupaya menciptakan kawasan tanaman pangan di Kalimantan dan Sumatra, terutama untuk ditanami padi, jagung, dan sejumlah jenis pangan lainnya.

Berita itu juga menyebutkan, dari sinilah awal mula kalangan petani di Indonesia mulai mengenal traktor untuk mengolah tanaman. Saat itu Amerika Serikat memperkenalkan cara mekanisasi pertanian dengan dilakukan melalui 40 orang pelajar sekolah pertanian. 

Digambarkan, pada awalnya para petani Indonesia seakan melihat ”monster” mekanik terhadap sosok traktor. Soalnya, selama berabad-abad, penduduk Pulau Jawa menggunakan hewan kerbau dan bajak kayu untuk mengolah sawah mereka. 

Disebutkan pula, pengenalan penggunaan traktor juga sangat penting karena saat itu di Indonesia sedang dilakukan pembukaan ribuan hutan lebat dan kawasan tanah marginal untuk diubah menjadi persawahan luas. Penggunaan buldoser dan traktor sangat diperlukan untuk mempercepat pembuatan persawahan luas dengan membabat kawasan hutan dan tanah tadah hujan.

Gereformeerd gezinsblad terbitan 24 Februari 1964 memberitakan,  kelaparan kemudian melanda Jawa Tengah. Puluhan ribu orang kelaparan yang sudah menjadi gelandangan dan pengemis dari pelosok desa di Jawa Tengah ramai-ramai berurbanisasi ke Semarang dan Jakarta. Penyebabnya juga sama, yaitu efek kemarau berkepanjangan lalu cepat berubah menjadi banjir sehingga memunculkan serangan hama tikus besar-besaran yang menyerang tanaman padi.  

Secara umum, di Pulau Jawa sedang terjadi serangan tikus dan hama wereng terhadap padi. Serangan  tikus secara besar-besaran umumnya terjadi pada ma­lam hari. Serangan tikus juga terjadi di berbagai rumah penduduk sehingga para penghuninya ketakutan.

Trouw pada 7 Maret 1964 memberitakan, mengutip kantor berita Antara, terdapat 100.000 orang kelaparan di Pulau Jawa. Disebutkan, Angkatan Bersenjata Indonesia menyediakan Rp 5,42 juta, 107,5 ton beras, dan 25 ton jagung untuk membantu mengurangi kekurangan pangan.

Menurut laporan tersebut, jumlah orang yang kelaparan di Pulau Jawa, terbesar 50.000 orang di Jawa Tengah, 40.000 orang di Jawa Timur, serta 10.000 orang di Jawa Barat (terutama di Indramayu).***

Bagikan: