Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Sungai Ciliwung Paling Banyak Terpapar Limbah Tinja

Windiyati Retno Sumardiyani
TUMPUKAN sampah rumah tangga di anak Sungai Ciliwung di Kelurahan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu 2 Januari 2019. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor memprediksi dalam satu hari setidaknya 30 ton sampah dibuang masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Sampah tersebut tersebar di 87 titik di 13 kelurahan.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
TUMPUKAN sampah rumah tangga di anak Sungai Ciliwung di Kelurahan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu 2 Januari 2019. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor memprediksi dalam satu hari setidaknya 30 ton sampah dibuang masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Sampah tersebut tersebar di 87 titik di 13 kelurahan.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR, (PR).- Sungai Ciliwung paling banyak terpapar limbah kotoran manusia. Kondisi tersebut  didominasi terjadi di bagian hulu dan tengah Sungai Ciliwung.

Demikian diungkapkan Direktur Pengendalian Pencemaran Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Luckmi Purwandari saat dijumpai “PR” di  Bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, akhir pekan lalu.

“Selain limbah domestik dan limbah yang mengandung bakteri E.Coli, ada juga limbah mikro plastik. Kita bicara untuk hulu dan tengah ya, kalau hilir beda lagi,” ujar Luckmi.

Menurut Luckmi, Direktorat  Pengendalian Pencemaran Air KLHK sudah melakukan pemetaan terkait daerah mana saja yang sudah terpapar parah limbah yang menyebabkan penyebaran bakteri C.Coli tersebut. Namun demikian, Luckmi tidak dapat menjabarkan daerah bagian hulu sungai mana saja yang paling banyak terpapar limbah tersebut.

“Tidak semuanya overload. Kami punya pemantauan, punya perhitungan daya tampung beban pencemaran Sungai Ciliwung. Tapi memang harus saya cek lagi datanya saya tidak hafal persis, “ kata Luckmi.

Menurut dia, KLHK sudah melakukan upaya untuk mengurangi  pencemaran limbah kotoran manusia ke Sungai Ciliwung. Salah satunya dengan memberikan bantuan berupa saluran instalasi pengolahan limbah komunal.

Namun demikian, pemberian bantuan tersebut harus berdasarkan usulan  pemerintah daerah setempat.

“Pemerintah daerah harus menyediakan lahannya. Kita harus cek dulu, banyak yang buang limbah ke sungai enggak daerahnya. Di Kota Bogor kita sudah bantu kalau enggak salah di Kelurahan Pasirjaya, detail desainnya sudah dibuat, tahun ini akan dibangun,”  ucap Luckmi.

Terkait pencemaran limbah industri, Luckmi menyebut skala pembuangan limbah industri di Sungai Ciliwung tergolong kecil.  Pembuangan limbah industri  masih terjadi di daerah hilir Sungai Ciliwung.

“Ada juga memang, tetapi skalanya kecil, sebelum membuang limbah ke sungai, harus ada izin dari pemda setempat. Selama ini sudah banyak yang mematuhi prosedur, tetapi ada yang tidak. Nah, di sinilah pentingnya peran masyarakat. Perlu ada perhatian dari masyarakat, supaya yang ilegal-ilegal ini terpantau,” kata Luckmi.

Terkait sanksi bagi pembuang limbah, Luckmi mengatakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh KLHK dan pemerintah sebelum memberikan sanksi. Pertama melakukan pendekatan berupa pembinaan, sanksi administrasi,  baru jika memang sudah masuk tahap keterlaluan sanksinya bisa sanksi pidana.

Di Kota Bogor, pencemaran limbah kotoran manusia di Sungai Ciliwung sudah tidak terelakkan lagi.  Di bantaran Sungai Ciliwung, ribuan keluarga diketahui tidak memiliki saluran pembuangan tinja atau tangki septik.

Berdasarkan data yang dimiliki Komunitas Peduli Ciliwung, ada beberapa kelurahan yang warganya diketahui tidak memiliki tangki septik. Di Kelurahan Sindangrasa, 183 keluarga diketahui tidak memiliki saluran pembuangan tinja. 

Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Katulampa (360 keluarga), Kelurahan Tajur (257 keluarga), Kelurahan Baranangsiang (514 keluarga), Kelurahan Sukasari (663 keluarga),  Kelurahan Babakan Pasar (663 keluarga),  Kelurahan Sempur (828 keluarga),  Kelurahan Bantarjati (803 keluarga), Kelurahan Tanah Sareal (113 keluarga), Cibuluh (918 keluarga), Kelurahan  Kedungbadak (188 keluarga), Kelurahan Kedung Halang (157 keluarga), dan Kelurahan Sukaresmi (5 keluarga).***

Bagikan: