Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Musim Demam Berdarah, Jambu Biji Banyak Dicari

Riesty Yusnilaningsih
RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

PENYAKIT demam berdarah dengue (DBD) tengah menjadi perbincangan hangat dalam sebulan terakhir. Hal ini menyusul angka kasus yang terus meningkat di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kota Bekasi.

Menurut keterangan Kepala Bidang Keperawatan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Abdul Majid Kota Bekasi, Sudirman, perawatan terhadap pasien DBD difokuskan pada upaya penambahan cairan tubuh demi mengantisipasi kemungkinan mengentalnya darah akibat serangan virus. Terhadap pasien yang dirawat di rumah sakit diberikan cairan infus natrium clorida atau ringer laktat. Biasanya dalam waktu tujuh hari sejak pertama kali pasien mengalami kenaikan suhu tubuh, kondisinya biasanya berangsur pulih.

Namun pada kenyataannya, selama masa perawatan, keluarga pasien biasanya melakukan pula ikhtiar pengobatan lain dalam upaya meningkatkan angka trombosit agar jumlahnya berangsur normal. Ikhtiar yang lazim diberikan kepada pasien ialah dengan memberikan jus jambu batu atau jambu biji, khususnya yang berwarna merah.

Oleh karenanya, tak heran jika lantas permintaan jambu batu merah pun mengalami peningkatan cukup tinggi. Seperti diakui Udin, penjaja aneka buah di Bekasi Selatan. Menurut dia, dalam seminggu terakhir, permintaan akan buah jambu batu meningkat signifikan. "Sejak musim DBD ini, sehari bisa menjual satu peti jambu isi 90 kilogram," katanya, Minggu 3 Februari 2019.

Biasanya, dalam kondisi normal, pembeli buah di lapaknya kebanyakan merupakan para penjaja jus buah. Namun sepekan terakhir, pembeli eceran juga sering mampir ke lapaknya untuk membeli jambu batu.

"Kalau yang eceran ini biasanya sekali beli satu kilogram sampai 1,5 kilogram dan hanya mau jambu matang yang dalamnya sudah berwarna merah. Waktu saya tanya untuk keperluan apa, katanya ikhtiar mengobati pasien DBD," ucap Udin.

Karena permintaan dari keluarga pasien DBD itu pula, seringkali yang tersisa di lapaknya tinggal jambu batu yang masih mengkal. Sementara jambu matang sudah laris dibeli.

Menurut Udin, dalam situasi seperti ini, ia tak lantas mencari peluang mereguk untung lebih besar. Harga jual tetap dipatok sama seperti sebelum musim DBD, yakni Rp 12.000 per kilogram. "Masa iya ambil untung dari orang yang sedang sakit. Harga normal-normal saja pastinya," katanya.

Selain alasan tersebut, faktor lain yang membuatnya tak ingin menaikkan harga tiba-tiba ialah karena pasokan jambu batu yang masih mencukupi. "Saya biasa dikirim dari Citayam, Bogor. Hingga sekarang, pasokan lancar, jadi tidak ada alasan untuk menaikkan harga," ucapnya.**

Bagikan: