Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.4 ° C

Cerita di Balik Peristiwa Berdarah Pemberontakan APRA

Kodar Solihat
PASUKAN pemberontak APRA di Bandung, 23 Januari 1950/NATIONAAL ARCHIEF BELANDA
PASUKAN pemberontak APRA di Bandung, 23 Januari 1950/NATIONAAL ARCHIEF BELANDA

ADA dua peristiwa bersejarah selama ­Januari. Pertama, peristiwa ­pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Kota Bandung pada 23 Januari 1950 dan ­Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948.

Rabu 23 Januari 2019 adalah peringatan 69 tahun peristiwa APRA. Kapten Raymond Westerling yang menjadi pemimpin aksi APRA, masih menjadi ­perbincangan para pemerhati ­sejarah perang di Indonesia.

Dalam catatan umum sejarah Indonesia pula, pemberontakan APRA adalah bentuk penolakan dari sejumlah pihak di Jawa Barat kepada pemerintah Republik Indonesia, setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda, 27 Desember 1949.

Karena latar belakang tertentu, terjadi aksi pasukan APRA yang merupakan milisi dan tentara bayaran untuk menggulingkan Republik Indonesia Serikat, dengan disebut-sebut atas kepen­tingan sejumlah pihak dari Jawa Barat.

SITUASI di pertigaan Jalan Braga dan Jalan Raya Pos (kini Jalan Asia Afrika) ­Bandung saat Pemberontakan APRA, 23 Januari 1950. Saat itu, Kota Bandung berpenduduk 180.000 orang.*/NATIONAAL ARCHIEF BELANDA

Sejumlah aksi peristiwa APRA juga diberitakan sejumlah surat kabar terbitan Australia yang tersimpan di National ­Library of Australia Trove. Kekuatan pasukan APRA terdiri atas 2.000-an orang.

Walau pemimpinnya adalah Raymond Westerling yang berdarah Belanda, para tentaranya adalah orang-orang Indonesia dari sejumlah suku yang dipilih dari ­pasukan Belanda dan Indonesia.

The Sydney Morning Herald pada 24 Januari 1950 memberitakan, pasukan APRA yang kuat dipimpin Kapten Westerling, mantan pasukan komando Belanda, membuat sebuah serangan mendadak terhadap pasukan Indonesia di Jawa Barat saat fajar, Senin, 23 Januari.

Sekira 600 orang anggota pasukan Westerling beraksi di Bandung yang merupakan ibu kota Negara Pasundan. Dalam 30 menit, APRA telah merebut kantor pos, markas polisi, markas militer wilayah, serta sejumlah ruas jalan dan halaman suatu markas militer, yang dipenuhi mayat tentara Indonesia.

RAYMOND Westerling (1952)/NATIONAAL ARCHIEF

Koresponden AAP-Reuters di Bandung, mengutip saksi mata yang melihat dalam jarak dekat, saat tentara Indonesia mencoba melumpuhkan pasukan APRA dengan menembaki dari atap Hotel ­Preanger Hotel.

Pasukan pemberontak APRA yang sedang banyak di jalan, ke­mudian balik menembak ke arah hotel, sehingga banyak tamu berlindung di bawah meja dan kursi.

Tak lama kemudian, kata saksi itu, dari arah selatan muncul bala bantuan pemberontak ke pusat Kota Bandung menggunakan sejumlah truk hasil rampasan dari tentara Indonesia. Di tengah sengitnya baku tembak, pasukan Indonesia tampak ­sudah mengalami korban sangat banyak.

Setelah baku tembak mereda, disebutkan bahwa jalan di pusat Kota Bandung men­jadi lengang. Sejumlah ambulans Belanda bermunculan untuk mengevakuasi para korban dari kedua pihak, baik APRA maupun dari pihak Indonesia.

Disebut-sebut, pasukan APRA yang di­pimpin oleh Raymond Westerling di Bandung itu, para personelnya hampir semua­nya sama, yakni dikerahkan saat Agresi Militer II ”Operasi Gagak”, di Yogyakarta, 19 Desember 1948.

Orang-orang tersebut adalah orang yang sama yang diterjunkan dari pesawat-pesawat Belanda di Lapangan Terbang Maguwo, yang kemudian menang­kap Presiden Soekarno.

Beberapa jam sebelum serangan dimulai, Westerling menginformasikan kepada koresponden Australian Associated Press dan Reuters bahwa aksi pasukan APRA bertujuan memusnahkan kekuatan Tentara

Nasional Indonesia di Jawa Barat, termasuk Jakarta, menangkapi orang-orang Indonesia di kabinet. Pasukannya kemudian membentuk pemerintah baru di Jawa Barat.

Sehari berikutnya, The Age terbitan ­Melbourne, pada 25 Januari 1950 mem­beritakan bahwa pihak Tentara Nasional Indonesia yang dikirimkan dari Jakarta dan Surabaya sudah mampu kembali ­menguasai Kota Bandung.

Soal mengapa pasukan Belanda kemudian muncul ke Bandung, komandan pasukan di wilayah Jawa Barat, Jenderal Engles mengatakan, hal itu lebih bertujuan untuk melindungi orang-orang Belanda.

Seorang juru bicara pasukan Belanda mengatakan, 50-an tentara pasukan komando mengikuti Westerling yang kemudian ditangkap oleh militer Belanda lalu diterbangkan ke Jakarta.

Ada pula 100-an orang mantan Tentara Nasional Indonesia yang bergabung ke Westerling, kemudian kembali bertugas ke pasukan Negara Pasundan.

Terdakwa Leon Nicolaas Hubert Jungschlaeger

Setelah terjadinya pemberontakan APRA di Bandung, ada hal menarik terkubur zaman terkait dengan sejarah pemberontak­an APRA ini, Raymond Westerling kemudian lolos, tetapi muncul seorang terdakwa yaitu orang Belanda bernama Leon Nicolaas Hubert Jungschlaeger.

Ia didakwa oleh pengadilan di Jakarta pada tahun 1956 sebagai koordinator sejumlah pemberon­tak­an terhadap Republik Indonesia pada tahun 1950-an itu.

R. Soenario dalam buku yang ditulisnya, Proses Jungschlaeger terbitan Gunung Agung Jakarta tahun 1956 menyebutkan, Jungschlaeger tiba-tiba tewas, setelah dinyatakan terbukti sebagai biang keladi pemberontakan APRA, DI/TII, dll. Jungschlaeger meninggal secara tiba-tiba pada 19 April 1956, atau sepekan sebelum hakim bernama Maengkom ­menjatuhkan keputusannya pada 27 April 1956. Saat itu, pengadilan menuntut hukuman mati terhadapnya.

LEON Nicolaas Hubert Jungschlaeger/MAASTRICHTSEGEVELSTENEN

Dalam buku itu ada yang menyimpulkan bahwa Jungschlaeger tewas karena bunuh diri. Meskipun demikian, pihak Rumah Sakit Cikini Jakarta dalam catatan medisnya menyatakan bahwa ia meninggal karena penyakitnya.

Ada pula spekulasi yang menyebut bahwa ada pihak-pihak berkepentingan agar Jungschlaeger harus sudah mati sebelum divonis.

Jungschlaeger tercatat pernah bekerja sebagai personel perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschhappij (KPM). Namun, ia pernah memperoleh pelatihan kemiliteran di Australia semasa Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan pernah ­menjadi personel militer Belanda tahun 1948.

Dalam buku itu ditulis bahwa pengadilan di Jakarta menuduh Jungschlaeger telah memimpin gerakan empat organisasi ­untuk merobohkan Republik Indonesia Serikat yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Keempat organisasi itu adalah APRA dengan operasional dan teknisnya dipimpin Kapten Westerling, NIGO (Ne­derlandsch Indisch Guerilla Organisatie), White Eagle, dan NZH (Nederland Zal ­Herrizen).

Disebut-sebut ada pula keterlibatan sejumlah individu personel dari Perkebunan Darmaga Bogor, Perkebunan Cikasungka Bogor, dan Perkebunan Serpong Tangerang, tetapi kemudian banyak dibantah banyak pihak.

Ditulis pula oleh Soenario, nama Kapten Westerling muncul saat menjelang Peng­akuan Kedaulatan Republik Indonesia pada Desember 1949. Nama Westerling ditulis hadir bersama Kartosuwiryo (pemimpin Darul Islam), dan sejumlah tokoh Negara Pasundan dalam sebuah perundingan di Gedung Pakuan Bandung.

Disebutkan pula dalam buku itu, pada Januari 1950, Kartosuwiryo berunding kembali dengan Kapten Westerling, sejumlah tokoh Negara Pasundan, Panglima Darul Islam yaitu Oni, dan beberapa pembesar Belanda di Hotel Preanger Bandung.

Dalam pertemuan itu, diputuskan akan dilakukan se­rangan umum oleh Darul Islam dan APRA terhadap kota-kota besar di Jawa Barat.

Disebutkan keterangan sejumlah saksi, yang mengatakan, Darul Islam (diawali Laskar Hizbullah/Fisabilillah) sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat sejak tahun 1947-1948.

Pada 1949 pemerintahan Republik ­Indo­nesia sudah dianggap tak ada di Jawa Barat akibat menyepakati Perjanjian Renville.

Disebut-sebut pula, laskar Hizbullah dan Fisabilillah (kemudian bergabung menjadi Darul Islam) sejak tahun 1947 memang sangat bermusuhan dengan Belanda.

Mema­suki tahun 1949, khusus kelompok pasukan Belanda yang dipimpin Westerling dkk, diduga sudah ada hubungan baik de­ngan Darul Islam karena adanya kesamaan kepentingan.

Kembali kepada Raymond Westerling, dalam ketera­ngannya yang dikutip surat kabar The Northern Mine terbitan 24 ­Januari 1950, ia mengatakan bahwa alasan pihaknya melakukan aksi di Bandung itu karena pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta tak mampu mengakomodasi Indonesia secara keseluruhan. Di Jawa Barat sendiri ada empat pemerintah, yaitu politisi Jakarta, Negara Pasundan, Darul ­Islam, dan komunis.

SUASANA menjelang hijrah pasukan Tentara Nasional Indonesia Divisi Siliwangi dari Perkebunan Maswati menuju Yogya­karta pada Februari 1948. Seorang perwira pasukan Kanada (berdasi) di antara sejumlah tentara Siliwangi dan sejumlah tentara Belanda dari Resimen Huzaren van Boreel.*/NATIONAAL ARCHIEF

Dalam surat kabar itu disebutkan, Wes­terling menilai Presiden Soekarno tak memiliki kepedulian terhadap Jawa Barat. Oleh karena itu, ia memiliki keinginan adanya pemerintahan kuat di Jawa Barat melalui Negara Pasundan di Bandung dan Jakarta.

”Jika Bandung ditinggalkan, risiko­nya terjadi kekacauan dan kelaparan, yang dapat memunculkan komunisme sebagai ­ancaman nyata,” ujar Westerling.

Catholic Weekly terbitan Sydney pada 16 Februari 1950 memberitakan, aksi yang dilakukan pasukan Westerling terjadi saat jaringan Freemasonry sedang gencar menyebarkan pengaruhnya di Indonesia.

Kelompok Freemasonry juga diketahui bertanggung jawab memunculkan banyak konflik di antara pemeluk agama Katolik, ketika di Pulau Jawa ada 500.000 orang penganut Katolik.

Disebutkan pula oleh surat kabar tersebut, situasi di Indonesia saat itu mulai terjadi banyak kekacauan, yang berisiko membuka jalan bagi berkembangnya komunis­me.

Kalangan nasionalis di pemerin­tahan Indonesia diharapkan mampu ­menjaga kerukunan beragama, sehingga muncul persatuan nasional.

Perang ideologi di Tasikmalaya

Pada 17 Januari 1948, peme­rintah Republik Indonesia de­ngan Belanda menyepakati perjanji­an Renville di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Ren­ville.

Akibat perjanjian itu, Indonesia diharus­kan menarik pasukannya di Jawa Barat ­hijrah ke wilayah Republik di Yogya­karta dan Jawa Tengah.

Dalam sejarah umum, Belanda kemudian leluasa mencoba menguasai Jawa Barat. ­Pada masa-masa itu, ada pula aksi pasukan Korps Speciale Tropen (KST) Belanda yang merupakan pasukan komando.

Para personel KST Belanda berbeda-beda kebang­sa­annya. Ada yang terdiri atas orang-orang Belanda, orang-orang Indonesia dari sejumlah suku ter­tentu, juga ada terdiri sejumlah orang ­Jerman.

SUASANA registrasi pasukan Tentara Nasional Indonesia di Tasikmalaya untuk hijrah ke wilayah Republik Indonesia di Jawa Tengah dan Yogyakarta, pada 5 Februari 1948.*/NATIONAAL ARCHIEF BELANDA

Aksi pasukan KST Belanda yang para personelnya terdiri atas orang-orang Jerman, merupakan kisah nyaris tak tercatat sejarah ter­kait aksi yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling saat masih menjadi tentara Belanda di In­donesia, yang dilakukan di Cikalong, Tasikmalaya selatan, pada Juli 1948.

Gambaran tersebut diperoleh dari sejumlah arsip yang Pikiran Rakyat kumpulkan dari arsip surat kabar yang tersimpan di Koninklijke ­Bibliotheek Delpher Belanda dan National ­Library of Australia Trove, sebenar­nya aksi pasukan yang di­pimpin oleh Raymod Wes­terling ada tiga peristiwa, bukan dua seperti yang selama ini dicatat sejarah umum ­Indonesia.

Dari tiga aksi yang dipimpin ­Raymond Westerling itu, ternyata ma­sing-masing pasukan yang dibawa­nya berbeda-beda ke­bangsaannya berikut berbeda-beda sasarannya antara di Bandung tahun 1950, di Tasikmalaya tahun 1948, dan di ­Sulawesi Selatan tahun 1946.

Khusus saat aksi di Cikalong, Tasikmalaya itu, Raymond Westerling mengerahkan ratus­an orang mantan tentara Nazi Jerman yang sudah tak berperang seusai Perang Dunia II sejak Mei 1945.

Ada yang terlihat, di mana sejumlah pemberitaan bernada kecaman terhadap aksi ­pasukan dipimpin Kap­ten Westerling di Cikalong Tasik­malaya tersebut, umumnya muncul dari sejumlah surat kabar berhaluan kiri. Namun, tak didapati ada surat kabar berhaluan kanan maupun independen yang memberitakannya atas berbagai latar belakang tertentu.

Sebagai gambaran umum, semasa Perang Dunia II, pasukan Jerman ter­diri atas Wehrmacht merupakan pasukan reguler, serta pasukan ­Waffen SchutzStaffel (SS) yang me­rupakan bentukan partai Nazi.

Se­usai perang, Jerman terbelah menjadi dua. Para mantan tentara reguler Wehrmacht mene­rus­kan kariernya sebagai tentara, baik di Jerman Barat (Bundeswehr) dan Jerman Timur (Nationale Volksarmee).

Lain halnya pasukan Waffen SS kemudian bubar, para mantan tentaranya banyak di­buru dan diekse­kusi oleh pihak Sekutu, Uni Soviet, dan Israel. Sebagian bersembunyi di sejumlah negara. Namun, tak sedikit kemudian menjadi tentara bayaran dengan ideo­logi Nazi yang tetap ­kuat, yaitu anti terhadap Yahudi/­Freemason, komunis, ­homoseksual, Saksi Yehova, gipsi, dan kriminal.

Kisahnya diawali Limburgsch Dagblad terbitan 30 Desember 1947 yang memberita­kan me­ngutip jurnalis surat kabar terbitan partai komunis Uni Soviet, yaitu Pravda, mengabarkan dari Berlin, Jerman pada 25 Desember 1947, sebuah divisi bermotor lengkap terdiri ratusan mantan tentara Nazi yang dipimpin Hans Mueller dikirim ke ­Pulau Jawa untuk memerangi sasaran telah ditentukan, de­ngan hanya disebutkan ”penduduk asli’.

Orang-orang mantan tentara Nazi itu direkrut di bagian barat Jerman di­selundupkan melalui utara Jerman, kemu­dian sampai ke Amsterdam mengena­kan ­seragam tentara Belanda.

Aksi pembersihan

Memasuki masa pendudukan Belanda di Jawa Barat tahun 1948, De Waarheid terbitan 27 Juli 1948 memberitakan, sebuah ­pasukan KST Belanda dipimpin oleh Kapten ­Westerling melakukan aksi membakar sebuah desa, mengeksekusi 150 orang serta menghancurkan 980 ton ca­dangan beras dalam sebuah aksi pem­bersihan di Cikalong, Tasikma­laya.

Mengutip Kantor Berita Associated Press, Westerling diketahui pada 1946 me­mim­pin ­pasukan KST ­Belanda lainnya, yang mengesekusi sekitar 5.000 orang di Sulawesi Selatan, saat menangkapi 30.000 orang dengan alasan tertentu.

Diberitakan, terhadap aksi ­pasuk­an yang dipimpin Westerling di Cikalong itu, pemimpin mi­liter Belanda di Indonesia, Jenderal Spoor enggan melakukan penyidik­an. Alasannya, pasukan KST yang di­pimpin ­Raymond Westerling yang beraksi di Cikalong itu bukan di ba­wah instruksi langsung dari Batavia.

Het vrije volk pada 16 Agustus 1948, juga memberitakan aksi pasukan yang dipimpin Kapten ­Westerling ini, dengan menyebut­kan, khusus di Jawa Barat, selain 150 orang di Cikalong Tasikmalaya, juga telah menghabisi 300 orang dan melukai 200 orang sipil di Ka­rawang, serta menghabisi 200 orang lainnya di Cirebon. Buletin ini juga menuduh pihak berwenang Belanda telah menolak mempublikasikan peristiwa ini.

Di Australia, surat kabar resmi partai komunis setempat, yaitu ­Tribune, terbitan Sydney, New South Wales pada 15 Agustus 1948, memberitakan, pasukan Belanda yang ber­aksi di Cikalong, Tasikma­laya, yang dipimpin Westerling itu, para personelnya terdiri atas ratusan orang mantan tentara Nazi Jerman.

Saat beraksi di Cikalong itu, pasukan Belanda itu menggunakan berbagai senjata buatan Amerika, serta mela­kukan serangan udara dan menggunakan bayonet untuk meng­ekseku­si orang-orang yang jadi sasarannya.

Berita bersangkutan menyebut­kan, pihak-pihak di Australia yang memprotes aksi ­pasukan Westerling terhadap orang-orang di Cikalong, Tasikmalaya itu, umumnya muncul dari sesama pihak-pihak komunis dan progresif lainnya di Australia. Seorang wakil Belanda, Profesor Karl Enthoven, menyelidiki fakta namun Pemerintah Belanda melarang melakukan publikasi.

The Workers Star, terbitan Perth, pada 20 Agustus 1948, juga memberitakan, serangan pasukan Belanda yang terdiri ratusan orang Jerman mantan Nazi menggunakan senjata Amerika itu, telah meng­eksekusi banyak orang di Cikalong, Tasikmalaya. Serangan ­pihak Belanda itu dilakukan dari arah teluk di pantai tersebut.

Terjadinya sejumlah peristiwa konflik ­ideologi pada masa-masa tahun 1948, tampaknya dapat diduga rangkaiannya dari pemberitaan The Workers Star terbitan Perth, pada 9 Juli 1948 menga­bar­kan adanya kesepakatan pertu­karan konsul antara Uni ­Soviet dan Republik Indonesia sehingga menyebabkan kegemparan di Eropa. Ber­bagai surat kabar anti-komunis di Belanda, terutama berhaluan kanan, bereaksi keras terhadap jalinan Uni Soviet-Republik Indonesia itu.

Diberitakan pula, kegemparan terhadap jalinan Uni Soviet-Republik Indonesia juga membuat malu sebagian kalangan pemerintah Republik Indonesia.

Orang-orang pemerintahan dimaksud Indonesia yang ­setia terhadap Republik Indonesia menjadi beralih lebih mendukung kepada Wakil ­Presiden Indonesia, Mohamad Hatta (diban­dingkan terhadap ­Presiden Soekarno).

Catatan sejarah umum pula, hadirnya ­Belanda ke Indonesia sendiri, di­ketahui disponsori pihak Amerika Serikat melalui Marshall Plan, yang memasok dana maupun perlengkap­an militer sejak Agresi Militer I tahun 1947.

Salah satu tuju­annya adalah memulihkan per­eko­no­mian dengan target tahun 1948-1952, termasuk di Indonesia dengan cara mem­bendung dan menumpas ­gerakan komunisme.

The Age terbitan Melbourne, pada 5 Februari 1948, memberitakan Marshall Plan ­memang melakukan tindakan membendung komunisme yang dimotori Uni Soviet. Situasi seusai Perang Dunia II ternyata menciptakan keadaan lebih banyak menguntungkan bagi Uni Soviet, yang sebelumnya berperan utama dalam mengalahkan Nazi Jerman.

Buku Bahaya Laten Komunisme di Indo­nesia Jilid I dan Jilid II ter­bit­an Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI Markas Besar Ang­katan Ber­senjata Republik Indonesia, Jakarta, 1995, menyebutkan, pihak komunis ­Indonesia sejak Oktober 1945 sudah banyak melakukan teror, kekerasan, dan pembe­ron­takan berupaya merebut kekuasaan untuk meng­ubah Republik Indonesia menjadi ­ne­gara komunis berkiblat kepada Uni Soviet yang dipimpin Josef ­Stalin.

Puncaknya terjadi di Madiun, Jawa Timur, pada 18 September 1948, orang-orang komunis yang di­pimpin ­Musso melakukan pemberontakan untuk ”memproklamasikan” negara Soviet Republik Indonesia, dengan menimbulkan banyak korban tewas.

Buku itu juga menyebutkan, pihak Republik Indonesia kemudian menumpas pembe­rontakan komunis di Madiun atas perintah langsung Wakil Presiden Mohamad Hatta yang juga merangkap Menteri ­Pertahanan Republik Indonesia. Ada pun pasukan Republik Indonesia yang menjadi andalan adalah ­Tenta­ra Nasional Indonesia Divisi Siliwa­ngi.***

Bagikan: