Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 28.6 ° C

Tabloid Indonesia Barokah Kadung Masuk Masjid dan Pesantren di Jawa Barat, Peredaran Dihentikan

Tim Pikiran Rakyat
TABLOID Indonesia barokah/DODO RIHANTO/PR
TABLOID Indonesia barokah/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Karawang menemukan ribuan tabloid Indonesia Barokah yang siap disebar melalui kantor Pos. Tabloid itu berisi propaganda perpecahan bangsa dan diduga mendeskreditkan salah satu calon presiden.

Temuan tersebut langsung ditindaklanjuti Bawaslu dengan cara melarang kantor pos menyebarkan tabloid itu ke alamat yang sudah ditentukan.

"Kami, bersama jajaran Kepolisian Resor Karawang telah mendatangi kantor pos untuk mencegah peredaran tabloid itu," ujar Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Karawang, Charles Silalahi, Kamis 24 Januari 2019.

Menurut Charles, dari hasil koordinasi Bawaslu dengan kantor Pos Karawang, ditemukan 247 amplop berisi tabloid Indonesia Barokah yang siap disebar ke semua kantor pos kecamatan. Masing-masing amplop berisi 3 dan 5 eksemplar tabloid.

"Kami telah meminta kantor Pos Karawang agar tidak mengirimkan paket tabloid Indonesia Barokah. Jika sudah terlanjur dikirimkan, Bawaslu juga sudah berkordinasi dengan Polres Karawang agar mengamankan tabloid itu," katanya.

UJARAN kebencian/UNZ

Bawaslu sudah mengintruksikan pula  kepada seluruh panwascam untuk menyisir masjid dan pondok pesantren  guna mencari tabloid itu. Hal serupa dilakukan juga oleh kepolisian dengan mengintruksikan jajarannya agar mengamankan tabloid Indonesia Barokah.

“Kami juga masih menunggu intruksi dari Bawaslu Jabar terkait hal ini. Untuk sementara, kami baru mendata penyebaran tabloid itu,” kata Charles.

Ia mengatakan, Bawaslu Karawang sudah menerima laporan dari sejumlah panwascam yang menemukan tabloid Indonesia Barokah di sejumlah masjid.

"Bawaslu berharap masyarakat yang menemukan tabloid Indonesia Barokah segera menyerahkannya ke kepolisian terdekat atau ke panwascam masing-masing daerah," katanya.

Dari data sementara yang diterima Bawaslu Karawang, 330 eksemplar tabloid Indonesia Barokah sudah terlanjur tersebar di sejumlah kecamatan seperti Purwasari, Cilamaya Wetan, Klari, Tempuran, Telagasari, Lemahabang, Kutawaluya, Majalaya, Banyusari, dan Ciampel.

Menurut Charles, jumlah penyebaran tabloid itu disinyalir bakal terus bertambah. Apalagi, Bawaslu Karawang masih menyisir masjid dan pesantren yang ada di Karawang.

Majalengka terpapar

Kementrian Agama Majalengka segera mengirim surat ke sekolah-sekolah terkait beredarnya tabloid yang diduga berisi ujaran kebencian yang mereka terima. Sementara bagi yang sudah menerima tabloid itu diimbau segera mengamankan dan tidak menyebarluaskannya.

Kantor Pos Majalengka masih menahan sejumlah amplop berisi tabloid Indonseia Barokah karena banyaknya Panwascam yang datang mengadukan persoalan tesrebut ke Kantor Pos serta adanya permintaan resmi dari Bawaslu Majalengka untuk tidak didistribusikannya sebelum ada keputusan menyangkut tabloid tersebut dari Bawaslu Jawa Barat.

Kepala Seksi Pendidikan Agam Islam Kementrian Agama Majalengka Aef Saefulloh, Kamis 24 Januari 2019 mengatakan, sekolah bukan tempat kampanye dan dilarang untuk terlibat politik praktis.

Semua gurunya, terlebih ASN, harus berada di posisi netral. Makanya ketika ada kiriman tabloid ke sejumlah  sekolah, segera diantisipasi agar tidak semakin menyebar.

Manajer Proses dan Antar  Kantor Pos Majalengka Cecep Abdul Wahid mengungkapkan, awalnya dia tidak mengetahui apa isi dari amplop yang didistribusikannya. Dan baru diketahui setelah banyaknya pengaduan dari panwascam serta sejumlah  guru.

“Saya awalnya tidak mengetahui amplop dari alamat tersebut berisi tabloid. Setelah banyak yang mengadu, akhirnya saya tahu, kebetulan juga ada kakak yang rumahnya pinggir mesjid dan menerima tabloid tersebut jadi saya penasaran kemidian minta untuk di lihat,” kata Cecep.

Terkait banyaknya pengaduan dan atas permintaan Bawaslu , Kantor Pos Majalengka untuk sementara menghentikan pendistribusian amplop dari pengirim yang sama yang diduga berisi tabloid Indonseia Barokah.

Amplop berisi tabloid Indonseia Barokah tersebut, menurut dia, diterima pada 19 Januari 2019 lalu kiriman dari Kantor Pos Jakarta Selatan. Dari hasil rekapitulasi, diketahui bahwa amplop tersebut didistribusikan oleh 19  hantaran atau 19 pos pembantu yang tersebar di beberapa 15 kecamatan.

Amplop yang sudah diantar ke sekolah-sekolah dan pondok pesantren sebanyak 546 sedangkan sisanya, 507 amplop masih berada di Kantor Pos Cabang.

Kuningan menolak

MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kuningan menyatakan sikap menolak adanya penyebaran tabloid, pamflet, selebaran atau apa pun yang berisi konten kegiatan politik ke masjid-masjid di Kuningan.

Pernyataan sikap MUI dan DMI Kuningan itu dikeluarkan dan dibacakan Ketua MUI Kuningan Abdul Azis Ambar Nawawi melalui acara resmi di Markas Kepolisian Resor Kuningan, Kamis 24 Januari 2019.

Bawaslu Kuningan  mengatakan, tablod Indonesia Barokah sudah tersebar ke 320 masjid dan pondok pesantren di 28 kecamatan di Kuningan.

BPN: Indonesia Barokah Sudutkan Prabowo-Sandiaga Uno

Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Sudirman Said tidak risau atas peredaran ribuan eksemplar Tabloid Indonesia Barokah di sejumlah masjid di Jawa Barat.

Sudirman Said mengatakan, tabloid Indonesia Barokah berisi fitnah yang menyudutkan paslon tertentu merupakan cara primitif dan bertentangan dengan prinsip Prabowo-Sandiaga Uno yang menganggap pesta demokrasi sebagai ajang memberikan pendidikan politik bagi rakyat.

"Biar masyarakat lihat, itu cara-cara primitive. Menurut saya dan sudah dari awal saya mengatakan, ayo kita adu gagasan, adu kebaikan, adu pesan-pesan baik, jangan menyebarkan hal begitu. Biar masyarakat menilai. Tidak mungkin kami bikin sendiri, yang bikin pasti orang lain. Jadi biar saja," kata Sudirman Said seperti diberitakan Antara.

Dia menjelaskan bahwa peredaran tabloid Indonesia Barokah akan menggembosi elektabilitas Prabowo-Sandiaga Uno.

Justru sebaliknya, dia menyebut, pihak yang menyerang Prabowo-Sandiaga Uno dengan membabi-buta adalah pihak yang takut kalah. (Dodo Rihanto, Nuryaman, Tati Purnawati, Yusuf Wijanarko)***

Bagikan: