Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Waspada, BMKG Sebut Wilayah Majalengka Mulai Masuk Puncak Musim Hujan

Agus Ibnudin
PRAKIRAWAN Cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Jatiwangi, Ahmad Faa Iziyn.* AGUS IBNUDIN/PR
PRAKIRAWAN Cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Jatiwangi, Ahmad Faa Iziyn.* AGUS IBNUDIN/PR

MAJALENGKA, (PR).- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa wilayah Majalengka dan sekitarnya saat ini tengah memasuki puncak musim hujan. Hal itu seiring dengan tingginya tingkat curah hujan yang terjadi di sejumlah daerah di kabupaten tersebut.

“Puncak musim hujan pada Januari dan Februari. Tepatnya diperkirakan pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari,” ujar Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Jatiwangi, Ahmad Faa Iziyn kepada Pikiran Rakyat di Majalengka, Rabu 16 Januari 2019.

Faiz juga menjelaskan, intensitas curah hujan yang akan terjadi termasuk kategori tinggi, yaitu di atas 300 milimeter per bulan. Khusus untuk wilayah Majalengka bagian selatan, curah hujan dipengaruhi oleh faktor lokal dekat pegunungan dibandingkan dengan wilayah Majalengka lainnya. Itu menyebabkan di wilayah selatan Majalengka intensitas curah hujan lebih banyak.

“Akan tetapi, semua wilayah Majalengka diperkirakan tetap masuk dalam kategori tinggi,” jelasnya.

Secara umum, puncak musim hujan terjadi apabila intensitas hujan tinggi dan lama, serta disusul dengan luasan wilayah yang terdampak. Setelah pertengahan Februari nanti, tren curah hujannya akan menurun. “Biasanya (intensitas hujan) mulai menurun pada Maret, April, dan Mei,” katanya.

Terkait dengan musim hujan, terdapat sejumlah dampak bencana alam yang kemungkinan berpotensi terjadi, seperti banjir, longsor, dan pergerakan tanah.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka, Kabupaten Majalengka merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang tergolong rawan bencana alam. Kondisi geografis yang dipenuhi perbukitan dan dataran tinggi menjadi faktor utama tingginya potensi rawan bencana alam.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Majalengka, Indrayanto dalam keterangan pers belum lama ini menyebutkan, tipologi Kabupaten Majalengka adalah wilayah utara merupakan dataran rendah, sedangkan wilayah selatan merupakan dataran tinggi.

BPBD Kabupaten Majalengka juga mengingatkan untuk mewaspadai daerah rawan bencana alam, seperti longsor, banjir, dan pergerakan tanah. Potensi musibah pergerakan tanah tersebar di 19 kecamatan, dan sebagian besar dari wilayah-wilayah itu berada di kawasan selatan. Sedangkan, potensi longsor berada di 15 kecamatan dan potensi banjir di 15 kecamatan.***

Bagikan: