Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

BPS Sebut Jumlah Warga Miskin di Karawang Berkurang Signifikan

Dodo Rihanto
ILUSTRASI program pengentasan kemiskinan.*/ANTARA
ILUSTRASI program pengentasan kemiskinan.*/ANTARA

KARAWANG, (PR).- Badan Pusat Statistik (BPS) Karawang mengungkapkan data bahwa jumlah penduduk miskin di daerah lumbung padi tersebut pada 2018 mengalami penurunan cukup signifikan. Tiga faktor yang membuat jumlah penduduk miskin turun, adalah bantuan pemerintah yang tepatnya sasaran, pengendalian inflasi, dan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP).

Hal itu disampaikan Kepala BPS Karawang, Slamet Waluyo, Rabu 16 Januari 2019. "Angka penduduk miskin di Karawang turun 8,06 persen. Tahun 2017, angka penduduk miskin di Karawang mencapai 236,84 ribu, namun merosot di 2018 menjadi 187,96 ribu," kata Slamet Waluyo.

Dijelaskan, tiga faktor yang mempengaruhi penurunan itu adalah bantuan sosial kepada masyarakat tepat waktu dan tepat sasaran. Misalnya, bentuk Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Beras Sejahtera (Rastra), Dana Desa, Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). 

Faktor berikutnya adalah keberhasilan pemerintah daerah dalam menjaga inflasi. "Inflasi selama tahun 2017 sebesar 3,49 poin dan 2018 sebesar 3,59 poin," katanya.

Menurut Slamet, stabilitasnya inflasi membuat penambahan pendapatan masyarakat jadi berarti. Kuncinya adalah penanggulangan inflasi terutama pada komoditas yang berkontribusi paling besar pada pengeluaran keluarga miskin. 

"Beberapa komoditas penyumbang kemiskinan ini adalah beras, rokok kretek filter, serta telur ayam ras, daging ayam, mi instan dan gula pasir. Lalu komoditi bukan makanan yang ikut memberi sumbangan terbesar untuk kemiskinan, baik di perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, hingga perlengkapan mandi," katanya.

Faktor yang ke tiga, lanjut Slamet,  Nilai Tukar Petani (NTP) pada  2018 terbilang tinggi, yakni 102,02 poin atau di atas 100 poin. "Harga jual hasil tani meningkat tajam. Bukan hanya harga gabah yang naik, tetapu juga hasil ternak, perikanan, hortikultura, dan lain-lain," katanya.

Namun demikian, Waluyo juga mengatakan, garis kemiskinan Karawang pun mengalami peningkatan sebesar 6,21 persen dari Rp 408.579,- per kapita per bulan pada 2017, menjadi Rp 433.972,- per kapita per bulan di 2018. Artinya, pendapatan mereka yang dikategorikan miskin mengalami peningkatan sebesar Rp 25.393,-.

"Hal itu dipicu naiknya daya beli. Kemudian inflasi stabil, NTP naik, dan perekonomian naik,"  ujarnya.***

Bagikan: