Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 25.3 ° C

Daya Tampung TPST Bantargebang Diperkirakan Habis Dua Tahun Lagi

Riesty Yusnilaningsih
RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BEKASI, (PR).- Kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang diperkirakan tersisa dua tahun. Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mulai merintis 'landfill mining' terhadap tumpukan-tumpukan sampah berusia tua. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Aji di sela kegiatan optimalisasi TPST Bantargebang, Selasa 15 Januari 2019.

Isnawa mengatakan, di tahun 2019, TPST Bantargebang telah memasuki usia yang ke-30 tahun. Dari total lahan TPST seluas 110 hektare, sekitar 90 hektare di antaranya telah digunakan untuk menumpuk sampah dengan sistem 'sanitary landfill'.

"Dengan luas lahan ini, kapasitas tampung sampah TPST Bantargebang bisa mencapai 49 juta ton. Adapun hingga saat ini, 90 hektare lahan yang digunakan telah menampung 39 juta ton sampah. Saya perkirakan dalam waktu dua tahun, sisa lahan 20 hektare yang tersisa akan menampung sampah hingga kapasitas maksimalnya, yakni 49 juta ton," kata dia. Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi setiap harinya tak kurang dari 7.400 ton sampah warga DKI Jakarta berakhir di TPST Bantargebang.

Menghadapi kenyataan tersebut, Isnawa mengatakan, Pemprov DKI Jakarta pun telah mempersiapkan sejumlah strategi penanganan masalah sampah. Mulai dari pengoperasian fasilitas pengolahan sampah 'Intermediate Treatment Facility' di Sunter, pengurangan sampah sejak di sumber, juga optimalisasi TPST Bantargebang.

Perihal optimalisasi TPST Bantargebang ini, Pemprov DKI Jakarta telah menggandeng sejumlah pihak untuk pelaksanaan 'landfill mining' di timbunan-timbunan sampah tua. Pihak dimaksud antara lain Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT Holcim Indonesia Tbk, dan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung.

Isnawa menjelaskan, 'landfill mining' yang dimaksud ialah menambang sampah yang sudah tertimbun lama di zona 'landfill' untuk selanjutnya dapat dipergunakan kembali.

"Dengan melakukan 'landfill mining', timbunan sampah dapat direduksi sehingga dapat menambah kapasitas penimbunan sampah, memulihkan area hingga dapat digunakan kembali menjadi sebuah lahan baru," katanya.

Berdasarkan hasil studi kelayakan yang dilakukan tenaga ahli dari Teknik Lingkungan ITB, adalah zona IV B2 yang memungkinkan untuk dilakukannya 'landfill mining' lebih dulu karena kemiringan lerengnya relatif aman.

"Sampah yang dikeruk juga berpotensi menjadi bahan bakar alternatif. Untuk mengujinya, kami bekerja sama dengan PT Holcim Indonesia Tbk yang akan meneliti kemungkinan mempergunakannya sebagai bahan bakar pembuatan semen," katanya.

Karena 'landfill mining' ini merupakan hal baru, dalam pelaksanaannya nanti, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta akan didampingi juga Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.***

Bagikan: