Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Warga Desak Penampungan Limbah Plastik Ditutup

Tommi Andryandy
WARGA mengungsi di tenda BPBD Kabupaten Bekasi usai tempat penampungan limbah plastik di Kampung Pegadungan Kelurahan Serta Jaya, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, terbakar pekan lalu. Warga lantas mendesak tempat pembuangan limbah plastik di sekitar lingkungan mereka itu ditutup.* TOMMI ANDRYANDY/PR
WARGA mengungsi di tenda BPBD Kabupaten Bekasi usai tempat penampungan limbah plastik di Kampung Pegadungan Kelurahan Serta Jaya, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, terbakar pekan lalu. Warga lantas mendesak tempat pembuangan limbah plastik di sekitar lingkungan mereka itu ditutup.* TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Warga Kampung Pegadungan, Kelurahan Serta Jaya, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi mendesak tempat pembuangan limbah plastik di sekitar lingkungan mereka ditutup. Pekan lalu, lokasi pembuangan itu terbakar hingga memaksa ratusan warga mengungsi.

Warga menilai keberadaan tempat pembuangan limbah plastik yang berada tengah di tengah-tengah pemukiman itu memiliki banyak dampak negatif. Selain kerap menimbulkan bau tak sedap, tumpukan limbah plastik itu juga mudah tersulut api sehingga berpotensi menimbulkan kebakaran lagi.

“Namanya limbah plastik, jadi mudah terbakar. Makanya warga minta tempat ini segera ditutup dan tidak digunakan lagi sebagai tempat pembuangan limbah,” kata Ketua RT 01/06, Andi Ncek (52), Minggu 13 Januari 2019.

Diungkapkan Andi, kebakaran yang terjadi pekan lalu itu bukan kali pertama. Sebelumnya, lokasi pembuangan limbah itu pernah terbakar. “Jadi sudah dua kali, yang pertama dulu waktu tumpukan limbahnya masih sedikit. Jadi warga ingin agar peristiwa kemarin jangan sampai terulang lagi, mending kalau ditutup aja, pindah ke yang lain,” ucapnya.

Diketahui, lahan pembuangan limbah plastik itu terbakar pada Sabtu, 5 Januari 2019 sore. Api seketika membesar karena material plastik yang mudah terbakar. Apalagi, lahan tersebut memiliki luas hingga 5.000 meter persegi dengan kedalaman tumpukan limbah plastik mencapai lima meter.

Sedikitnya diperlukan waktu sembilan jam dengan 17 mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan. Namun, saat pendinginan, muncul kembali asap tebal dari plastik yang terbakar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi pun langsung mengungsikan 20 keluarga yang tinggal di sekitar lokasi limbah. Beberapa mengungsi di rumah saudara mereka, sedangkan warga lainnya tinggal di tenda yang disediakan BPBD.

Yandi (31), warga lainnya, mengaku masih khawatir kebakaran kembali terjadi. “Kalau sekarang alhamdulillah sering hujan. Api kalau nanti cuaca panas, kan khawatir juga. Mana bukan sekali ini kebakaran,” kata. Bersama pengungsi yang lain, Yandi telah kembali ke rumahnya.

Camat Cikarang Timur, Ani Gustini membenarkan adanya desakan warga untuk menutup lokasi itu. Hanya, ia tidak bisa memutuskan karena kewenangannya ada di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi.

“Soal warga yang menghendaki lokasi itu ditutup, kelanjutannya masih ditangani Dinas LH. Rekomendasinya seperti apa kami belum tahu, termasuk dari mana api berasal itu juga masih diselidiki pihak yang berwenang,” ucap Ani.

Tidak berizin

Kepala Bidang Penataan dan Penegakan Hukum Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Arnoko mengatakan, pemilik usaha penampungan limbah plastik itu tidak memiliki izin. Maka dari itu, pemilik usaha limbah diminta untuk menghentikan aktivitasnya.

“Saat meninjau di lapangan secara maraton dalam sepekan, kami sampaikan pada pemilik agar menghentikan aktivitasnya sementara. Kami minta yang bersangkutan memenuhi izin yang dibutuhkan. Kami minta aktivitas dihentikan sampai izin terpenuhi,” kata dia.

Kemudian dari sisi lingkungan hidup, pihaknya meninjau langsung ke lapangan setelah Dinas Pemadam Kebakaran memadamkan api. Dari hasil peninjauan, tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya dan beracun (B3) pada sampel limbah plastik yang terbakar. Namun, diakui dia, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan itu.

Lebih jauh, di sisi lingkungan hidup, kasus ini pun telah masuk dalam ranah Penegak Hukum Terpadu (Gakumdu). “Dari hasil peninjauan kasat mata limbah itu bukan B3, kami tinjau secara kasat mata kemudian kami cocokkan dengan indikator apa saja yang menunjukkan itu B3, dan itu tidak ditemukan. Tapi memang harus dikaji lewat laboratorium untuk memastikan itu semua. Kemudian kami pun akan membahas lebih jauh di Gakumdu untuk langkah lebih lanjut,” ucap dia.***

Bagikan: