Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 20.8 ° C

Jawa Barat Serupa Indonesia Kecil dalam Politik

Dewiyatini
Pemilu.*/DOK. PR
Pemilu.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Pemilihan Presiden akan berpengaruh besar terhadap peta partai politik di Jawa Barat. Suara yang disumbangkan dalam Pilpres 2019 akan memberikan limpahan kekuatan bagi parpol.

Setidaknya ada 7 parpol yang mendominasi kekuatan di Jawa Barat. Tujuh parpol tersebut antara lain PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, PPP, PKS, dan Demokrat.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan mengatakan, kekuatan politik di Jawa Barat merepresentasikan politik di Indonesia.

Ia mengatakan, ketika dilakukan Pemilihan Umum serentak, pemilih akan fokus pada pemilihan presiden. Oleh karena itu, parpol yang mencalonkan presiden dan wakil presiden akan mendapatkan limpahan suara.

Pilpres 2019.*/DOK. PR

 “Setidaknya ada tiga parpol yang akan beroleh limpahan suara yang relatif signifikan di Jawa Barat,” ujarnya, Minggu 13 Januari 2019.

Ketiga parpol itu antara lain PDIP dan Gerindra sebagai parpol pengusung presiden dan wakil presiden. Pengaruh calon wakil presiden Ma’ruf Amin akan meningkatkan suara PKB yang relatif signifikan.

Selain itu, parpol yang memiliki basis massa tradisional akan tetap berkuasa di Jawa Barat. Firman Manan mengatakan, dengan basis massa di wilayah Cirebon, Majalengka, dan Kuningan, suara PDIP akan terus bertambah.

Golkar yang memiliki basis yang cenderung merata di Jabar juga akan tetap berkuasa. Basis terkuat Golkar berada di Banjar dan Indramayu.

PKB dan PPP, kata Firman Manan, akan mendapatkan porsi suara di Jawa Barat. “Ada irisan massa di antara dua parpol itu meskipun PKB lebih unggul,” ucap Firman Manan.

Alat Peraga Kampanye Pemilu 2019.*/ANTARA

Selain 4 parpol tersebut, masih ada 1 parpol yang tetap memiliki kekuatan basis massa tradisional di Jawa Barat yaitu PKS. Menurut Firman Manan, kepemimpinan Ahmad Heryawan sebagai gubernur Jawa Barat selama dua periode mengokohkan kekuatan PKS di Jawa Barat. Namun, basis kekuatan mereka berada di wilayah perkotaan.

“Suara mereka akan bertahan meskipun gubernur telah berganti,” ujar Firman Manan.

Dia mengatakan, Demokrat akan berbagi suara juga di Jawa Barat. Hal itu terjadi karena adanya pengaruh figur Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Firman Manan mengakui, kepemimpinan SBY di Demokrat tetap memiliki pesona sehingga para pemilih akan memberikan suaranya bagi Demokrat.

Tak banyak berubah

Dengan demikian, menurut dia, tidak banyak perubahan peta politik di Jawa Barat. Meskipun hadir parpol baru, hal itu belum mampu menggeser eksistensi parpol besar dan lama.

Ia mencontohkan Nasdem yang cukup mencuri perhatian karena calon kepala daerah yang diusungnya banyak memenangi pemilihan.

“Akan tetapi, itu tidak cukup memberikan suara yang signifikan dalam pemilu serentak. Pemilih masih melihat parpol yang mengusung calonnya sendiri,” ucapnya.

Firman manan menyebutkan, parpol-parpol baru masih mengusung kader luar partai sehingga tidak dianggap sebagai prestasi meskipun calon yang diusungnya memenangi pemilihan. Ia mencontohkan Nasdem yang mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jabar.

“Kemenangan tersebut bukan karena parpol pengusungnya. Tapi karena figur Ridwan Kamil,” ucapnya.

Terkait upaya Nasdem dan beberapa parpol baru dengan menggunakan calon anggota legislatif yang berasal dari selebritis, Firman Manan menyebutkan upaya itu tidak akan banyak mendongkrak suara Nasdem.

“Telah terjadi pergeseran tren pada pemilih. Mereka tidak lagi memilih didasarkan pada popularitas. Pola ini kini kurang efektif,” ujarnya.

Fokus utama

Firman Manan menyebutkan, terfokusnya pemilih pada Pilpres 2019 merupakan masalah utama dalam pemilihan umum serentak. Kehadiran capres dan cawapres akan berpengaruh besar pada parpol asal. Sehingga, pemilihan legislatif tidak lagi jadi fokus.

Untuk pemilihan legislatif, pemilih tidak akan lagi melihat popularitas. Firman Manan mengatakan, pemilih akan melihat parpol asal, capres yang diusung parpol, dan rekam jejak calon.

Untuk calon dari parpol baru, kata dua, akan lebih sulit lagi. Calon harus mampu memperkenalkan diri dan parpolnya karena publik belum banyak mengetahui informasi tentang keduanya. Apalagi untuk pemilihan anggota legislatif, harus meraih electoral threshold sebanyak 4%.***

Bagikan: