Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 25.4 ° C

KPU Coret 20 Nama Korban Longsor Sukabumi dari DPT

Ahmad Rayadie
KOMISIONER KPU RI, Evi Novida Ginting Manik (kiri) dan Pramono Ubaid Tanthowi (kanan) menunjukan kotak suara bermaterial kardus dan transparan di Kantor KPU Pusat, di Jakarta, Jumat, 14 Desember 2018. Pengadaan kotak suara bermaterial kardus itu mampu menghemat setengah anggaran dari pembelian kotak suara transparan bermaterial plastik yang akan digunakan dalam Pemilu serentak pada tahun 2019.*/ANTARA
KOMISIONER KPU RI, Evi Novida Ginting Manik (kiri) dan Pramono Ubaid Tanthowi (kanan) menunjukan kotak suara bermaterial kardus dan transparan di Kantor KPU Pusat, di Jakarta, Jumat, 14 Desember 2018. Pengadaan kotak suara bermaterial kardus itu mampu menghemat setengah anggaran dari pembelian kotak suara transparan bermaterial plastik yang akan digunakan dalam Pemilu serentak pada tahun 2019.*/ANTARA

PALABUHANRATU, (PR).- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sukabumi segera mencoret 20 dari 32 orang korban bencana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, dari DPT. Sementara belasan korban lainnya, merupakan warga yang masih belum terdaftar di DPT, karena belum memenuhi syarat untuk memilih.

Kepastian membatalkan hak pilih ini diambil KPU karena ke-20 korban itu sudah meninggal dunia. Dengan demikian, hak suaranya tidak bisa dialihkan kepada pihak manapun.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sukabumi, Ayi Saepudin, menjelaskan hal tersebut saat melakukan pendataan ke lokasi longsor di Gunung Surandil. Ayi menyebut, ke-20 korban semula masuk dalam DPT.

"Dari hasil pendataan yang di lakukan KPU, terdapat 19 orang warga Kampung Garehong, Kedusunan Cimapag, Desa Sirnaresmi dan seorang warga Desa Wangunsari masuk DPT dinyatakan tewas akibat bencana. Dihapus dari haknya untuk ikut pemilihan legislatif dan Pilpres 2019 ini," kata Ayi Saepudin, Jumat 11 Januari 2019.

Bahkan, kata Ayi Saepudin, untuk menindaklanjutinya Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Cisolok telah kooperatif dengan memberikan tanda kepada seluruh nama korban, kendati dari daftar pemilih nama mereka masih tercantum dalam daftar lembaran DPT.

Ke-20 korban bencana longsor tersebut sudah ditandai meninggal oleh PPS setempat. Meskipun sejauh ini namanya masih terdata di DPT. 

"Namanya masih ada di DPT, tapi sudah ditandai bahwa 20 orang tersebut telah meninggal. Sehingga pada Pileg dan Pilpres nama-nama korban dipastikan tidak akan masuk dalam daftar undangan atau C 6 untuk pencoblosan," ucapnya.

Proses pencoretan di DPT, kata Ayi Saepudin, memerlukan waktu yang cukup panjang. Bahkan proses pencoretan harus melewati pleno.

Karena panjangnya mekanisme itulah, pihaknya sejauh ini berinisiatif untuk menandai terlebih dahulu. Dia juga memastikan, nama-nama korban yang meninggal itu tidak akan mendapat undangan untuk menyalurkan hak pilih ke TPS.

"Pencoretan di DPT atau tidak, nanti menunggu tahapannya. Dan kami pastikan untuk nama nama korban bencana di Cimapag tidak akan diserahkan surat undangan (C 6). Kendati sebelumnya, mereka memiliki hak untuk memilih," katanya.***

Bagikan: