Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Cerah, 17.3 ° C

Jumlah Pengrajin Kulit di Garut Berkurang

Tim Pikiran Rakyat
SEORANG pekerja tengah memproses kulit di sebuah pabrik kawasan Sukaregang, Kabupaten Garut.*/AEP HENDY/KP
SEORANG pekerja tengah memproses kulit di sebuah pabrik kawasan Sukaregang, Kabupaten Garut.*/AEP HENDY/KP

GARUT, (PR).- Jumlah pengusaha penyamakan kulit di wilayah Sukaregang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut terus berkurang. Pengurangan pengrajin kulit itu disebabkan berbagai faktor, salah satunya oleh maraknya aksi protes yang dilakukan warga terkena dampak limbah cair B3.

Pengurus Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut, Sukandar, mengakui adanya penurunan jumlah penyamak kulit di Sukaregang. Penurunan terutama terjadi pada penyamak tingkat menengah ke bawah.

Dia menilai gencarnya aksi protes yang dilakukan  warga yang terkena dampak pencemaran dari limbah kulit cair B3, berperan dalam berkurangnya penyamak kulit.

"Akhir-akhir ini aksi yang dilakukan warga atas pencemaran yang diakibatkan limbah kulit cair B3 kian deras. Hal ini cukup berdampak terhadap jumlah penyamak kulit yang kian hari kian berkurang," ujar Sukandar.

Menurutnya, masalah limbah kulit cair B3 masih menjadi persoalan yang pelik di daerahnya. Hal itu dikarenakan oleh sebagin besar dari perusahaan penyamakan kulit belum memiliki IPAL.

Dikatakannya, dari semula 400 pengusaha penyamak kulit berskala kecil-menengah, saat ini yang bertahan hanya tinggal sekitar 220. Secara perlahan, satu demi satu penyamak kecil-menengah ini berguguran karena tersandung masalah IPAL.

Yang lebih parahnya lagi, tutur dia, pengusaha besar setingkat pabrik pun hingga saat ini masih banyak yang belum memiliki IPAL. Dari sekitar 50 pengusaha besar, baru ada 3 yang di pabriknya sudah dilengkapi dengan IPAL.

"Tentu saja sangat berpengaruh terhadap tingkat pencemaran limbah yang terjadi. Idealnya, tiap perusahaan penyamakan kulit mempunyai IPAL masing-masing, sehingga limbahnya tidak akan terbuang ke sungai dan mencemari lingkungan seperti yang sering dikeluhkan warga selama ini," katanya.

Selain terkendala masalah IPAL, Sukandar juga menyebutkan faktor lain dalam berkurangnya jumlah penyamak kulit berskala kecil-menengah di daerahnya. Faktor ini adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah.

Dia menjelaskan, hampir 80 persen bahan baku atau obat-obatan kimia untuk proses penyamakan kulit, merupakan produk impor yang harganya terus meningkat. Kondisi tersebut sangat memberatkan para pengusaha kecil-menengah, sehingga banyak yang akhirnya gulung tikar.(Aep Hendy S)***

 

Bagikan: