Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Terkendala Anggaran, Sepertiga Ruas Jalan di Kabupaten Tasikmalaya Rusak

Bambang Arifianto
KENDARAAN melintasi Jalan Cidugaleun di Kampung Cukangkalapa, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis 10 Januari 2019. Kerusakan jalan masih menjadi pekerjaan rumah Pemkab Tasikmalaya pada 2019.* BAMBANG ARIFIANTO/PR
KENDARAAN melintasi Jalan Cidugaleun di Kampung Cukangkalapa, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis 10 Januari 2019. Kerusakan jalan masih menjadi pekerjaan rumah Pemkab Tasikmalaya pada 2019.* BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Hingga awal 2019, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya masih memiliki pekerjaan rumah memperbaiki kerusakan jalan yang tersebar di wilayahnya. Dari total 1.303 kilometer jalan yang dimiliki dan dikelola Pemkab, masih terdapat 430 kilometer yang rusak. Dampaknya, biaya ekonomi masyarakat semakin tinggi karena kondisi itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tasikmalaya Yusep Yustisiawandana mengungkapkan, kemantapan jalan atau kelaikannya baru 67 persen dari total ruas 1.303 kilometer tersebut. "Tiap tahun paling peningkatan jalan itu 5 persen dari total, diimbangi oleh kerusakan lagi 3-4 persen," kata Yusup saat dihubungi, Kamis 10 Januari 2019. 

Kerusakan jalan, lanjutnya, tersebar merata di seluruh wilayah kabupaten. Titik terparah berada di kawasan selatan Tasikmalaya seperti Puspahiang, Taraju, Bojonggambir, Culamega, Karangnunggal, Sodonghilir, Bojongasih, Cikalong, Pancatengah, Cikatomas. Upaya Pemkab memperbaiki kerusakan jalan masih terganjalnya keterbatasan dana yang dimiliki. "Untuk sampai 70 persen saja, kemantapan (jalan) kita itu perlu dana Rp 240 miliar," tuturnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab tiap tahun terus meningkatkan dan pemeliharaan jalan. Dananya bersumbar dari Dana Alokasi Khusus, bantuan provinsi dan Dana Alokasi Umum. "Paling besar biasanya dari Banprov (bantuan provinsi)," ujarnya. Pada 2019, Pemkab telah mendapatkan kucuran DAK senilai Rp 33 miliar guna perbaikan jalan. Sedangkan ajuan Banprov dan DAU masih dibahas Dinas PU PR.

Yusep mengatakan, peningkatan jalan belum bisa dilakukan karena kerusakannya lebih cepat terjadi. Upaya perbaikan jalan pun menjadi hal utama dilakukan agar masyarakat nyaman dan aman ketika melintasinya.

Masih buruknya kondisi jalan berdampak pada perekonomian masyarakat. Sebagian masyarakat yang bekerja sebagai petani juga terbebani karena ongkos pengangkutan hasil bumi menjadi mahal. Kendaraan-kendaraan pengangkut hasil bumi pun mematok ongkos tinggi karena kondisi jalan yang buruk. Tak hanya itu, tutur Yusep, pengembangan pariwisata ikut terkena imbasnya. Pengunjung kesulitan mendatangi lokasi wisata Kabupaten Tasikmalaya karena buruknya infrastruktur ke lokasi.

Hal senada dikemukakan Kartika (26), warga Kampung Cukangkalapa, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang. Jalan Cidugaleun yang melintasi kediamannya rusak dan tak kunjung tersentuh perbaikan. Kartika tak habis pikir kenapa jalan tersebut belum juga diperbaiki. Padahal, jalan itu terbilang ramai dan penghubung Desa Cidugaleun dan Parentas di wilayah Cigalontang. "Sejak saya belum menikah sampai anak saya sekolah SD, masih begini," ucap Kartika di kediamannya, Kamis siang.

Menurutnya, Jalan Cidugaleun sempat diaspal pada sekitar 2000-an atau beberapa tahun lalu. Akan tetapi kondisi mulus jalan itu tak lama karena kembali rusak. Musababnya, pengaspalan tak disertai pembangunan drainase atau saluran air di tepinya. Akibatnya, jalan kembali rusak karena digerus air hujan.

Keadaan itu menyulitkan warga yang banyak berprofesi sebagai petani karena mahalnya ongkos mengangkut hasil bumi menggunakan kendaraan umum  lantaran rusaknya jalan. Selain itu, tutur Kartika, ongkos warga menggunakan angkutan pedesaan dan ojek pun menjadi mahal. Kartika mencontohkan, ongkos menggunakan angkutan pedesaan dari Singaparna hingga Cidugaleun mencapai Rp 10 ribu. Pada sore hari, ongkosnya melonjak menjadi Rp 15 ribu. Sedangkan ongkos ojek kisarannya Rp 30-40 ribu pada siang hari dan 50-60 ribu malam hari.

Untuk itu, dia berharap pemerintah segera memperbaiki jalan tersebut. Pantauan Pikiran Rakyat kerusakan jalan juga ditemui di Jalan Cibalanarik dan Sodonghilir. Di Sodonghilir, kerusakan jalan terlihat di Kampung Sudi, Desa Muncang. Jalan tersebut hanya berupa batu-batu dengan kondisi bergelombang. Pengendara yang melintas mesti ekstra waspada karena guncangan saat kendaraan melintasinya cukup berbahaya.***

Bagikan: