Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

Polisi Kesulitan Menangkap Pembunuh Siswi SMK di Bogor

Windiyati Retno Sumardiyani
GARIS polisi terpasang di TKP pembunuhan Andriana Yubelia Noven Cahya (19), siswi SMK Baranangsiang Bogor.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
GARIS polisi terpasang di TKP pembunuhan Andriana Yubelia Noven Cahya (19), siswi SMK Baranangsiang Bogor.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).- Kepolisian Resor Kota Bogor kesulitan menangkap pembunuh siswi SMK Baranangsiang, Andriana Yubelia Noven Cahya (19). Polresta Bogor telah mengamankan S, pria yang sebelumnya dicurigai sebagai pembunuh Noven.

Namun demikian, jajaran kepolisian menyebutkan jika S masih berstatus saksi, dan dipastikan bukan pelaku pembunuh Noven. “S sudah diamankan. Kami sedang lakukan pendalaman, tetapi kemungkinan bukan pelakunya,” ujar Kepala Polresta Bogor Komisaris Besar Hendri Fiuser saat dijumpai “PR” di Gedung Kemuning Gading, Balai Kota Bogor, Kamis, 9 Januari 2019. 

Hendri berujar, Noven diamankan di Bandung oleh tim gabungan. “Dari beberapa alibi yang ada, kemungkinan bukan dia pelakunya,” katanya.

Hendri menyebutkan, polisi sebelumnya memang sempat mencurigai bahwa S merupakan pelaku pembunuh Noven. Hal tersebut didasarkan informasi dan foto yang beredar luas di media sosial, mengenai hubungan S dan Noven.

Namun setelah dilakukan pendalaman, Polresta Bogor memastikan bahwa S bukanlah pembunuh Noven. “Memang awalnya kita duga itu pelaku. Berdasarkan alibi dia, bukti forensik dia, S ini dipastikan tidak di TKP, kami juga selidiki bukti digital juga. Selain itu, fisik S juga berbeda dengan pria yang terekam CCTV,” ucap Hendri.

Kurang bukti

Lebih lanjut, Hendri mengatakan, Polresta Bogor saat ini telah memeriksa 8 saksi untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Saksi tersebut di antaranya merupakan penjaga rumah kontrakan, mantan pacar korban, keluarga, dan S yang diamankan di Bandung.

Para saksi diluar S tidak dalam penahanan. Sementara S, disebutkan Hendri berada di suatu tempat tertentu.

Hendri tak menampik kepolisian masih kesulitan menangkap pelaku. Selain kasus tersebut minim saksi, saksi-saksi yang diperiksa tidak banyak mengetahui kepribadian korban.

“Kendalanya minim saksi, dari pihak keluarga korban tidak ada yang bisa dimintai keterangan, orang tuanya juga enggak bisa memberikan keterangan banyak tentang keseharian korban karena sudah lama tidak tinggal bersama. Selain itu bukti di TKP juga wajahnya tidak begitu jelas, posisinya dari CCTV jauh sehingga resolusinya kurang jelas,” kata Hendri.***

 

Bagikan: