Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan petir singkat, 22.6 ° C

Tambang Pasir Menjamur, Bencana Alam Terus Hantui Warga

Bambang Arifianto
PERBUKITAN kecil yang terkelupas oleh aktivitas penambangan pasir terlihat di Jalan Mangkubumi-Indihiang (Mangin) Kota Tasikmalaya, Selasa (8/1/2019). Hancurnya perbukitan Kota Tasikmalaya berdampak pada bencana alam yang mulai dirasakan sejumlah warganya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PERBUKITAN kecil yang terkelupas oleh aktivitas penambangan pasir terlihat di Jalan Mangkubumi-Indihiang (Mangin) Kota Tasikmalaya, Selasa (8/1/2019). Hancurnya perbukitan Kota Tasikmalaya berdampak pada bencana alam yang mulai dirasakan sejumlah warganya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Masyarakat mulai merasakan‎ dampak  rusaknya perbukitan Kota Tasikmalaya karena menjamurnya aktivitas penambangan pasir. Dampak tersebut berupa bencana alam seperti banjir, angin kencang dan kekeringan.

Kondisi tersebut terjadi di Kampung Pasir Angin Boboko Gunung Tengah, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Upen (50), warga Pasir Angin mengungkapkan, wilayahnya dikelilingi tiga bukit yang semua dikeruk oleh pengusaha tambang pasir.

Tiga bukit tersebut adalah Gunung Pari, Gunung Pasir Angin, Gunung Bera. Kerusakan lingkungan pun terjadi setelah ketiga bukit itu digerogoti para penambang.

"Gunung Pasir Angin masih (ada), sekarang lagi dikeruk, Bera masih dikeruk, Gunung Pari sudah habis," ujarnya.

Pemandangan pepohonan hijau ketiga bukit sekitar Kampung Pasir Angin itu telah lenyap setelah para penambang pasir mulai beroperasi pada 1985-1986. 

Awalnya, penambangan dilakukan secara manual bermodalkan perkakas berupa linggis, pacul, dan singkup. Peralatan sederhana tersebut berubah menjadi alat-alat berat seperti backhoe pada 2000-an.

Para pelaku penambangan merupakan pengusaha-pengusaha yang menyewa lahan di bukit-bukit tersebut. Kawasan perbukitan pun lambat laun hancur.

Upen menuturkan, Gunung Pari bahkan lenyap tak tersisa dan lahannya kini menjadi perumahan. Upen masih ingat betul bukit tersebut menjadi tempat asik menikmati pemandangan Kota Tasikmalaya dari ketinggian di masa lalu

Bencana alam turut hadir selepas lenyap dan rusaknya perbukitan. "Angin sama petir sudah terasa, banjir ke sawah, kalau kemarau kering (sumber air)," ujarnya.

Ambruknya rumah Ede Sopian (51), warga Pasir Angin pada Senin, 7 Januari 2019, diduga terjadi karena hilang dan rusaknya perbukitan yang menjadi benteng alam pemukiman warga dari tiupan angin. Rumah itu ambruk setelah diterpa anging kencang beserta turunnya hujan lebat.

Upen mengungkapkan, tiupan angin masih terbilang normal ketika ketiga bukit belum hancur akibat penambangan. Saat ini, lanjutnya, warga kerap dihantui ketakutan karena makin kencangnya tiupan angin.

Demikian pula dengan banjir yang intensitas mulai sering terjadi di Pasir Angin. Bila hujan melanda, tutur Upen, banjir menggenangi pesawahan warga. Kondisi tersebut diduga terjadi karena hilangnya kawasan resapan hujan akibat rusaknya perbukitan.

Di musim kemarau, giliran warga kesulitan mendapatkan air bersih karena mengeringnya sumur warga. Warga, lanjut Upen, kemudian mencari pasokan air ke sungai terdekat.

"Pinggir sungai jadi dibikin sumur, digali," tuturnya. Berbagai bencana itu pun tak pernah terjadi ketika perbukitan masih utuh atau terjamah penambangan pasir.

Minim kontribusi

Kontribusi pengusaha tambang bagi warga pun minim. Menurut Upen, warga hanya sekadar numpang mencari nafkah di pinggir area penambangan dengan mengambil batu kemudian menjualnya. 

Hal senada disampaikan Ketua RT 2 Pasir Angin, Romi Kartiwa (42). "Gara-gara gunung dibongkar, angin jadi semakin kencang," ucapnya.

Dia mengatakan, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan karena aktivitas penambangan yang merusak lingkungan. "Air juga kurang, kalau hujan tidak meresap lagi," ujarnya.

Romi menambahkan, pengusaha tambang pun hanya memberikan uang sumbangan Rp 100 ribu perbulan kepada pengurus RT untuk kegiatan sosial. Sedangkan jumlah pasir yang dikeruk dan diangkut, Romi tak mengetahuinya.

Menyulut konflik

Selain dampak bencana, aktivitas penambangan berpotensi menyulut konflik dengan warga karena rusaknya jalan akibat aktivitas lalu lalang truk pengangkutan pasir. Seperti terjadi di‎ Desa/Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Warga memasang spanduk yang mengecam dan melarang truk-truk pasir melintasi Cisayong sejak beberapa waktu lalu hingga saat ini.‎ Spanduk-spanduk itu bertebaran di Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga), perempatan Desa Cisayong dan Santanamekar. 

Kepala Desa Cisayong Yudi Cahyudin mengatakan, pemasangan spanduk merupakan asprasi warganya yang geram karena aktivitas pengangkutan pasir. "Truk pasir melintasi Cisayong, tonase (bobotnya) enggak diatur," ujarnya belum lama ini.

Sopir truk bisa membawa 8 hingga 9 ton pasir sekali mengangkut. Mereka membawa pasir tersebut dari wilayah Sukaratu lalu masuk ke Jalan Cisinga dan berbelok di Cisayong.

Dampaknya, rumah warga yang berada di jalur lintasan pengangkutan pasir terkadang bergetar saat truk melintas. Tak hanya itu, jalan Cisayong yang baru diaspal pun rusak.***

Bagikan: