Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Maestro Drama Tarling Wafat, Kang Ato Tak Lagi Mencari Ayamnya yang Hilang

Tim Pikiran Rakyat
Kang Ato reuni bersama pesiden Dadang Darniyah dalam acara reuni di Gedung Kesenian Wisma Dharma di Kabupaten Indramayu. Keduanya bernostalgia  memainkan drama-tarling "Gandrung Kapilayu" yang menceritakan tragedi percintaan pemuda miskin dan pemudi kaya. /Agung Nugroho/PR
Kang Ato reuni bersama pesiden Dadang Darniyah dalam acara reuni di Gedung Kesenian Wisma Dharma di Kabupaten Indramayu. Keduanya bernostalgia memainkan drama-tarling "Gandrung Kapilayu" yang menceritakan tragedi percintaan pemuda miskin dan pemudi kaya. /Agung Nugroho/PR

DUNIA musik tarling dirundung duka. Sunarto Marta Atmadja, maestro tarling menghembuskan napas terakhir di usia yang ke 75 tahun pada Sabtu malam pukul 21.15 Waktu Indonesia Barat 5 Januari 2019 lalu di rumahnya di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

Setelah sempat disemayamkan semalaman, jenasah almarhum yang lebih dikenal dengan Kang Ato, dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kampung halamannya di komplek pemakaman keluarga besar Marta Atmaja di Desa Jemaras Kidul, Kecamatan Klangenan. Kang Ato yang diakhir hidupnya menderita penyakit gula (diabet) dan paru-paru, meninggalkan enam orang anak dari istri, Mimi Yayah Darsiyah, asal Lombang, Juntinyuat, Indramayu yang dinikahi setelah sempat menjadi pesinden di grup musiknya “Nada Budaya” di era kejayannya di tahun 1970an.

“Bapak sakit diabet dan paru. Dimakamkan di kompleks makam keluarga,” tutur Feri Amarta, putri bungsu Kang Ato.

Keluarga, kerabat, tetangga dan sahabat mengantarkan prosesi pemakamannya yang sederhana mengiringi kepergian terakhir Kang Ato. Taka ada untaian bunga atau ucapan duka cita dari banyak pihak yang sebanding sebagaimana biasanya untuk kematian seseorang yang dianggap memiliki jasa besar selama hidupnya.

Kang Ato seolah terlupakan atau malah dilupakan. Padahal selama hidupnya, beliau memiliki jasa besar dalam sejarah musik tarling, musik modern khas yang tumbuh dan berkembang tidak saja pada masyarakat di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan), tetapi juga telah menyebar luas dan menjadi salah satu dari kekayaan musik nasional tanah air.(Agung Nugroho/PR)***

Kang Ato, boleh dibilang sebagai maestro yang tersisa dari generasi kedua tarling. Lahir 19 Mei 1944 di Jemaras, dimasa ketika tarling mulai pertama tumbuh setelah di tahun 1930an, dirintis oleh Ki Sugra, seniman musik tradisional gamelan asal Kepandean, Kota Indramayu.

Almarhum mengaku sempat belajar tarling langsung dari sang penemu, Sugra di Indramayu di tahun 1960an, termasuk mentornya, Uci Sanusi di Cirebon. Dalam sejarah musik tarling, Ki Sugra melalui kiser khas pesisir Melodi Kota Ayu dan Uci Sanusi dengan Melodi Kota Udang, merupakan generasi pertama atau perintis tarling.

Bersama generasi seusianya, seperti Jayana asal Karangampel, Indramayu dan Abdul Ajib, Mayung, Cirebon, Kang Ato turut mewarnai dan menentukan sejarah awal musik tarling mulai digemari oleh masyarakat luas di Cirebon dan Indramayu. Ketiga maestro itu bahkan pernah bergabung dalam satu grup tarling “Putra Nada Jaya” di tahun 1970an, nama itu merupakan gabungan nama grup masing-masing, Abdul Ajib dari grup “Putra Sangkala”, Kang Ato “Nada Budaya” dan Jayana “Jaya Lelana”.

Sebagaimana perjalanan karier pemusik, Kang Ato pernah berganti-ganti grup tarling. Beberapa diantaranya Karya Muda, Seni Proletar, Nada Jaya, Asmara Budaya, Putra Nada Jaya dan terakhir Nada Budaya. Ratusan lagu tarling pernah diciptakannya, tidak sedikit diantaranya menjadi hit ketika tahun 70 sampai 80an seperti “Melati Segagang”, “Kebaya Biru”, “Berag Tua”, “Rebutan Perawan” “Sendang Sending Sendung”, “Kader Bli Suwe”, “Kegugu”, “Aja Dumeh”  dan banyak lagi.

Sampai tahun-tahun terakhir sebelum akhirnya wafat Sabtu malam kemarin, Kang Ato masih bergiat dalam perjuangan melestarikan tarling. Dia sering mengisi workshop tarling yang diadakan berbagai lembaga, tak segan-segan berbagi ilmu dan pengalaman, termasuk melayani tutorial tarling.

Menjadi pemusik memang merupakan panggilan hidupnya yang ditekuni semasa muda. Sebelum akhirnya menekuni tarling, Kang Ato sejak bersekolah di Sekolah Teknik Menengah (STM) Cirebon, aktif di grup band dengan instrument musik modern di sekolahnya.

“Di usia senjanya, Kang Ato masih mau menjadi nara sumber program pelestarian tarling di Cirebon maupun Indramayu. Dia aktif berkeliling untuk mengenalkan tarling pada anak-anak muda di jaman sekarang,” tutur Sumbadi.

Sentuhan drama

Dalam perjalanan kariernya, kekhasan tarling Kang Ato, ialah pada sentuhan dramaturgi di setiap pementasan tarlingnya. Kang Ato lah yang merintis pertunjukan tarling, tidak semata aksi panggung konvensional pagelaran grup musik, namun ada sentuhan drama lengkap dengan narasi dan adegan-adegan teatrikal di atas panggung. Pada narasi, bahkan Kang Ato memasukan unsur-unsur sastra khas Cirebon-Indramayu seperti parikan, wangsalan, paribasan, gugon tuwon, purwakanti dan sejenisnya.

Ini yang membuat pentas tarling menjadi hidup. Di tahun 1970an, drama tarling Kang Ato, ketika itu bersama pesinden yang juga legendaris, Mimi Dadang Darniyah asal Sukra, Indramayu,  sangat digandrungi masyarakat Cirebon dan Indramayu. Tiap minggu digelar pertunjukan Kang Ato dan disiarkan langsung melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Cirebon.

“Kang Ato mengaku terinspirasi reog Ponorogo untuk sentuhan drama pada pertunjukan tarlingnya. Dan itu sangat sukses. Di tahun 70an, setiap RRI menyiarkan drama tarling Kang Ato, Indramayu dan Cirebon sepi, karena orang lebih memilih tinggal di rumah mendengarkan radio. Di stasiun RRI juga dipenuhi ratusan penonton.

“Itu masa keemasan beliau. Tiap bulan bisa sampai dua ratus tanggapan pentas drama tarling Kang Ato. Itu tidak saja di Cirebon dan Indramayu, tetapi juga Tegal, Brebes, Subang, termasuk pentas di Jakarta seperti Taman Mini dan Taman ismail Marzuki. Beliau menerima sejumlah penghargaan daerah, Jawa barat maupun nasional atas jasa bermusiknya, ,” tutur Supali Kasim, pemerhati budaya dari Indramayu.

“Gandrung Kapilayu” (1972) menjadi penanda dari puncak karier genre drama-tarling Kang Ato. Dimainkan bersama Dadang Darniyah, drama-tarling ini menceritakan komedi tragedi percintaan pemuda miskin dengan pemudi dari anak orang kaya di desa.

Pentas berdurasi dua jam ini terkenal sampai hari ini. Pada “Gandrung Kapilayu”, Kang Ato tidak saja mengeksplorasi aspek musikal tarling dan dramatikal, tetapi juga sastra lokal pada narasinya. Kandungan sastra pada narasinya sangat terasa, untaian kalimat dan bahasanya merupakan pilihan-pilihan kata dan diksi yang terukur dan penuh perhitungan sehingga melahirkan rima sastra lokal yang puitis dan indah.

Pada “Gandrung Kapilayu”, ada setu adegan saat Kang Ato, si pemuda miskin, bermaksud menemui gadis pujaannya, Dadang Darniyah, pemudi anak orang kaya. Malam hari, dia mengendap-endap ke rumah sang gadis, namun keburu ketahuan sang ayah, si juragan kaya yang galak dan tidak setuju hubungan asmara keduanya.

Ketika dihardik sang ayah dengan kemarahan, Kang Ato kaget. Namun tidak kalah jurus, dia berasalan kalau mendekati rumah malam-malam karena sedang mencari ayamnya yang hilang. Sejak “Gandrung Kapilayu” dipentaskan, sampai hari ini, saat sang maestro sudah meninggal dunia, almarhum dikenal dengan sebutan “Kang Ato Ayame Ilang”. Kini Kang Ato sudah meninggalkan kita semua, dan tak lagi “mencari ayamnya yang hilang”. Selamat jalan Kang Ato, semoga di alam sana, kau menemukan”ayam yang hilang”.***

Bagikan: