Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Masih Banyak, Keselamatan Warga Terancam

Bambang Arifianto
PENGENDARA melintasi perlintasan tak berpalang di Kelurahan Sirnagalih, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis 3 Januari 2019. Masih banyaknya perlintasan ilegal di Kota Tasikmalaya mengancam keselamatan warga.* BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENGENDARA melintasi perlintasan tak berpalang di Kelurahan Sirnagalih, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis 3 Januari 2019. Masih banyaknya perlintasan ilegal di Kota Tasikmalaya mengancam keselamatan warga.* BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Perlintasan kereta api ilegal masih banyak ditemui di Kota Tasikmalaya. Kondisi tersebut membahayakan warga yang melintasinya.

Pantauan Pikiran Rakyat pada Kamis 3 Januari 2019, perlintasan tak resmi tersebut berada di wilayah Kecamatan Indihiang. Wilayah tersebut memang menjadi jalur rel kereta api di wilayah selatan Jawa Barat. Salah satu perlintasan tak resmi itu berada di Leuwidahu yang berada di Kelurahan Parakannyasag. Di sana, pengaturan arus kendaraan yang melintasi perlintasan dilakukan oleh warga.

Kondisinya terbilang ramai dilalui sepeda motor dan mobil. Namun, pengemudi mesti ekstra waspada melintas. Pasalnya, pengaturan kendaraan melintas tak dilakukan 24 jam. Sahro (63), warga Parakannyasag menuturkan, kecelakaan sempat terjadi di perlintasan tersebut beberapa tahun lalu. Sebuah truk tertabrak kereta saat melewatinya. Tak ayal, dia menilai perlintasan Leuwidahu terbilang rawan kecelakaan karena tak adanya penjagaan resmi dari PT Kereta Api Indonesia.

"Tidak ada perhatian dari kereta (PT KAI) dari dulu," ucapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis sore.

Keadaan itu membuat warga berinisiatif melakukan penjagaan dan mengatur lalu kendaraan. Sedangkan Pemerintah Kota Tasikmalaya, lanjut Sahro, turun tangan dengan membuat pos penjagaan di area perlintasan. Warga hanya memungut sumbangan sukarela saat melakukan penjagaan.

Meski demikan, Sahro berharap PT KAI membangun perlintasan resmi yang berpalang demi keselamatan warga. "Kalau yang jaga bukan petugas resmi, suka ditinggalkan," ucapnya.

Keadaan serupa terlihat di kawasan Indihiang lainnya seperti di Kelurahan Sirnagalih dan Sukamaju Kaler. Di Sirnagalih, terdapat perlintasan yang hanya cukup menampung lalu lalang sepeda motor. Baru saja Pikiran Rakyat tiba di sana, kereta api melintasinya. Warga berteriak-teriak memperingatkan pengendara sepeda yang bakal melintas. Rupanya, cara peringatan masih pula mengandalkan teriakan-terikan ketika sepur mendekat.

Sola (22), warga Sirnagalih mengungkapkan, perlintasan tersebut hanya dijaga petugas suruhan PT KAI ketika momen hari-hari besar seperti Tahun Baru dan Lebaran. Pada hari biasa, penjagaan tak dilakukan. Warga juga tak berinisiatif menjaga dan membiarkan begitu saja perlintasan itu. Padahal, lokasi tersebut pernah menjadi saksi terseretnya warga yang tertabrak dan terseret kereta dari arah Leuwidahu. Namun bila ditutup, warga di area perlintasan bakal terdampak.

"Berpengaruh (sulit) ke jalan besar," ucapnya. Warga Sinargalih yang menuju arah Jalan Letjen Ibrahim Adjie harus mencari jalan lain jika terjadi penutup.

Sementara di Sukamajukaler, keadaan serupa pun terjadi. Perlintasan tak resminya kosong melompong dari petugas atau warga yang mengatur kendaraan. "Tidak dijaga," ucap Dede (45), warga Sukamajukaler.

Masih banyaknya perlintasan tak berpalang atau ilegal diakui  Huma PT KAI Daop 2 Bandung Joni Martinus ‎di Stasiun Tasikmalaya belum lama ini. "Lebih dari 250 (perlintasan) yang tidak berpalang di Daop 2 ini," kata Joni.

Untuk itu, PT KAI menurunkan tenaga ekstra atau petugas  guna menjaganya selama momen libur Natal dan Tahun Baru. Terkait kemungkinan melakukan penutupan, Joni menyebut hal tersebut merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan. Jika dianggap berbahaya, Joni menegaskan penutupan perlintasan bisa dilakukan. Dia mencontoh penutupan perlintasan di Cimahi beberapa waktu lalu. "Itu kita tutup bersama pemerintah setempat dengan Wali Kota Cimahi dan itu kita tutup sampai sekrang," ujarnya.

Dia menambahkan, selama perlintasan tersebut tak resmi atau mendapat izin pemerintan, statusnya adalah liar. "Yang difasilitasi resmi, dijaga, dilengkapi rambu-rambu," ucapnya.***

Bagikan: