Pikiran Rakyat
USD Jual 14.403,00 Beli 14.103,00 | Umumnya berawan, 21.8 ° C

Usai Tsunami, Sejumlah Wilayah di Pandeglang Direndam Banjir

Siska Nirmala
KERUSAKAN akibat Tsunami di kawasan Hotel Mutiara Resort, Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Senin, 24 Desember 2018..*/ARIF HIDAYAH/PR
KERUSAKAN akibat Tsunami di kawasan Hotel Mutiara Resort, Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Senin, 24 Desember 2018..*/ARIF HIDAYAH/PR

PADEGLANG, (PR).- Beberapa daerah di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Rabu pagi direndam banjir akibat hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah ini sejak kejadian tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018.

Imron Mulyana, salah seorang relawan menjelaskan, banjir dengan ketinggian sekitar satu meter di antaranya merendam Desa Kubangkampil, Kecamatan Sukaresmi dan Desa Teluk, Kecamatan Labuan. "Pagi ini di Desa Teluk banjir, cukup tinggi bahkan jembatan yang menghubungkan Jalan Rakay Labuan-Caringin terendam," katanya, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Jembatan yang menjadi penghubung itu, kata dia, tertutup air sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.

Desa Teluk, Labuan merupakan salah satu daerah terdampak tsunami cukup para di Pandeglang. Rumah warga banyak yang hancur, dan warga mengungsi di Kecamatan Jipuat, yang lokasinya lebih tinggi.

"Masyarakat masih berada di pengungsian, jadi banjir ini kemungkinan tidak menimbulkan korban," katanya.

Pengungsian

Sementara ribuan warga Kabupaten Pandeglang, Banten korban tsunami hingga kini masih bertahan di pengungsian karena gelombang dari letusan Anak Gunung Krakatau masih aktif mengeluarkan lava pijar dan debu vulkanik.

"Kami dengan keluarga masih ketakutan untuk kembali ke rumah," kata Herman, seorang pengungsi di GOR Labuan, Rabu, 26 Desember 2018.

Gelombang tsunami yang menerjang permukiman Kampung Teluk Labuan, Sabtu, 22 Desember 2018, masih terngiang dan cukup menakutkan warga.

Kedatangan gelombang laut begitu cepat dan sangat kuat hingga kondisi bangunan rumah roboh. Begitu juga rumah milik tetangga pun roboh hingga rusak berat.

"Kami bingung mau tinggal dimana setelah rumahnya itu roboh," kata Herman yang sehari-hari nelayan.

Herman mengaku dirinya bersama warga lainnya masih nyaman tinggal di pengungsian karena cuaca kurang bersahabat disertai hujan lebat juga terkadang air laut pasang.

Dismping itu juga letusan Gunung Anak Krakatau atau Gunung Sertung masih aktif mengeluarkan letusan vulkanik.

"Kami lebih baik tinggal di pengungsian dulu, sebelum Perairan Selat Sunda kembali normal," katanya.

Begitu juga pengungsian lainnya, Cicih mengaku dirinya dengan keluarga sudah tiga hari terakhir ini tinggal di pengungsian, karena kondisi gelombang cukup tinggi.

Bahkan juga terkadang air laut pasang, sehingga merasa ketakutan dan panik,terlebih rumahnya hanya berjarak 150 meter dari Pantai Panimbang.

"Kami sudah kembali ke rumah hari Selasa (25 Desember 2018), namun tiba-tiba air laut pasang dan warga berlarian menyelamatkan diri," katanya.

Ia mengatakan, dirinya hingga kini merasa ketakutan untuk kembali ke rumah dan lebih baik tinggal di pengungsian.

Selama ini, cuaca buruk melanda Perairan Selat Sunda juga letusan Gunung Sertung masih aktif.

Gelombang tsunami itu, kata dia, penyebabnya longsoran dari Gunung Sertung.

"Kami beruntung keluarga selamat dari bencana alam itu, setelah berlarian ke perbukitan," katanya.

Sementara itu, Asisten Daerah I Sekertariat Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Agus Priyadi Mustika mengatakan ribuan warga yang terdampak tsunami masih bertahan di pengungsian.

Mereka warga di pengungsian tersebar di Kecamatan Labuan, Jiput, Menes, Pulau Sari, Cikedal, Angsana, Cigeulis, Carita, Sukaresmi, Sumur, Panimbang dan Pagelaran.

"Kami minta warga pengungsian dioptimalkan penyaluran bantuan logistik juga pemeriksaan kesehatan," katanya.***

Bagikan: