Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Ada 87 Titik Sampah di Ciliwung, Beberapa di Antaranya Merupakan Limbah Industri Rumahan

SEJUMLAH relawan membersihkan Sungai Ciliwung di Grand Depok City, Minggu 11 November 2018. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ciliwung yang diikuti 500 relawan dari berbagai komunitas sosial lingkungan dan Universitas.*/ANTARA
SEJUMLAH relawan membersihkan Sungai Ciliwung di Grand Depok City, Minggu 11 November 2018. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ciliwung yang diikuti 500 relawan dari berbagai komunitas sosial lingkungan dan Universitas.*/ANTARA

BOGOR, (PR).- Sampah dan limbah industri ­rumahan masih mencemari Sungai Ciliwung di wilayah Kota Bogor. Berdasarkan penyusuran Komunitas Peduli Ciliwung pada aliran Sungai Ciliwung sepanjang 15 kilometer, sedikitnya terdapat 87 titik tempat pembuangan sampah di bantaran Sungai Ciliwung.

Beberapa di antaranya bahkan me­rupakan limbah industri rumahan se­perti limbah kerupuk, sandal, dan juga limbah serat optik.

Sekretaris Normalisasi Daerah ­Aliran Sungai Ciliwung Kota Bogor Een Irawan mengungkapkan, titik pembuangan sampah terbanyak berada di wilayah Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, yakni 18 titik. Kemudian di Kelurahan Tanah Sareal, Kecamatan Tanah Sareal, 12 titik, dan Kelurahan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara, sebanyak 10 titik pembuangan sampah.

Sementara untuk indikasi pembuangan limbah industri rumahan seperti sandal dan kerupuk terpantau berada di Kelurahan Katulampa, Bogor Timur. Untuk limbah serat optik terpantau menumpuk di kawasan jembatan Delima Jaya, Kelurahan ­Ci­buluh, Kecamatan Bogor Utara.

”Dari penelusuran kami memang perilaku buang sampah warga di ban­taran Sungai Ciliwung sudah sa­ngat keterlaluan. Untuk limbah ma­sih belum terungkap siapa pelakunya, tetapi kalau serius dikejar bisa saja, karena kalau limbah serat optik itu bisa dilihat dari mereknya,” kata Een seusai mengikuti rapat norma­lisasi daerah aliran Sungai Ciliwung, di Ba­lai Kota Bogor, Selasa 18 Desember 2018.

Sementara untuk limbah industri rumahan, menurut Een, skalanya relatif kecil dibandingkan dengan limbah industri, tetapi tetap mencemari sungai sehingga kualitas air Ciliwung tidak cukup baik.

Een yang juga anggota Komunitas Peduli Ciliwung berharap Pemerintah Kota Bogor dapat lebih serius mena­ngani permasalahan sampah di bantaran Sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung memiliki potensi wi­sata yang bisa dioptimalkan Pemkot Bogor.

Menurut Een, ada beberapa lang­kah yang perlu dilakukan Pem­kot Bogor untuk membersihkan air Sungai Ciliwung dari sampah. Pertama, menghilangkan titik-titik timbunan sampah. Kedua, menertibkan masya­rakat untuk tidak lagi membuang sampah ke Ciliwung.

”Untuk itu perlu ada tim patroli khu­sus yang memantau pergerakan masyarakat di bantaran Ciliwung. TNI khususnya dari korem membuka peluang untuk membantu masya­ra­kat dalam melakukan pengawasan, tetapi tim patroli tetap harus dibentuk di tiap wilayah atau kelurahan,” ucap Een.

Jika penegakan benar-benar dilakukan, Een optimistis Sungai Ciliwung lambat laun dapat terbebas dari tumpukan sampah. Setelah terbebas dari sampah, tugas Pemkot Bogor ­selanjutnya menormalisasi Su­ngai ­Ciliwung agar kualitas airnya tetap terjaga.

”Bisa juga kita buat jaring atau perangkap untuk menjaring sampah, mungkin terkendala biaya. Untuk masalah itu, kita bisa minta bantuan ke donor,” ujar Een.

Tangkap tangan

Wali Kota Bogor Bima Arya me­nar­getkan, tiga bulan ke depan Pem­kot Bogor dapat membebaskan Su­ngai Ciliwung dari sampah. Salah sa­tu upa­ya yang dilakukan yakni de­ngan membentuk tim operasi tang­kap ta­ngan kepada pembuang sampah dan limbah ke Sungai Ciliwung.

”Penegakan hukum akan kami la­kukan. Tolong kepada lurah dan camat, kondisikan seperti OTT (operasi tangkap tangan). Kita intai pelaku, tetapkan titiknya, tangkap, kemudian viralkan sebagai efek jera. Tolong program ini bisa berjalan segera,” ucap Bima Arya.

Menurut Bima Arya, sistem operasi tang­kap tangan kepada pelaku pembuang sampah dan limbah mulai ­berjalan efektif awal Januari 2019. Membangun efek jera dinilai efektif untuk menghentikan kebiasaan ­mas­ya­rakat membuang sampah semba­ra­ngan.

Terkait dengan pembuangan limbah ke sungai, Bima Arya memastikan akan melacak laporan tersebut lebih lanjut. Jika memungkinkan untuk me­midana pelaku, dia memastikan Pemkot Bogor tidak segan-segan me­merkarakan pelaku.

”Kita ingin bangun efek jera, jika tertangkap dan punya bukti, hukum proses kurung bila diperlukan. Kita bentuk tim patroli, tolong Pak Lurah ’bolanya’ ada di lurah. Seminggu ke depan kita sosialisasikan, nanti kita agendakan turun ke lapangan,” ucap Bima Arya.***

Bagikan: