Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 24.4 ° C

Bupati Cianjur Ditangkap KPK, Masyarakat Tumpah Ruah Syukuran di Alun-alun

Shofira Hanan
RIBUAN orang memadati alun-alun Cianjur, Cianjur, Jumat 14 Desember 2018. Dua hari pasca penangkapan Bupati Cianjur, euforia masyarakat belum juga surut hingga mampu menyulap alun-alun menjadi lautan manusia dalam sekejap.*/SHOFIRA HANAN/PR
RIBUAN orang memadati alun-alun Cianjur, Cianjur, Jumat 14 Desember 2018. Dua hari pasca penangkapan Bupati Cianjur, euforia masyarakat belum juga surut hingga mampu menyulap alun-alun menjadi lautan manusia dalam sekejap.*/SHOFIRA HANAN/PR

ALUN-alun Cianjur berubah menjadi lautan manusia, sejak Jumat siang. Euforia yang masih belum habis usai ditangkapnya Irvan Rivano Muchtar, membuat warga tumpah ruah untuk sama-sama meluapkan suka cita.

Di ruang terbuka yang masih dalam tahap pembangunan itu, warga terus berdatangan dari segala arah. Tidak sedikit yang datang karena menerima undangan ngaliwet yang beredar sehari sebelumnya.

Sayangnya, kegiatan ngaliwet itu tak begitu ramai. Hanya terlihat beberapa orang yang menggelar lapak untuk menyantap nasi liwet. 

“PR” pun menyempatkan untuk menemui sejumlah orangtua yang datang, dan meminta pendapat mereka terkait kasus Irvan Rivano Muchtar.

Salah satu warga Asep Sopiandi (46) yang datang untuk menikmati suasana alun-alun yang baru, memberikan sedikit pendapat sebagai warga Cianjur.

"Kalau mau bicara soal bupati, sebenarnya saya malu punya pemimpin yang korupsi. Makanya saya berharap, pemimpin selanjutnya bisa sayang sama rakyat, amanah, dan tidak korup,” kata Asep di sela kunjungannya, Jumat 14 Desember 2018.

Apa yang terjadi pada pemerintahan Irvan, diharapkan tak terulang lagi. Ia menginginkan, pemerintahan selanjutnya tidak terganggu dan bisa berjalan aman serta kondusif.

Pungutan sekolah dan bangunan tak layak

Ia melanjutkan, sebagai orangtua yang juga memiliki anak di tingkat SMP, merasa miris dengan korupsi yang terjadi di lingkungan pendidikan. Apalagi, kenyataan di lapangan memperlihatkan jika masih banyak bangunan sekolah yang rusak.

“Akhirnya saya jadi heran, karena ternyata orangtua masih harus terbebani pungutan sekolah. Padahal ada dana alokasi khusus untuk pembangunan,” ujar dia.

Asep mengaku, meskipun melalui tahap musyawarah saat hendak melakukan pembangunan, tapi ada akhirnya selalu ada pungutan. Setidaknya Rp 50 ribu - 100 ribu yang dibebankan pada orangtua.

Kini, ia sangat bersyukur karena penangkapan yang dilakukan KPK membuka semua kebobrokan. Orangtua jadi mengetahui, bahwa sebenarnya ada bantuan dengan jumlah sangat besar untuk sekolah.

"Semoga pimpinan yang selanjutnya, bisa berkaca dengan amarah warga yang terjadi jika kepemimpinannya tidak betul. Dan semoga KPK tetap mengawal Cianjur," ujar Asep.

Namun, ajang wisata dadakan yang dipenuhi warga itu, sempat dicederai oleh tindakan anarkis sejumlah orang. Beberapa orang merobohkan beteng seng yang menutupi sejumlah area alun-alun.

Entah apa motivasi sejumlah warga tersebut, mereka merangsek masuk begitu saja sambil mengeluarkan seekor ayam yang berada di area pendopo.

Kegaduhan pun tak terhindarkan, beberapa orang meneriakkan “Peuncit...peuncit...” ketika ayam berbulu putih itu dikeluarkan. Ayam pelung itu bahkan nyaris disembelih. Beruntung aparat kepolisian dan TNI langsung datang dan mampu meredam emosi warga.

RIBUAN orang memadati alun-alun Cianjur, Cianjur, Jumat 14 Desember 2018. Dua hari pasca penangkapan Bupati Cianjur, euforia masyarakat belum juga surut hingga mampu menyulap alun-alun menjadi lautan manusia dalam sekejap.*/SHOFIRA HANAN/PR

Tidak begitu jelas alasan massa yang mengamuk itu, beberapa orang menilai, hal tersebut menjadi luapan emosi dan kekecewaan yang ditunjukan warga.

Beruntung, aparat keamanan berhasil membuat keadaan lebih kondusif. Menjelang sore hari, warga cukup lama menghabiskan waktu untuk mendengarkan orasi yang memang menjadi agenda di alun-alun.

Kejanggalan kepemimpinan Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar

Selama berada di alun-aun, begitu banyak ekspresi yang ditunjukkan warga. Wisata dadakan itu, sekaligus menjadi panggung ekspresi bagi setiap warga Cianjur.

Sementara itu, Perwakilan Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi Asep Toha mengatakan, apa yang terjadi di alun-alun Cianjur merupakan luapan emosional warga.

Selama ini, warga melihat ada sesuatu yang janggal dan tidak cocok dalam pemerintahan Irvan. Terutama warga yang di wilayah perkotaan.

"Hari ini mereka jauh lebih terbuka. Euforia ini adalah permulaan untuk melakukan perbaikan di Cianjur. Kota yang harus menjadi benar-benar bersih, Cianjur berpotensi besar maju, selama memiliki komitmen besar dan memiliki niat ikhlas," ujar dia.

Untuk pemerintahan selanjutnya, harapan besar disimpan di pundak Herman Suherman yang kini menjadi Plt Bupati Cianjur. Ia mengharapkan, ada perombakan yang baik agar pemerintahan bersih dengan komitmen bebas korupsi yang digaungkan di setiap dinas.

Tidak lupa, Asep juga menginginkan agar semua warga dilibatkan dalam setiap rencana pembangunan.***

Bagikan: