Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Meski Sementara, Jembatan Cipatujah Normalisasi Jalur Selatan Jawa Barat

Bambang Arifianto
PETUGAS mengatur kendaraan yang melintasi bailey Cipatujah selepas resmi dibuka di Desa/Kecamatan Cipatujah, Kamis 13 Desember 2018. Peresmian bailey membuat jalur selatan Jawa Barat kembali normal./BAMBANG ARIFIANTO/PR
PETUGAS mengatur kendaraan yang melintasi bailey Cipatujah selepas resmi dibuka di Desa/Kecamatan Cipatujah, Kamis 13 Desember 2018. Peresmian bailey membuat jalur selatan Jawa Barat kembali normal./BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membuka secara resmi penggunaan bailey atau jembatan sementara Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis 13 Desember 2018. Jalur selatan Jawa Barat pun kini kembali normal selepas jembatan lama ambruk satu bulan lalu.

Peresmian bailey langsung dilakukan Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Kementerian PU PU PR Hari Suko Setiono di lokasi proyek. Hari memotong pita dan menjajal langsung bailey dengan menggunakan mobilnya. Selepas Hari dan pejabat Kementerian PUPR dan wilayah setempat menjajal bailey, warga berbondong-bondong ikut mencobanya.

Mereka melintasi bailey dengan menggunakan sepeda motor dan mobil secara bergantian. Hari bersyukur persoalan putusnya jalur selatan Jawa Barat karena ambruknya Jembatan Cipatujah sudah bisa teratasi. "Alhamdulilah dengan kerja keras kita semua," kata Hari saat memberikan sambutan.

Butuh waktu sekitar 30 hari hingga bailey itu terpasang. Hari mengatakan, para pekerja menghadapi berbagai kendala alam ketika mengerjakan proyek tersebut.‎ "Kami merasa sekali pada waktu kita melaksanakan pekerjaan sebenarnya tidak mudah, kondisi alamnya, cuaca itu benar-benar menyulitkan kami," ucapnya. Cuaca buruk yang melanda Cipatujah membuat arus sungai kencang dan membahayakan para pekerja.

Padahal, para pekerja dituntut untuk penyelesaian pemasangan bailey secepatnya dengan konstuksi bentang jembatan yang cukup panjang. Mereka juga harus memasang dudukan atau tiang pancang bailey di tengah badan sungai.

Hari menegaskan, tetap memperhatikan aspek keselamatan para pekerja. "Nomor satu memang tetap kita bekerja, tetapi keselamatan nomor satu," ucapnya. Jerih payah pekerja pun berbuah manis saat jembatan telah bisa dilintasi. Para warga bahkan sempat tumpah ruah ke jembatan dengan berjalan kaki sebelum resmi dibuka. Mereka berfoto serta duduk-menikmati suasana muara Cipatujah tepat di depan Pantai Pasanggrahan.  Hari memastikan kondisi bailey itu kuat. Meski demikian, dia tetap mengingatkan masyarakat bahwa bailey bukan jembatan permanen. ‎

"Jembatan ini enggak bisa kita gunakan untuk semua kendaraan, jadi kami mohon maaf karena jembatan ini didesain, dirancang sementara," ujarnya. Batas maksimun berat beban kendaraan yang melintas hanya lima ton. Bailey pun cuma bisa dilintasi satu arah dengan sistem buka tutup.

Keterbatasan tersebut membuat masyarakat harus menjaga dan merawat akses penghubung Kabupaten Tasikmalaya-Garut di pesisir selatan itu. "Kita minta supaya semua pihak tetap menjaga agar jembatan ini aman sampai jembatan permanen diselesaikan," tuturnya. Bailey Cipatujah memiliki lebar 3,5 meter, total bentang panjang 130 meter dengan bailey terpasang 81 meter. Sedangkan jembatan lama yang ambruk hanya memiliki panjang 64 meter. Bailey juga memiliki 10 tiang pancang serta dua tiang yang berfungsi sebagai penahan terjangan sampah-sampah yang terbawa arus sungai. ‎ Hari menargetkan, pengerjaan jembatan permanen bakal dimulai dan selesai pada 2019. Kementerian PU PR saat ini masih melakukan riset terkait penentuan titik pembanguan jembatan permanen.

Setidaknya meski sementara, kehadiran bailey bisa kembali membuat aktivitas masyarakat normal. Hari mengaku sempat terenyuh melihat aktivitas anak-anak Cipatujah yang harus berangkat sekolah dengan menggunakan perahu. Begitu pula warga yang sakit tetapi kesulitan diantar ambulance karena putusnya jembatan. Kini, kondisi darurat itu bisa terlewati. Namun, Hari tetap meminta warga tetap bersabar karena harus bergantian melintasi bailey dan menunggu penyelesaian jembatan.

 

Tak perlu lagi perahu untuk seberangi sungai

Sementara itu, Camat Cipatujah HE Agus Muslim mengapresiasi kinerja Kementeran PU PR yang telah merampungkan penyelesaian bailey. "Ini yang dinanti oleh seluruh warga masyarakat," ujarnya.

Dia berharap, warga bisa memanfaatkan keberadaan akses penghubung tersebut. Keberadaan bailey membuat para pelajar dan warga tak perlu lagi menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai. Setiap hari, warga harus mengeluarkan uang senilai Rp 20 ribu guna membayar jasa penyeberangan perahu. Agus juga mewanti warganya untuk memelihara bailey.

Pantauan "PR" hingga Kamis malam, pengendara tak henti lalu lalang di atas bailey selepas diresmikan. Guna mengatur arus kendaraan, pekerja memasang pula rambu dan tiang palang yang membatasi ketinggian kendaraan yang boleh masuk. Ketinggian kendaraan yang boleh masuk hanya 2.75 meter.

Seperti diketahui, cuaca buruk yang terus terjadi membuat Jembatan Cipatujah ambruk pada Selasa 6 November 2018. Tak hanya akses yang putus, longsor juga terjadi di Kecamatan Culamega yang lokasinya berdekatan dengan Cipatujah. Hitungan kerugian sementara akibat bencana banjir dan longsor yang menerjang Kecamatan Cipatujah dan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya mencapai Rp 71.311.903.496. ***

Bagikan: