Pikiran Rakyat
USD Jual 14.373,00 Beli 14.073,00 | Sedikit awan, 22 ° C

Bupati Cianjur Dituding Memiliki Tangan Kanan Khusus Menangani Proyek, Siapa Dia?

Shofira Hanan
BUPATI Cianjur Irvan Rivano Muchtar (tengah) berbincang bersama usai apel pagi di Pendopo Cianjur, Jalan Siti Jenab, belum lama ini. Bupati Cianjur beri izin penggunaan kendaraan dinas untuk dipakai mudik Lebaran.*/IRA VERA TIKA/PR
BUPATI Cianjur Irvan Rivano Muchtar (tengah) berbincang bersama usai apel pagi di Pendopo Cianjur, Jalan Siti Jenab, belum lama ini. Bupati Cianjur beri izin penggunaan kendaraan dinas untuk dipakai mudik Lebaran.*/IRA VERA TIKA/PR

CIANJUR, (PR).- Tubagus Cepi Sethiady, kakak ipar dari Bupati Irvan Rivano Muchtar, dinilai dapat menjadi kunci pengungkapan kasus korupsi di Cianjur. Cepi diketahui sebagai orang kepercayaan yang selalu dilibatkan dalam sejumlah proyek besar pada kepemimpinan dua Bupati Cianjur.

Ketua Presidium Aliansi Masyarakat untuk Penegakkan Hukum (Ampuh), Yana Nurzaman mengatakan, Cepi merupakan penghubung antara pemerintah dan pemegang proyek. Sejak dua periode rezim Tjetjep Muchtar Soleh (Bupati Sepuh) hingga kini, Cepi menjadi konektor antara Tjetjep dan Irvan Rivano Muchtar dengan para pengusaha.

Menurut pengamatan dan analisa Yana beserta tim, sejak pergantian rezim, Cepi jauh lebih difungsikan dalam setiap proyek. Bahkan, keberadaan Cepi lebih sentral dibandingkan Irvan Rvano Muchtar yang akhirnya dibatasi untuk mengatur anggaran proyek.

Ia menjelaskan, sejauh ini Irvan Rivano Muchtar hanya ditugaskan mengatur birokrasi, tidak lebih. Sementara terkait proyek pembangunan dan sejenisnya, diambil alih oleh pihak lain.

“Dalam hal ini, bupati terdahulu yakni Tjetjep yang masih seringkali berperan dalam pemerintahan. Dengan kata lain, Tjetjep tidak bisa menghilangkan post power syndrome setelah masa jabatan berakhir,” ujar Yana, Kamis 13 Desember 2018.

Bukan rahasia lagi, jika Tjetjep masih memiliki posisi untuk menguasai seluruh anggaran. Terutama di bidang infrastruktur, dengan memaksimalkan peranan Cepi untuk menghubungi pihak-pihak dalam proyek.

The second hand dari Bupati Sepuh dan Bupati Anom itu, dikenal mahir bergerak di banyak bidang. Cepi andal menjadi kepanjangan tangan dua bupati beda periode tersebut.

Selama belasan tahun, posisi Cepi tak pernah digantikan oleh siapapun. Hampir seluruh proyek di Cianjur pasti melibatkan peranan Cepi, sebut saja proyek di Dinas PUPR dengan anggaran di atas Rp 1 miliar. 

Tak hanya itu, proyek pengadaan yang bersumber dari DAK, alat kesehatan, alat peraga, hingga tugu menjadi lahan dimana Cepi menjembatani kebutuhan Tjetjep ataupun Irvan Rivano Muchtar.

“Tapi, seluruh proyek yang ditangani beserta aliran dananya, terindikasi tidak bermuara kepada Irvan melainkan kepada Tjetjep. Diyakini seluruh pungutan-pungutan yang melibatkan beliau, digunakan sebagai dana kampanye tahun mendatang,” kata dia.

Hal itu didasari oleh besarnya campur tangan Tjetjep dalam masa jabatan putranya. Yana menilai, bupati dua periode itu masih merasa berkuasa sampai saat ini.

Maka dari itu, besar kemungkinan peranan Cepi yang masih dimaksimalkan menjadi cara untuk memuluskan kebutuhan pribadi Tjetjep. Ia meyakini, dana Rp 1,5 miliar pada korupsi DAK pendidikan, tidak bermuara pada Irvan Rivano Muchtar, melainkan akan disampaikan kepada Tjetjep.

Yana mengungkapkan, apa yang disampaikannya harus bisa ditelusuri lebih jauh oleh KPK. Tidak menutup kemungkinan, penyelidikan akan sampai pada dugaan-dugaan korupsi lain pada masa pemerintahan Tjetjep yang tidak tersentuh sampai akhir.

“Selama ini dinasti politik bupati bisa dikatakan kebal hukum. Tapi setelah ini, diharapkan tidak ada batasan apapun untuk menindak penyelewengan yang terjadi dan bahkan pernah dilaporkan,” ujar dia.

Di dalam persoalan ini, Cepi bisa jadi hanya menjadi pihak yang dimanfaatkan. Dia bukan aktor intelektual yang menggerakkan banyak hal. Namun, seluruh pernyataan Cepi akan menjadi kunci untuk membongkar banyak hal yang terjadi terkait korupsi-korupsi.

Yana akan terus melakukan pengawalan bersama lembaga anti korupsi lain, untuk membuktikan dugaan aliran dana yang bermuara ke Bupati Sepuh.

Politik dinasti

Sementara itu Direktur Cianjur Institute sekaligus Koordinator Presidium Rakyat, Ridwan Mubarak mengatakan, penangkapan Bupati Cianjur harus menjadi momen pemantik untuk membongkar kasus lain. 

“Banyak rangkaian kasus yang harus dikembangkan dari persoalan kemarin. Ini pekerjaan besar untuk banyak pihak, agar mampu menyingkap para aktor intelektual yang berperan selama 14 tahun di politik dinasti ini,” ujar Ridwan.

Ia menyebutkan, banyak proyek besar yang harus diselidiki seluk beluknya. Diantaranya proyek Campaka senilai Rp 46 miliar, alun-alun senilai Rp 62 miliar, ditambah lagi dana bansos 2009 lalu, beserta kasus-kasus lain yang sudah lama menguap.

Ridwan menilai, pengungkapan korupsi ini dapat berlaku surut. Diharapkan, pengungkapan kasus dapat bermuara hingga Tjetjep Muchtar Soleh yang selama ini bisa jadi dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Menurut dia, ada kemungkinan alotnya pengusutan korupsi di Cianjur dikarenakan Tatar Santri telah dijadikan sapi perah untuk kepentingan Pileg 2019. Ada pembahasan suaka politik di pusat, yang menyebabkan korupsi di Cianjur berlarut-larut.

Maka dari itu, selama orang-orang di dalam politik dinasti tidak diproses, maka duri-duri akan terus bercokol. Ia juga mengingatkan, pelaku politik dinasti harus dikejar dan diadili, mengingat orang-orang di lingkaran Irvan Rivano Muchtar kini mulai cuci tangan.

“Ungkap dalang sebelumnya, yaitu Tjetjep maka persoalan politik dinasti ini bisa saja selesai,” ucapnya.

Besar harapan agar Cianjur mampu segera berbenah. Tidak terarah dan terukurnya struktur birokasi, konsep pembangunan yang tidak mengakar di masa Irvan Rivano Muhctar harus diakhiri.

Birokrasi harus sesuai lagi, dengan fungsi kontrol maksimal. “Dan mohon diingat, masyarakat Cianjur itu tidak miskin dan bodoh. Tapi mereka dimiskinkan dan dibodohkan oleh pemerintah,” kata Ridwan.***

 

Bagikan: