Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Bupati Cianjur Ditangkap KPK, Rakyat Cianjur Gelar Berbagai Syukuran

Shofira Hanan
BEBERAPA perwakilan Presidium Rakyat melakukan cukur bersama atau gundul massal di Pesantren At Taqwa, Cianjur, Rabu 12 Desember 2018 malam. Aksi gundul massal menjadi bentuk syukur pasca penangkapan Bupati Cianjur yang terjerat kasus korupsi dana pendidikan.*/SHOFIRA HANAN/PR
BEBERAPA perwakilan Presidium Rakyat melakukan cukur bersama atau gundul massal di Pesantren At Taqwa, Cianjur, Rabu 12 Desember 2018 malam. Aksi gundul massal menjadi bentuk syukur pasca penangkapan Bupati Cianjur yang terjerat kasus korupsi dana pendidikan.*/SHOFIRA HANAN/PR

KEGEMBIRAAN tak mampu disembunyikan masyarakat Cianjur, atas berita penangkapan bupati mereka Irvan Rivano Muchtar. Berbagai cara dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, setelah berakhirnya kezaliman yang dianggap dilakukan Bupati Cianjur selama masa kepemimpinannya.

Mulai dari penggratisan angkot, ngeliwet bersama, hingga mencukur habis rambut atau gundul massal. Cara unik ini menjadi luapan syukur atas ‘rezeki’ tak terduga di akhir 2018.

Bak tertiban durian runtuh, terciduknya Irvan menjadi hadiah besar yang diberikan oleh KPK. Di media sosial instagram, rasa syukur juga banyak diungkapkan di akun @visitcianjur. Mayoritas komen menyatakan kelegaan dan suka cita, karena kepemimpinan Irvan akhirnya harus disudahi.

“Nah, aksi gundul massal ini adalah saah satu bentuk nazar dan tasyakur kami. Setelah OTT bupati dilakukan, inilah cara kami mengekspresikan rasa syukur,” ujar Koordinator Presidium Rakyat, Asep Ashary, Kamis 13 Desember 2018.

Ia mengatakan, ekspresi seperti itu bukan tanpa alasan. Sebagian besar masyarakat Cianjur sudah terlalu lelah dengan kepemimpinan Irvan.

Asep yang juga aktif mengkritisi pemerintahan Irvan menjelaskan, sebenarnya sebelum terpilih dan menjabat sebagai bupati, masyarakat sudah mencium gelagat tertentu. Tidak sedikit orang yang merasa Irvan tidak layak memimpin Cianjur.

Masyarakat mampu menilai, seberapa bobroknya dinasti di tengah keluarga Irvan yang tidak lain adalah putra bupati terdahulu, Tjetjep Muchtar Soleh. Bagi masyarakat Cianjur, selama kepemimpinan Tjetjep sudah terlalu banyak kasus menyimpang yang akhirnya menguap begitu saja.

“Makanya, ketika putranya meneruskan dinasti itu, masyarakat sangat gerah. Apalagi setelah dijalani, kepemimpinan Irvan tidak benar-benar menghasilkan suatu pembangunan dengan dampak signifikan,” ujar dia.

Banyak program Irvan Rivano mengada-ada

Selama jadi Bupati Cianjur, Irvan memang dinilai cukup kontroversial dalam persoalan pemerintahan. Terutama, dalam aspek pembangunan daerah yang tak jarang dinilai terlalu mengada-ada.

Sebut saja, pembangunan ratusan tugu yang menurut banyak pihak tak begitu mendesak atau dibutuhkan. Kemudian, penanaman pohon kelapa di tengah jalan, saat ini ide tersebut tidak pernah disetujui masyarakat karena urgensi dan dampak yang tak terasa.

Irvan juga menghebohkan massa, setelah memutuskan untuk membangun pusat pemerintahan di selatan Cianjur. Ia diketahui lebih banyak menghabiskan waktu di sana, membangun proyek di Campaka dengan harapan mampu meratakan pelayanan.

Sayangnya, langkah tersebut kembali dianggap ganjil karena Irvan diduga melakukan penyelewengan dalam prosesnya. Terdapat indikasi korupsi terjadi dalam proyek pembangunan di Campaka.

“Bukan hal aneh lagi, baru tiga tahun menjabat memang sudah banyak anggaran yang tidak menjadi prioritas. Dan kepemimpinan Irvan, cenderung korup,” ujar dia.

Oleh karena itu, Asep juga menjadi salah satu pihak yang berupaya membuka sederet ‘dosa’ bupati. Beberapa kali ia melaporkan indikasi penyelewengan ke KPK, Bareskrim, hingga BNN pusat.

“Tapi memang banyak yang menguap. Bupati itu bisa kebal hukum,” katanya.

Menurut dia, tertangkapnya bupati akan menjadi titik awal perjuangan masyarakat. Seluruh pihak tidak akan berhenti, karena kasus Dana Alokasi Khusus (DAK) itu hanyalah kasus kecil.

Asep menegaskan, kasus besar Bupati Cianjur akan terbuka lebar. Sebut saja kasus di Campaka hingga alih fungsi lahan yang sejatinya sudah menjadi krusial sejak kepemimpinan sebelumnya.

“Akan kami kawal terus, kalau perlu terjun langsung pun kami siap. Cianjur harus kembali ke Sugih Mukti, bukan Jago. Tapi untuk saat ini, kami lebih banyak mensyukuri dulu apa baru saja terjadi,” ujar dia.

Rencananya aksi gundul massal akan dilanjutkan Jumat 14 Desember 2018 besok untuk massa yang lebih banyak dan tidak dibatasi. Bersamaan dengan ngaliwet, salawat bersama, dan ceramah di Alun-alun Cianjur.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren At-Taqwa sekaligus koordinator acara ‘Ngaliwet 1.000 Kastrol’, Umar Burhanudin mengatakan, di Jumat berkah nanti seluruh elemen masyarakat diharapkan hadir dan berkumpul bersama.

“Ngaliwet ini jadi penyaluran kegembiraan yang baik, karena banyak euforia masyarakat yang tidak bisa ditahan. Ada yang sampai ingin menghancurkan pohon kelapa, itu tidak baik makanya diarahkan ke sini (ngaliwet),” ucapnya.

Ia mengatakan, ponpes telah menyiapkan setidaknya 2.000 liter beras yang siap dimasak secara sukarela oleh ibu-ibu partisipan. Umar juga menyiapkan lauk pauk yang siap disantap bersama nasi liwet di alun-alun.

Diperkirakan, nasi liwet akan cukup untuk disantap hingga 16 ribu orang. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat datang untuk sama-sama menikmati berkah tersebut.

Selain makan bersama, Umar menjelaskan, acara yang digelar itu juga akan diisi dengan istigasah, salawat bersama, dan ceramah dari sejumlah ustaz.***

Bagikan: