Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

73 Tahun Pertempuran Bojongkokosan, Indonesia Taklukkan Pemenang Perang Dunia II

Kodar Solihat

SENIN 10 Desmeber 2018, kawasan Bojongkokosan, Parungkuda, dan Cibadak di Kabupaten Sukabumi ­kembali menjadi momentum ­mengingat peristiwa pertempuran yang terjadi lokasi ini 73 tahun lalu.

Talang air berikut tiang ­terbuat yang dari batu yang melintas di atas rimbunnya pepohonan, menjadi ciri khas celah Jalan ­Bojongkokosan-Parungkuda-Cibadak, Kabupaten ­Sukabumi, dekat sebuah rongsokan mobil tua sisa kecelakaan masa lalu.

Itulah lokasi yang da­hu­lu­nya pernah terjadi pertempur­an antara pihak Indonesia mela­wan pasu­kan Inggris, pada 9 dan 10 Desember 1945.

Dalam catatan seja­rah Indonesia disebut peristiwa Pertempuran Bojongkokosan atau menurut versi Inggris ”Battle of Tjibadak”.

Sayangnya, Bojongkokosan yang merupakan sebuah desa atau dahulunya kampung, kini sering dijuluki ”Bojongkos-kosan,” Soalnya, pada kawasan itu kini banyak usaha ru­mah kos yang diihuni oleh para kar­yawan pabrik yang kini banyak terdapat di jalur Cicurug-Parung­kuda-Cibadak.

Dengan melihat sejumlah perbandingan foto dari Imperial War Museum Inggris dan diorama Museum Palagan Bojongkokosan di Parungkuda Kabupaten Sukabumi, jejak-jejak peristiwa pertempuran Bojongkokosan, cu­kup banyak yang masih utuh.

Ce­lah-celah tebing di atas Jalan Raya Bojongkokosan-Parungkuda-Ciba­dak tersebut menjadi lokasi yang membuat pasukan Inggris babak belur. Padahal mereka baru saja menang Perang Dunia II atas Jepang di Asia-Pasifik tahun 1945. 

Pertempuran di Bojongkokosan terjadi pada Minggu, 9 Desember 1945 dan Senin, 10 Desember 1945, jika diperingati saat yang sama Desember 2018 ini, sudah 73 tahun lalu.

Kebetulan, antara tanggal dan hari peristiwa Desember 1945 itu juga sama dengan penanggalan Desember 2018 ini, sama-sama pas hari Minggu dan Senin, serta sedang hujan deras.

Gambaran pertempuran di Bojongkokosan, masih tersimpan da­lam arsip sejumlah surat kabar terbitan Australia, yang tersimpan di National Library of Australia Trove dan arsip Imperial War Museum Inggris.

”Battle of Tjibadak” (karena Bojongkokosan terdapat pada jalur Jalan Raya Parungkuda-Cibadak) berupa ”ambush” alias penyergapan yang dilakukan pihak Indonesia terhadap konvoi pasukan Inggris terdiri tank, kendaraan la­pis baja, dan truk, yang akan menuju ke Bandung untuk mengeva­kuasi para interniran Eropa yang baru dibebaskan dari kamp Jepang.

Pertempuran paling sengit



Surat kabar The West Australian, terbitan Perth, Australia, pada Selasa, 11 Desember 1945 memberitakan, pada Senin, 10 Desember 1945, terjadi pertempuran paling sengit di Jawa Barat sejak menyerahnya Jepang dari Perang Dunia II pada 2 September 1945.

Pasukan Indonesia menyergap konvoi pasukan Inggris pada sebuah celah di jalur Batavia ke Bandung (yang dimaksud adalah di Bojong­ko­kos­an, Sukabumi pada Minggu, 9 Desember 1945).

Dalam pertempuran tersebut, menurut berita itu, dari 46 korban pasukan Inggris, di ma­na dari pasukan Inggris asli, terdiri atas 2 orang korban tewas (seorang perwira dan seorang prajurit). Korban lainnya, pasukan Inggris yang terdiri atas orang-orang India, di mana 14 orang tewas dan 30 luka-luka.

Konvoi pasukan Inggris itu dipimpin oleh sebagian kecil orang-orang Inggris, sebagian besar tentara merupakan orang-orang India dari Brigade India Ke-36. Konvoi pasukan Inggris itu mengangkut persediaan logistik dari Batavia untuk dikirimkan ke Bandung, dise­rang pejuang Indonesia pada lokasi 50 mil di selatan Batavia pada celah di jalan raya dari Cicurug menuju ke Cibadak.

Karena kewalahan menghadapi serangan pihak Indonesia, konvoi pasukan Inggris tersebut kemudian meminta bantuan serangan udara dari pihak RAF (Royal Air Force/­Angkatan Udara Inggris).

Dari angkasa Bojongkokosan-Cibadak, bermunculan sejumlah pesawat tempur Inggris, yang terdiri atas pesawat pemburu de Havilland ”Mosquito” dan Republic P-47 ”Thunderbolt” yang diterbangkan dari Lapangan Terbang Cililitan Batavia, lalu menyerang para pejuang Indonesia.

Dalam situasi tersebut, diceritakan, pesawat-pesawat Inggris kemudian juga menembaki dan me­nge­bom kawasan perkotaan Ciba­dak, yang lokasinya ada di selatan lokasi pertempuran.

Satu pesawat serbaguna Bristol Type 156 ”Beaufighter”, kemudian menja­tuhkan sekira 1.000 lembar selebaran peringatan, agar pihak Indo­nesia menyerah.

Diberitakan, empat pesawat Mosquito menembakan sejumlah roket yang menghancurkan lusinan bangunan di sepanjang jalan utama jalur Cibadak. Kemudian, 6 unit pesawat Thunderbolt menjatuhkan sejumlah bom masing-masing berbobot 500 pound (sekitar 226 kg) ke perkotaan Cibadak.

Saat terjadi pertempuran di Bojongkokosan, situasinya sedang hujan angin. Kondisi cuaca itu juga membuat pesawat-pesawat Inggris harus bersusah payah melewati badai besar di angkasa untuk mencapai Cibadak.

Juru bicara pihak Inggris meng­gambarkan ”Battle of Tjibadak” merupakan kondisi terberat yang dihadapi pihak Inggris dari seluruh aksinya. Mereka membandingkan pertempuran menghadapi Jepang pada Perang Dunia II.

”Dalam situa­si ini, dari udara tampak konvoi 8 truk pasukan Inggris yang terjebak dalam konflik pada jalur sekitar 10 mil di luar Cibadak (yang dimaksud adalah Bojongkokosan),” ujar salah seorang pilot Inggris.

Dalam berita itu pula, pihak ­Inggris sebenarnya kagum dengan semangat tempur para pejuang Indonesia yang tampak terorganisasi dengan baik dalam penyergapan di Bojongkokosan itu.

Pertempuran yang terjadi di Bojongkokosan baru usai saat situasi menjelang malam pada 9 Desember 1945 itu.

The Advertiser terbitan Austra­lia, Rabu, 12 Desember 1945 memberitakan, dalam petempuran di ja­lur Bojongkokosan-Parungkuda-Cibadak, pihak Indonesia meng­alami korban 50 orang gugur dan 5 orang tertangkap oleh pihak ­Ing­­­g­ris.

Babak belurnya pasukan Inggris akibat penyergapan yang dilakukan oleh pihak Indonesia itu merupakan pukulan pertama bagi pasukan Inggris begitu datang ke Indonesia setelah Perang Dunia II.

Sejarah yang dipamerkan



Kamis 6 Desember 2018 lalu, saat berkunjung ke Museum Palagan Bojongkokosan, yang lokasinya di tepian jalur bekas pertempuran Bojongkokosan, tampak sedang persiapan peringatan tahunan peris­tiwa tersebut untuk hari Minggu 9 Desember 2018.

Dua orang pengurus Museum Palagan Bojong­ko­kosan, Wawan dan Wawan Ridwan tampak sangat me­nguasai catatan resmi peristiwa pertempuran ­Bojongkokosan.

Menurut Wawan, senada dengan Wawan Ridwan, secara umum para pejuang Indonesia pelaku pertempuran Bojongkokosan sudah meninggal dunia.

Akan tetapi, berda­sarkan keterangan dari sejumlah pelaku yang masih hidup sampai dengan tahun 1990-an lalu, diperoleh informasi bahwa penyergapan yang dilakukan para pejuang Indo­nesia tersebut terdiri atas banyak kelompok, baik dari Tentara Ke­amanan Rakyat (TKR) dan cukup banyak kelompok laskar, di mana peran kalangan ulama atau tokoh agama Islam sangat dominan.

”Sejumlah pelaku pejuang yang saat itu masih hidup menceritakan, serangan itu dimulai sejak siang sampai menjelang malam, saat cuaca sedang hujan deras. Ka­rena pertempuran itu, konvoi panjang pasukan Inggris tersebut, ’kepa­lanya’ terjebak di Bojong­ko­kosan, tetapi ujungnya masih berada di ­Cicurug,” kata Wawan seraya me­ngatakan bahwa dirinya sudah menjadi pengurus museum itu sejak 1987. Sementara itu, Wawan Ridwan sendiri menjadi pengurus sejak 1989.

Di antara sejumlah diorama pertempuran Bojongkokosan di museum itu, Wawan menunjukkan salah satu aksi prajurit TKR bernama Aceng yang melakukan serang­an terhadap konvoi Inggris dengan cara tiarap di atas talang air di celah jalur pertempuran itu.

Akan tetapi, Aceng kemudian gugur terkena ledakan bom yang dijatuhkan pesawat Inggris pada sudut jalur talang tersebut (bekas ledakan itu lokasinya ada di dekat tugu rongsokan mobil), sehingga tubuhnya hancur.

Wawan mengatakan, Wawan Ridwan, serta personel Palagan Bojongkokosan lainnya, Wewen, secara umum jenazah para 28 orang pejuang Indonesia, termasuk Aceng, yang gugur pada pertempuran itu, kini dimakamkan di Taman Bahagia.

Ada pula puluhan korban gugur dari kalangan masyarakat yang saat itu juga ikut bertempur, dimakamkan di suatu lokasi yang kini di depannya sudah menjadi Pasar Parungkuda. Museum Palagan Bojongkokosan juga menyebutkan, pada pertempuran penyergapan dan pengepungan itu, para pejuang Indonesia tak semuanya menggunakan senjata api.

Ada juga yang bersenjata tajam, tombak, dll, dalam menghadapi pasukan Inggris yang bersenjata lengkap. Masyarakat yang ikut bertempur melempari pasukan Inggris de­ngan batu, bahkan ada ibu-ibu rumah tangga ikut dengan menggunakan alat-alat memasak.

Penyergapan ala “Black Hawk Down”



Pada perang era lebih mo­dern, pertempuran berpola penyergapan di Bojongkokosan boleh jadi situasinya cukup mirip dengan pe­nyergapan dan pengepungan yang dilakukan aliansi nasionalis Somalia yang dipimpin Mohamed Farrah Aidid terha­dap konvoi pasukan Amerika di Mogadishu, Somalia, 3-4 Oktober 1993.

Film berjudul ”Black Hawk Down” (produksi tahun 2001) meng­gambarkan para pejuang bersenjata Somalia dibantu masya­rakat yang melempari dengan batu, menyergap konvoi kendaraan pasukan Amerika serta menjatuhkan dua helikopter UH-60 ”Blackhawk”.

Banyak tentaranya tewas dalam ”Battle of Mogadishu” yang merupakan bagian Operasi Gothic Serpent itu.

Ceceran sejarah perang di Cibadak



Suasana hiruk pikuk dan suasana panas menjadi keseharian kawasan Cibadak, Kabupaten Sukabumi di masa kini, Tampak jelas suasana perdagangan, dan berseli­werannya para buruh pabrik dari sejumlah industri setempat.

Kawasan Kecamatan Cibadak memiliki posisi strategis, karena merupakan simpang penghubung antara jalur ke Bogor, ke Palabuhanratu, dan menuju ke Cianjur-Bandung. Selain jalan raya, terdapat juga lintasan rel kereta api yang menghubungkan rute ke Bogor dan ke Sukabumi.

Jika diamati, di kawasan Cibadak dan sekitarnya, sudah sa­ngat jarang terdapat bangunan tua sisa-sisa zaman kolonial, kecuali masih eksisnya Stasiun Kereta Api Cibadak.

Begitu pula suasana deretan bangunan toko, yang rata-rata tampak tampilan tahun 1970-an sampai 1990-an atau sebagian rehabilitasi sisa-sisa bangunan lama yang sudah tertu­tup.

Menyelisik mengapa di perkotaan Cibadak, khususnya pada kawasan perdagangan sudah sangat sulit ditemukan sisa-sisa peninggalan bangunan zaman kolonial, tampaknya dapat dikaitkan dengan pe­ristiwa pertempuran Bojongkokosan pada 9-11 Desember 1945.

Sebagian besar bangunan lama, khususnya toko-toko milik orang-orang Tionghoa sudah hancur akibat ditembaki dan dibom pesawat-pesawat Inggris saat ”Battle of Tjibadak” awal Desember 1945, demikian diungkap dari arsip surat kabar yang tersimpan di National Library of Australia Trove dan Konklinklijke Bibliotheek Delpher Belanda.

Gambaran itu diperoleh dari pemberitaan The Advertiser terbitan Australia, Rabu, 12 Desember 1945, yang menyebutkan, sampai dengan Selasa, 11 Desember 1945, pertempuran di Cibadak masih berlanjut, tetapi situasi perkotaan Cibadak telah hancur karena ditembaki oleh sejumlah pesawat Mosquito dan Thunderbolt Inggris.

Serangan tersebut dilakukan pihak Inggris, yang merasa jengkel terhadap penyer­gapan oleh pihak Indonesia terhadap konvoi pasukan Inggris pada Minggu, 9 Desember 1945. Pertempuran kemudian merembet ke sekitar perkotaan Cibadak, sehingga pihak Inggris kemudian mendatangkan bantuan pasukan Gurkha. 

Jadi abu



Dua tahun kemudian, surat kabar De Gooi-en Eemlander, ter­bitan 8 Agustus 1947, yang arsipnya tersimpan di Koninklijke Bibliotheek Delpher Belanda memberitakan, situasi kawasan perdagangan di Cibadak sudah benar-benar menjadi abu, akibat serangan udara dan pengeboman oleh sejumlah pesawat terbang Inggris di Cibadak pada ­awal Desember 1945.

Rupanya, serangan udara Inggris tersebut keliru sasaran. Semula, serangan tersebut bermaksud menghabisi para pemuda pejuang Indonesia di daratan de­ngan menyerang berbagai bangunan toko di jalur bersangkut­an, tetapi ternyata adalah deretan toko milik orang-orang Tionghoa.

Diberitakan pula, saat pasukan Belanda memasuki Cibadak pada Agresi Militer ”Operasi Produk” yang selesai pada 5 Agustus 1947, mereka menyaksikan para penduduk di antara reruntuhan berbagai bangunan yang kembali dihancurkan.

Itu merupakan yang kedua kalinya setelah dibom dan ditem­baki roket oleh pesawat-pesawat Inggris pada Desember 1945, kemudian banyak bangunan toko di Pe­cinan Cibadak kemudian dibumi­hanguskan pihak Indonesia sebagai bentuk perlawanan terhadap serang­an pasukan Belanda menjelang Operasi Produk yang dimulai 21 Juli 1947.

Surat kabar itu memberitakan, di Cibadak pula, saat Desember 1945 (seusai pertempuran Bojong­kokosan), banyak tentara Inggris yang terdiri atas orang-orang India kemudian membelot lalu berga­bung dengan pihak Indonesia.

Gambaran umum yang tercatat dari sejumlah sumber memperlihatkan, pasukan Inggris yang terdiri atas orang-orang rumpun sebangsa India, sebenarnya terdiri atas beberapa unit dan golongan.

Ada yang terdiri pasukan Gurkha (umumnya orang-orang Nepal), India Sikh, serta orang-orang India Muslim (termasuk asal Pakistan dan Bangladesh). Orang-orang India Muslim serta tak sedikit orang-orang Sikh diketahui banyak yang kemudian membelot dari pasukan Inggris, untuk kemu­dian bergabung dengan pihak Tentara Republik Indonesia, termasuk pula di Bandung pascaperistiwa pertempuran di Jalan Lengkong Besar pada 2 Desember 1945 dan Bandung Lautan Api pada 23-24 Maret 1945.***

Bagikan: