Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cipatujah dengan Perahu Modifikasi

Bambang Arifianto
WARGA menarik perahu penyeberangan yang merapat ke tepi di muara Sungai Cipatujah, Desa/Kecamatan Cipatujah, Kamis 6 Desember 2018. Ambruknya jembatan membuat warga menggunakan perahu modifikasi untuk menyeberangi sungai.*
WARGA menarik perahu penyeberangan yang merapat ke tepi di muara Sungai Cipatujah, Desa/Kecamatan Cipatujah, Kamis 6 Desember 2018. Ambruknya jembatan membuat warga menggunakan perahu modifikasi untuk menyeberangi sungai.*

TANGIS anak itu semakin kencang saat dua perahu telah bersandar di tepi sungai. Dua perahu tersebut mengapit dan diikat pada papan kayu sebagai landasan berdirinya sepeda motor dan penumpang yang akan diangkut.

Ya, dua perahu-itu dimodifikasi sebagai alat penyeberangan bagi warga setelah Jembatan Cipatujah di Desa/Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya ambruk beberapa waktu lalu. Satu persatu warga menaiki perahu penyeberangan sore itu. Beberapa dari mereka juga membawa sepeda motornya.

Namun, tangis si anak tak juga reda kendati sang ibu terus menenangkan dan menggendongnya. Sepertinya anak tersebut ketakutan menaikki perahu yang bergoyang-goyang diterjang arus sungai dan ombak pantai. Lokasi penyeberangan darurat tersebut memang berada di muara Sungai Cipatujah yang berhadapan langsung dengan Pantai Pasanggrahan. 

Upaya sang ibu menenangkan anaknya tak kunjung berhasil. Dengan tangisan yang semakin kuat, ibu tersebut akhirnya menaiki perahu denganmenggendong anaknya.‎ "PR" menyaksikan langsung kejadian itu saat mendatangi lokasi penyeberangan pada‎ Kamis 6 Desember 2018.  

Ambruknya akses penghubung memang memisahkan Desa Cipatujah di timur jembatan dengan desa-desa di baratnya, seperti Ciandum, Sukahurip, Pameutingan, Cipanas, Ciheras, Ciparay. Enam desa itu masih masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Rudi (32), seorang pengelola perahu penyeberangan asal Cipatujah menuturkan, perahu-perahu yang dipakai merupakan bantuan dinas kelautan dan sewa dari warga. Para nelayan bertindak sebagai tekong atau nakhoda perahu penyeberangan tersebut.

Menurutnya, modifikasi dengan menyatukan atau merangkai dua perahu dilakukan agar alat angkut sementara tersebut tak mudah oleng. Perahu modifikasi itu memiliki kapasitas menampung 13 sepeda motor dan 10 penumpang. Total bobot yang bisa ditampung mencapai satu ton. Meski jarak tempuh  penyeberangan hanya 150 meter, waktu rata-rata yang dihabiskan mencapai 10 menit.

"Kalau arus tak tenang bisa mencapai setengah jam," tuturnya. Arus tak tenang terjadi saat cuaca buruk dan air laut pasang. Bila cuaca sangat tak bersahabat, aktivitas penyeberangan dihentikan sementara. Rudi tak menampik memungut bayaran kisaran Rp 5-10 ribu untuk warga dan pengguna sepeda motor sekali menyeberang. Namun, dia mengaku tak mematok besaran tarif tersebut. Besaran ongkos tetap diserahkan kepada kesukarelaan penumpang. 

Menurutnya, risiko menyeberangkan warga dan kendaraanya terbilang tinggi. Untuk itu, kehatian-hatian serta pengamatan terhadap kondisi air menjadi keniscayaan. Setiap hari dia bisa mendapat penghasilan rata-rata Rp 700 ribu. Uang itu kemudian dipotong untuk biaya urunan masjid, sewa lahan jalan dan perahu.

"Bersihnya paling (dapat) Rp 300 ribu," ucapnya. Penghasilan bersih tersebut juga kembali dibagi-bagi untuk pekerja lain yang menurut Rudi masing-masing hanya mendapat Rp 40 ribu. Kini, harapan warga mulai muncul setelah bailey atau jembata Cipatujah mulai tersambung. Harapan akan pulihnya aktivitas ekonomi, pendidikan serta tak bertaruh nyawa lagi melintasi arus sungai dan terjangan ombak menggunakan perahu modifikasi.***

Bagikan: