Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Meski Berkeyakinan Sesat, Interaksi Sosial Pengikut Sensen Dinilai Normal

PARA pengikut Sensen mempraktekan salat menghadap ke timur beberapa waktu lalu.*
PARA pengikut Sensen mempraktekan salat menghadap ke timur beberapa waktu lalu.*

GARUT, (PR).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Caringin prihatin dengan kekeliruan akidah yang dialami sebagian kecil warga di wilayahnya. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan MUI Kecamatan Caringin, jumlah warga yang menjadi pengikut Sensen tercatat sekitar 20 keluarga, atau sedikitnya 40 orang.

Ketua MUI Kecamatan Caringin Ahmad Nurjaman, mengkategorikan mereka sebagai pengikut militan. Hal ini, kata dia, telah berlangsung sejak lama.

“Penyabaran ajaran sesat Sensen di daerah kami ini sudah berlangsung lama. Kejadian terakhir yang sempat ditangani, yakni tahun 2013 lalu,” ujar Nurjaman, Rabu 5 Desember 2018.

Ia membantah bila para pengikut nabi palsu itu mengubah keyakinannya menjadi sesat karena faktor ekonomi. Ia menilai kondisi perekonomian para pengikut sensen bisa dikatakan sejajar dengan warga yang umumnya bermatapencaharian sebagai petani.

Secara sosial, tambah Nurjaman, keseharian mereka di lingkungan tempat tinggalnya pun tergolong biasa saja. Mereka tidak menutup diri karena masih bersosialisasi dengan warga lainnya.

"Aktivitas sehari-hari dengan warga lainnya terlihat normal-normal saja. Perbedaan yang jelas hanya pada saat melaksanakan salat, mereka menghadap ke arah timur, bukan ke barat dan ini sudah mulai mereka lakukan sejak bulan Juni lalu," katanya.

Selain menghadap ke timur, perbedaan lain yang mencolok pada tata cara ibadah, yakni kalimat syahadat mereka yang berbeda. Nama Muhammad dalam syahadat mereka ganti dengan Bapak Drs Sensen Komara bin Bakar Misbach.

Hal inilah yang menimbulkan keyakinan warga dan MUI, jika mereka telah menganut ajaran yang sesat sehingga rencananya akan dilaporkan ke kepolisian. Ia mengungkapkan, pada Selasa 4 Desember 2018, pihaknya bersama sejumlah tokoh masyarakat Caringin telah mendatangi Mapolres Garut.

Kedatangan mereka ke kantor polisi dilakukan hanya sebatas untuk konsultasi. Setelah dijelaskan duduk perkaranya, pihak Polres Garut pun menyarankan agar ia dan sejumlah tokoh Kecamatan Caringin melakukan pelaporan resmi.

Dikenal sejak lama



Meski kemunculan aliran sesat di daerahnya tersebut cukup menimbulkan keresahan warga, Nurjaman mengaku hingga saat ini kondusivitas di daerahnya masih terjaga dengan baik. Namun untuk mencegah terjadinya hal yang diharapkan, pihaknya pun akan segera melaporkan hal itu agar aparat penegak hukum segera turun tangan.

Sensen sendiri, tambah dia, selama ini belum pernah datang ke daerah Caringin dan mengadakan pertemuan dengan warga. Namun nama Sensen sudah sangat dikenal di kalangan warga, terutama yang menjadi penganut alirannya.

"Sensennya tak pernah datang ke daerah kami. Selama ini warga yang menjadi pengikutnya yang datang menemui Sensen ke Garut. Nama Sensen memang sudah dikenal sejak lama oleh mereka," ucap Nurjaman.

Sementara itu Ketua MUI Kabupaten Garut, KH A Sirodjul Munir mengaku sangat prihatin dengan berkembangnya kembali ajaran yang mengakui Sensen sebagai rasul itu. Munir juga menyesalkan dengan tata cara salat yang salah menghadap kiblat.

Menurutnya ini fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan sempat tak terdengar aktivitasnya paska kasusnya ditangani secara hukum. Ia pun meminta penegak hukum untuk bertindak cepat melakukan penanganan, terkait aliran sesat yang dianggap telah menisatakan agama itu.

“Jika tidak ajarannya bisa berkembang dan pengikutnya terus bertambah banyak,” kata Munir.(Aep Hendy S)***

Bagikan: