Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sedikit awan, 25.8 ° C

Salat Menghadap ke Timur, Sekeluarga di Garut Kembali Deklarasikan Sensen sebagai Nabi

GARUT, (PR).- Setelah sekian lama tak terdengar, nama Sensen Komara kini kembali menjadi topik pembicaraan hangat di Kabupaten Garut. Ia dijadikan bahan perbincangan kalangan masyarakat dan pemerintahan Garut, setelah ajaran atau aliran yang menganggapnya sebagai nabi muncul kembali.

Kemunculan ajaran Sensen diketahui setelah satu keluarga di wilayah Kecamatan Caringin, mengikrarkan diri sebagai pengikutnya. Selain satu keluarga tersebut, diduga masih ada warga lain yang mengikuti ajaran Sensen.

Ketua MUI Kecamatan Caringin Ahmad Nurjaman, mengungkapkan asal mula munculnya penganut aliran Sensen di wilayahnya. Pada Agustus lalu, pihaknya dan Muspika Caringin mendapatkan surat yang ditulis oleh Hamdani, warga Caringin.

Isi suratnya cukup mengejutkan, yakni meminta izin untuk melaksanakan salat dengan menghadap ke timur. Ahmad pun mengaku telah berupaya menangani kekeliruan aqidah warga ini.

Ia dan sejumlah pihak telah meminta agar Hamdani kembali ke jalan yang benar, sesuai syariah Islam. Belum selesai dengan masalah salat menghadap ke timur, pihaknya kembali dihadapkan dengan persoalan baru.

Pada 20 November 2018 lalu datang lagi sepucuk surat lainnya. Kali ini isinya menyatakan bahwa Sensen adalah rasul.

“Sedang kami tangani kasus salat menghadap ke timur, akan tetapi kemudian muncul lagi permasalahan lainnya. Hamdani dan keluarganya tiba-tiba mendeklarasikan diri menjadi pengikut Sensen dan mereka menganggap Sensen sebagai rasul," ujar Ahmad, Senin 3 Desember 2018.

Diikuti ustadz



Menurut Ahmad, adanya kelompok warga yang menjadi pengikut aliran sesat Sensen di wilayahnya sudah terendus cukup lama. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, aliran itu bukan hanya diikuti oleh warga biasa, seorang ustadz pernah turut serta menjadi anggota.

Ia menambahkan, ustadz bernama Wowo itu tidak hanya mengaku menjadi pengikut sensen. Wowo menyatakan dirinya sebagai Jenderal dalam pemerintahan yang dipimpin Sensen.

Wowo, kata Ahmad, ditangkap dan menjalani hukuman penjara selama tiga tahun pada 2013 lalu. 

"Setelah bebas dari hukuman penjara, Wowo membuat pernyataan dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Mengenai kepribadian dan ketauhidan Wowo secara rinci pascabebas dari penjara, terus terang saya juga kurang mengetahuinya," katanya.

Gangguan kejiwaan



Di tempat terpisah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Garut, Wahyudijaya, juga membenarkan kemunculan kembali kelompok yang menyatakan pengikut Sensen ini. Ia pun mempertanyakan kembali hukuman inkrah kepada Sensen yang disebut-sebut mengalami gangguan jiwa tersebut.

Ia membeberkan, dahulu kasus Sensen itu pernah ditangani secara hukum dan memasuki proses persidangan. Berdasarkan hasil persidangan, Sensen dinyatakan bersalah karena dianggap telah melakukan penistaan agama, dan juga perbuatan makar karena mengaku sebagai Presiden Negara Islam Indonesia (NII).

Namun tambah Wahyu, saat itu Sensen tak bisa dipenjara karena berdasarkan rekomendasi psikiater, Sensen dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan atau gila. Yang menjadi pertanyaan, kalau memang Sensen gila, kenapa hingga saat ini masih ada aktivitas pengikutnya.

"MUI Garut sudah mewacanakan kembali putusan pengadilan kepada Sensen. Kami meminta kepada Bakorpakem (Badan Koodinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) untuk menerbitkan rekomendasi terkait aliran sesat Sensen," ucap Wahyu.(Aep Hendy S)***

Bagikan: