Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 24.9 ° C

Syarif Hidayat, Bocah Pemakan Beling dan Peminum Air Aki

Shofira Hanan

SYARIF Hidayat (13) sekilas tampak seperti bocah laki-laki seusianya. Namun, warga Kampung Bonghas Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Cianjur itu memiliki hobi berbeda dari teman sebayanya.

Memakan pecahan beling, rumput, menghirup aroma bensin, hingga meminum air aki menjadi kebiasaan yang selalu Syarif lakukan. Rutinitas bocah itu tergolong langka dan berbahaya.

“Kebiasaan itu dimulai sejak usianya dua tahun. Awalnya, dia menghirup bensin, lama kelamaan kelakuannya semakin aneh karena mulai memakan beling yang dilihatnya,” ujar sang ayah, Salim (47), Jumat 30 November 2018.

Ia menceritakan, putranya itu sudah dititipkan kepada neneknya sejak usia dua tahun. Hal itu dilakukan karena ibu Syarif Hidayat, yakni Deuis (37) harus bekerja di Singapura. Sementara ayahnya berjualan kopi keliling di sekitar Waduk Jangari menggunakan perahu.

Perilaku aneh putranya itu, membuat Salim khawatir. Jika kebiasaan Syarif Hidayat tidak dituruti, anak itu akan bertindak nekat. Menurut dia, Syarif Hidayat tidak segan membenturkan kepalanya hingga terluka.

“Makanya, terpaksa diberi bensin lagi,” ujar dia singkat.

Salim mengatakan, dalam sehari, putranya bisa menghabiskan bensin yang setara dengan sebotol air mineral ukuran 500 mililiter. Sementara itu, Syarif Hidayat hanya mengonsumsi air aki sesekali saja.

Akan tetapi, untuk pecahan beling, jika tidak dipantau, bisa Syarif Hidayat makan setiap hari apabila menemukannya di manapun.

Apa yang terjadi pada Syarif Hidayat, menurut Bidan Desa setempat, Fiska Apriliani, tidak membuat dia mengalami gangguan kesehatan. Tubuhnya pun normal, tidak terlihat seperti mengidap suatu penyakit.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis di RSUD Sayang, secara kesehatan, fisik dia tidak mengalami penyakit apapun,” ujar Fiska.

Menurut dia, sebenarnya Syarif Hidayat merupakan anak yang mengalami autisme. Bocah itu dinilai memiliki dunianya sendiri karena selama ini dia hanya mengerti ucapan kedua orangtuanya. Tidak heran, jika akhirnya untuk berkomunikasi pun dia kesulitan.

ODMK



Melihat fenomena yang dialami Syarif Hidayat, Komunitas Sehat Jiwa (KSJ) mencoba meluruskan pandangan terhadap bocah itu. Ketua KSJ, Nurhamid mengatakan, Syarif termasuk orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Berbeda dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Nurhamid menjelaskan, ODMK lebih banyak mengalami halusinasi, delusi, atau waham yakni memiliki pikiran yang bertentangan dengan logika.

“Dari pihak RSUD, sudah ada rujukan ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih mendalam. Ada kemungkinan pekan depan dirujuk ke poliklinik jiwa,” ujar Nurhamid.

Menjelang akhir tahun, KSJ menemukan banyak kasus ODGJ maupun ODMK berusia belasan tahun. Rata-rata mengalami gangguan kesehatan mental setelah mendapat perlakuan yang salah ataupun pembiaran perilaku sejak lama.

Di Cianjur, ODGJ masih sering diabaikan proses penyembuhannya. Hal itu terjadi karena faktor ekonomi hingga ketidaktahuan cara penanganan yang tepat.

Oleh karena itu, KSJ berupaya untuk turun membantu agar ODGJ mendapatkan bantuan yang tepat.***

Bagikan: