Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Cerah berkabut, 25.1 ° C

Menaker Ingin Cevest Bisa Gaet Kerja Sama dengan Pixar dan Disney

Riesty Yusnilaningsih
PERESMIAN Creative Room produksi animasi dan games di BBLK Cevest Bekasi, Jumat, 16 November 2018.*
PERESMIAN Creative Room produksi animasi dan games di BBLK Cevest Bekasi, Jumat, 16 November 2018.*

BEKASI, (PR).- Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengincar Disney dan Pixar bisa digandeng bekerja sama dengan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (Cevest) Bekasi yang kini sudah menelurkan tenaga-tenaga andal di bidang animasi dan games.

"Tidak perlu banyak-banyak perusahaan yang digandeng bekerja sama. Cukup dua saja, yakni Disney dan Pixar," ucap Hanif di sela peresmian Creative Room produksi animasi dan games di BBLK Cevest Bekasi, Jumat, 16 November 2018.

Keinginan tersebut dirasa Hanif tidaklah mengada-ngada. Sebab sejumlah karya Disney dan Pixar yang sukses semisal Minion, ternyata ada kontribusi dari animator Indonesia.

"Itu berarti animator Indonesia memiliki kualitas yang bisa bersaing di skala internasional. Bibit-bibit animator yang dilatih di Cevest ini juga berarti bisa diasah terus hingga keterampilannya bisa sesuai dengan kebutuhan pasar internasional," ucapnya.

Hanif mencontohkan, kerja sama yang dapat dilakukan dengan kedua perusahaan animasi besar tersebut misalnya dengan berbagi pembuatan scene-scene animasi film yang tengah diproduksi.

Hanif meyakini potensi lulusan pelatihan animasi BBLK Cevest mumpuni untuk hal tersebut setelah menyaksikan langsung karya perdana siswa pelatihan berjudul "Nano, Millenial Force".

"Teknik produksinya sudah baik, kualitas gambar dan gerak karakternya juga baik. Selebihnya, semisal konten cerita bisa disesuaikan lagi saat dikembangkan," ucapnya.

Pada tahap awal, ada 256 peserta pelatihan animasi. Selanjutnya, Hanif berharap pelatihan tersebut bisa diikuti secara massal dengan peserta lebih banyak. Setidaknya hingga 2.000 peserta mulai tahun depan.

"Bukannya apa-apa, saya ingin ini jadi pelatihan berskala massal karena industri animasi menawarkan pasar yang sangat luas juga potensial saat ini. Kebutuhan itu harus bisa dijawab sumber daya manusia Indonesia. Bagi mereka yang berminat tapi tidak memiliki biaya cukup untuk menempuh pendidikan animasi di sekolah atau kampus, mereka bisa datang ke Cevest karena pelatihannya gratis, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Sebab pelatihan semacam ini merupakan bentuk fasilitasi pemerintah dalam menciptakan sumber daya terampil," ucapnya.

Dibukanya pelatihan animasi di BBLK Cevest, disebut Hanif sebagai langkah 'upgrading' terhadap balai pelatihan milik pemerintah. Pelatihan di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang semula diberikan di BBLK Cevest, dikembangkan menjadi pelatihan animasi dan games dan diharapkan menjadi andalan baru.

"Selain di Bekasi, BBLK di Semarang juga sudah kami upgrade dari semula fokus pelatihan menjahit, kini dikembangkan pada pelatihan menghasilkan fashion designer," katanya.

Upgrading seperti ini, dirasa Hanif penting karena kebutuhan dari perkembangan zaman juga kian kompleks. Tanpa meningkatkan kapasitas dan keterampilan yang dikuasai, maka sumber daya manusia akan tergilas persaingan yang kian ketat.***

Bagikan: