Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Cerah berawan, 29 ° C

Masyarakat Tak Perlu Emosional Tanggapi Video Pembakaran Bendera Tauhid

Dhita Seftiawan

JAKARTA, (PR).- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Sa'adi meminta masyarakat tidak emosional menanghapi viralnya video pembakaran bendara bertuliskan kalima tauhid di Garut. Menurut dia, polemik tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dan memicu gesekan antargolongan.

"Pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang mirip bendera ormas HTI oleh anggota Banser tidak perlu dibesar-besarkan dan dijadikan polemik. Ketua Umum GP Absor telah memberikan penjelasan alasan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh anggotanya, karena semata untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya," kata Zainut di Jakarta, Senin 22 Oktober 2018.

Ia menjelaskan, tanggapan secara emosional dengan menggunakan kata-kata yang kasar seperti melaknat, mengatakan biadab dan menuduh seperti PKI dapat menimbulkan masalah baru.

"Karena hal tersebut dapat menimbulkan ketersinggungan kelompok yang dapat memicu konflik internal umat beragama," katanya.

MUI meminta kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing, dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin mengadu domba dan memecah-belah bangsa Indonesia.

"MUI menengarai ada kelompok tertentu yang ingin Indonesia pecah dan umat Islam tercerai berai. Untuk hal tersebut kami mengimbau kepada semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan tetap menjaga persaudaraan, agar terhindar dari finah dan perpecahan," ujarnya.

Tiga pelaku



Polres Garut telah mengamankan tiga pelaku yang diduga melakukan aksi pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tahuid saat perayaan Hari Santri Nasional, Senin 22 Oktober 2018 di Alun-alun kecamatan Limbangan.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, tiga pelaku yang diduga melakukan pembakaran bendera tauhid sudah diamankan tetapi statusnya masih sebagai saksi. Dia menuturkan, kepolisian akan mulai menyelidiki kasus yang menggemparkan dan mencoreng perayaan Hari Santri Nasional tersebut.

"Sifatnya baru sebatas klarifikasi, sejauh mana peristiwa itu terjadi, tapi akan didalami lagi. Bisa saja pembakaran (bendera) itu sifatnya spontanitas," ujarnya di Limbangan, Selasa 23 Oktober 2018.

Selain ketiga pelaku yang diamankan, Polres Garut masih mencari satu orang lagi yang diduga sebagai pembawa bendera tauhid.

“Terhadap pelaku pembakaran, kami akan coba proses secara ketentuan hukum yang berlaku. Untuk yang membawa bendera, ada satu yang coba didatangi. Kebetulan tak jauh dari sini (Limbangan) sekitar 15 km. Secepatnya akan kami sampaikan kalau sudah diamankan," tuturnya.

Budi menuturkan, Polres Garut akan bergerak cepat dalam mengusut kasus pembakaran bendera tauhid tersebut. Dia menilai, jika kasus itu tidak segera ditangani, akan menimbulkan konflik sosial di masyarakat dan berujung pada perpecahan nantinya.

"Makanya supaya jelas, harus diketahui dulu motifnya seperti apa," tuturnya.

Aksi pembakaran bendera tauhid yang terjadi di Limbangan menggegerkan masyarakat. Video yang memperlihatkan sejumlah orang melakukan aksi pembakaran bendera tauhid dalam perayaan Hari Santri Nasional viral di dunia maya.***

Bagikan: