Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Jagakali International Art Festival #7, Isu Lingkungan dalam Balutan Seni

Ani Nunung Aryani
PINTU lengkung dari bambu menjadi pembatas arena bazar UMKM dengan arena lainnya di “Jagakali International Art Festival #7” yang digelar di bantaran Sungai Pacit, Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon, selama tiga hari, Jumat-Minggu, 19-21 Oktober 2018.*
PINTU lengkung dari bambu menjadi pembatas arena bazar UMKM dengan arena lainnya di “Jagakali International Art Festival #7” yang digelar di bantaran Sungai Pacit, Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon, selama tiga hari, Jumat-Minggu, 19-21 Oktober 2018.*

KERJA keras relawan, aktivis lingkungan, dan seniman yang tergabung dalam Sinau Art serta warga Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon, yang tinggal sekitar Sungai Pacit, terbayar lunas.

Bantaran kanan kiri Kali Pacit yang semula berupa semak belukar dan kebun bambu, menjelma menjadi arena pameran dan panggung hiburan perhelatan “Jagakali International Art Festival #7”.

Festival tahunan yang digelar komunitas Sinau Art, selama tiga hari Jumat-Minggu, 19-21 Oktober 2018, menampilkan sejumlah pagelaran seni, kirab budaya, lapak pustaka, fun games dan dolanan, serta bazar sejumlah produk UMKM dan pameran yang diikuti puluhan komunitas peduli sungai dari sejumlah wilayah di Jawa dan Maluku.

Menurut Founder Jagakali International Art Festival, Nico Broer Permadi, ajang tahunan yang sudah digelar tujuh kali ini, sebenarnya merupakan kegiatan penyelamatan dan kepedulian lingkungan yang dikemas dalam balutan seni dan budaya.

“Kalau kegiatan penyelamatan dan peduli lingkungan digelar di ruangan saja dengan memberikan materi berlembar-lembar, orang kan jenuh dan bosan. Makanya kami berinisiatif menggelar kegiatan seperti ini yang murni swadaya," katanya seusai pembukaan kegiatan pameran komunitas peduli sungai, Jumat, 19 Oktober 2018.

Tahun-tahun sebelumnya, dia menuturkan, ajang festival hanya menggunakan nama Jagakali Art Festival saja. Namun tahun 2018 kali ini, ditambahkan nama ‘International’ karena mengundang juga tamu-tamu dari berbagai negara untuk menampilkan kesenian dan budayanya.

“Ada utusan dari Korea, Amerika, Filipina,  Kroasia dan Meksiko,” tuturnya.

Target dari ajang yang lokasinya selalu berpindah-pindah namun tidak jauh dari sungai atau situ, menurut Nico, adalah untuk membangkitkan kesadaran warga sekitar kalau kita menjaga lingkungan, lingkungan pun akan menjaga kota dan memberikan manfaat secara ekonomi.

“Event ini sebenarnya hanya triger saja. Kami hanya ingin memperlihatkan, cara memanfaatkan lingkungan agar bisa memberikan nilai ekonomi, tanpa harus merusaknya, dan dengan dana seadanya,“ katanya.

Menurut Nico, kalau semua harus dibayar dengan uang,  perhelatan selama tiga hari ini, bisa menghabiskan anggaran sampai Rp 700 juta.

Namun karena kekuatan ikatan kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan, semua relawan dan warga bekerja tanpa pamrih, bahkan ikut menyumbang dana.

“Kami hanya menghabiskan anggaran tidak lebih dari Rp 40 juga untuk menggelar event berskala besar ini, “ katanya.

Memanfaatkan alam



Untuk menghemat anggaran, panitia memaksimalkan sumber daya yang ada dan benda apapun yang ditemukan di bantaran sungai yang dipenuhi tanaman bambu, untuk dekorasi arena dan panggung.

Misalnya lengkungan pintu masuk arena dan jembatan penghubung antararena di kanan kiri bantaran sungai, memanfaatkan bambu. Empat pohon besar menaungi salah satu panggung, yang memanfaatkan sebagian dasar sungai kali pacit yang kering.

Dasar sungai dari batu cadas yang rata seakan sengaja menyediakan diri untuk dimanfaatkan menjadi panggung acara.

Aliran kecil air sungai dari bagian atas, membelah batu cadas dan menciptakan air terjun mini di sisi panggung, memperdengarkan suara gemericik air.

Menurut Nico, lingkungan dan seni itu dua Hal yang tidak bisa dipisahkan. “Apalagi keduanya juga mengasah rasa dan nutani serta memancarkan keindahan, “ tukasnya.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS Cimancis) Happy Mulya yang membuka pameran yang diikuti puluhan komunitas peduli sungai sangat mengapresiasi, even tersebut.

Menurut dia, ajang jagakali sejalan dengan program BBWS dalam ikut menjaga dan memelihara sungai.

“Kebetulan BBWS juga memiliki program tahunan yakni pameran yang mengakomodir produk-produk komunitas peduli sungai. Akhirnya kegiatan kami disinergikan dengan Jagakali International Art Festival ini, “ katanya.

Tokoh masyarakat Kalijaga, Mansur mengungkapkan kekagumannya atas perubahan drastis pemandangan pinggir kali yang hampir setiap hari dilewatinya.

“Ternyata bantaran kali yang selama ini kami pungungi dan kami pandang sebelah mata, ternyata indah dan memiliki nilai jual juga, “ katanya sumringah.***

Bagikan: