Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Gua Tak Berujung Pamarican, Potensi Wisata Baru Ciamis

Nurhandoko
BEBERAPA warga terlihat takjub dan mengabadikan panorama stalakmit yang terdapat di dalam gua di Blok Malabar, Desa Sidamulih, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Gua yang yang berada di wilayah pegunungan kapur itu, selama ini dikenal dengan sebutan Gua Tak Berujung,*
BEBERAPA warga terlihat takjub dan mengabadikan panorama stalakmit yang terdapat di dalam gua di Blok Malabar, Desa Sidamulih, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Gua yang yang berada di wilayah pegunungan kapur itu, selama ini dikenal dengan sebutan Gua Tak Berujung,*

CIAMIS,(PR).- Kawasan tatar galuh Ciamis sebagian di antaranya berupa pegunungan kapur. Sampai saat ini, masih banyak gua-gua yang belum dikenali, bahkan belum pernah dijelajahi.

Salah satu gua yang belakangan tengah menjadi perbincangan yakni Gua Tak Berujung di Blok Malabar, Desa Sidamulih, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.

Selain disebut dengan Gua Tak Berujung, karena belum pernah ada yang berhasil mencapai ujung gua, ada pula yang menyebutnya dengan Gua Barokalah. Gua yang terdapat di lahan milik Suhada (85), lokasinya juga tidak jauh dari Pesantren Hidayah. Bahkan ada yang menyebut dengan Gua Lalay, karena dulunya menjadi sarang kalelawar berukuran kecil.

Berdasar pantauan "PR", Gua Tak Berujung memiliki pintu masuk gua yang cukup labar, namun tidak begitu tinggi. Beberapa langkah memasuki gua, pengunjung langsung disuguhi stalaktit, bebatuan kapur berbentuk lancip dengan ujungnya mengarah ke bawah, hasil proses jutaan tahun.

Ujung staklakit yang runcing-runcing, terasa lebih dingin. Hal ini menandakan proses pembentukan masih terus berlangsung. Sedangkan stalakmit yang biasanya berada di bawah stalaktit, jumlahnya tidak begitu banyak.

Selain stalaktik, banyak pula ornamen batuan alami lainnya yang menempel di dinding gua. Ini memperlihatkan alur pembentukan batuan kapur tersebut. 

Masuk lebih dalam, eksotisme gua tampak lebih mengagumkan lagi. Hingga saat ini, gua tersebut belum diketahui ujungnya.

 

Ketinggian lorong di dalam gua juga beragam, bahkan beberapa di antaranya tidak begitu tinggi. Sehingga ketika hendak dilalui, badan harus membungkuk. Beberapa cabang juga ditemukan di dalam gua. Semakin masuk ke dalam cahaya semakin kurang bahkan gelap.

Menembus laut selatan



Cerita yang berkembang, sampai saat ini belum pernah ada orang yang menemukan ujung gua. Beberapa warga pernah mencoba masuk dengan membawa obor untuk penerangan. Akan tetapi, karena semakin ke dalam terdapat lorong gua yang menyempit, mereka terpaksa balik lagi.

Saking panjangnya gua, beberapa cerita menyebut bahwa ujung gua menembus laut selatan di wilayah Pangandaran. Akan tetapi yang lain memercayai ujung gua tersebut sampai ke tanah suci. Selain itu gua diyakini menjadi petilasan salah satu tokoh penyebar agama Islam Syekh Subakir.

“waktu masih muda, saya pernah mencoba masuk ke dalam menyusuri gua. Akan tetapi sampai seharian belum ketemu ujungnya, padahal sudah habis sembilan obor. Karena kehabisan bekal dan obor, akhirnya balik lagi,” tutur Suhada.

Dia mengungkapkan beberapa pengunjung juga pernah mencoba masuk ke dalam, akan tetapi sampai saat ini belum ada satu pun yang berhasil mencapai ujung. Suhada juga tidak keberatan apabila gua tersebut menjadi objek wisata yang dikelola Pesantren Al-Hidayah.

“Tentunya keasrian gua harus tetap dijaga. Selain itu juga tidak boleh untuk kegiatan yang menyimpang agama,” ujarnya.

Sementara itu pengasuh Pesatren Nurul Hidyah Cici Handritin juga mengungkapkan, gua tersebut pernah disinggahi tokoh penyebar agama Islam, Syeh Subakir, yang merupakan guru dari Syekh Abdul Muhyi.

"Kami selalu menekanan pada pengunjung agar tidak memanfaatkan gua untuk kemusyrikan. Kami juga selalu menekankan pengunjung agar selalu menaati peraturan, serta menjaga keasriannya. Kami juga mendukung apabila gua ini juga menjadi salah satu objek wisata,” tuturnya.***

Bagikan: