Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Bencana Palu Bisa Terjadi di Bandung, Ini Penyebabnya

WARGA melintas di area lokasi terkena gempa di Petabo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Daerah tersebut merupakan salah satu lokasi terparah akibat gempa di Palu dan petugas kesulitan menjangkaunya akibat reruntuhan bangunan dan jalan yang rusak.*
WARGA melintas di area lokasi terkena gempa di Petabo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Daerah tersebut merupakan salah satu lokasi terparah akibat gempa di Palu dan petugas kesulitan menjangkaunya akibat reruntuhan bangunan dan jalan yang rusak.*

BANDUNG, (PR).- Bencana gempa bumi dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada September lalu telah merenggut ribuan nyawa. Meski berbeda pulau dan berjarak cukup berjauhan, bencana serupa bisa pula terjadi di Bandung, Jawa Barat.

Hal tersebut diungkapkan Budayawan T Bachtiar, saat menjadi narasumber dalam acara “Workshop Memperkuat Pendidikan Mitigasi Bencana Gempa Bumi Bagi Guru Pembina EKstrakurikuler Serta Guru Sekolah Dasar” di Hotel Oases Jalan Lombok, Bandung, Rabu 17 Oktober 2017.

Ia mengatakan Gempa berkekuatan 6,5 hingga 7 magnitudo dapat saja terjadi di wilayah cekungan Bandung. Likuifaksi atau pencairan tanah adalah fenomena yang terjadi ketika suatu wilayah telah mengalami perendaman air dalam waktu yang lama, hingga membuat laposan tanah di bawahnya mengalami pengendapan dan menjadi lumpur.

Meski tanah memiliki keterikatan dan kekuatan, namun kedua hal itu bisa hilang diakibatkan oleh terjadinya tegangan seperti gempa bumi. Dia menuturkan, wilayah Bandung memiliki cekungan yang dalam waktu ribuan tahun tergenang oleh air.

Inilah yang membuat potensi gempa bumi yang mengguncang Palu bisa terjadi di Bandung.

“Bisa dibayangkan dasar cekungan Bandung ini sejak 105.000-16.000 tahun yang lalu tergenang, selama tergenang itu mengendap, lumpur dan terus mengendap. Itu ada yang 100 meter ketebalannya, ada yang 75 meter dan itu jenuh air. Jadi ketika ada goyangan kekuatan goyangan dari gempanya bisa saja naik”, tuturnya.

Ancaman gempa memang harus diwaspadai, karena akan berdampak pada bangunan-bangunan di atas tanah yang terendam air selama ribuan tahun.

“Walaupun tanah tersebut ikatannya masih kuat, tapi begitu dikocok atau digoyang ikatannya akan tercerai berai. Kalau ikatannya tercerai berai tekanannya akan pindah ke atas, sehingga lapisan yang dibawah tidak akan kuat, karena hal ini maka kekuatan gempa bisa semakin meningkat dan akan berdampak pada bangunan-bangunan yang ada diatasnya seperti bangunan bertingkat, jalan-jalan dan semuanya akan terdampak”, katanya.

Dikepung



Dia menyebut ada beberapa wilayah di Bandung yang memiliki potensi besar dan memiliki dampak cukup riskan jika terjadi gempa. Wilayah tersebut diantaranya adalah jalan Merdeka serta Rumah Sakit Sariningsih.

Kedua wilayah tersebut merupakan wilayah 0 meter pantai danau di cekungan Bandung.

“Jalan Merdeka dan Rumah Sakit Sariningsih jadi yang paling rawan karena berada di titik 0 meter, lalu menuju ke arah selatan seperti Bandung Indah Plaza (BIP) itu 2 meter, lalu Balai Kota 4 meter. Jadi semakin dalam tergenangnya, tebal endapannya makin tinggi, nah itu yang paling riskan dan paling rawan”, ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi cekungan Bandung dikelilingi oleh sesar-sesar turut membuat kondisi ibu kota Provinsi Jawa Barat ini rawan terjadi gempa bumi, karena terdapat patahan-patahan seperti yang membentang dari Lembang bahkan hingga ke Cicalengka dan Jatinangor.

“Gempa tersebut bisa berasal dari sesar lembang atau dari sesar-sesar lain seperti yang ke arah Cicalengka, Jatinangor, dari Banjaran, itu kan panjang-panjang. Belum lagi masih banyak sesar-sesar yang belum diteliti rinci seperti sesar lembang, jadi cekungan Bandung itu dikepung, dari semua sudut arah mata angin itu sesar semua”, ujarnya.(Abdul Muhaemin)***

 

Bagikan: